Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mendukung pembangunan berkelanjutan. Meskipun hanya menutupi sebagian kecil wilayah pesisir dunia, mangrove menyediakan berbagai jasa ekosistem yang sangat penting, mulai dari melindungi garis pantai dari abrasi dan gelombang ekstrem, menjadi habitat berbagai jenis flora dan fauna, hingga menjaga kualitas perairan melalui proses penyaringan sedimen. Selain itu, mangrove juga berfungsi sebagai salah satu penyerap karbon alami (carbon sink) yang paling efektif, dengan kemampuan menyimpan karbon dalam biomassa dan tanahnya selama puluhan hingga ratusan tahun.
Di tengah meningkatnya dampak perubahan iklim, keberadaan mangrove menjadi semakin penting. Namun demikian, berbagai laporan menunjukkan bahwa ekosistem mangrove menghadapi ancaman yang serius akibat alih fungsi lahan, pembangunan kawasan pesisir, pencemaran, serta perubahan iklim. Jika tidak dikelola secara berkelanjutan, ancaman tersebut berpotensi mengurangi fungsi ekologis mangrove dalam melindungi wilayah pesisir sekaligus menurunkan kapasitasnya dalam menyerap karbon.
Konservasi mangrove tidak dapat dilakukan hanya melalui upaya rehabilitasi, tetapi juga memerlukan dukungan riset, inovasi, dan kolaborasi multipihak. Pendekatan berbasis sains diperlukan untuk menghasilkan data dan rekomendasi yang mampu mendukung perencanaan, pengelolaan, serta kebijakan konservasi yang lebih efektif. Dalam konteks ini, perguruan tinggi memiliki peran penting sebagai penghasil pengetahuan, pengembang teknologi, sekaligus mitra pemerintah dan masyarakat dalam mendorong pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan.
Universitas Gadjah Mada (UGM) secara konsisten berkontribusi dalam penguatan konservasi mangrove melalui penelitian mengenai ekologi mangrove, potensi blue carbon, dinamika biota pesisir, hingga model pengelolaan berkelanjutan. Selain menghasilkan inovasi berbasis riset, UGM juga membangun kolaborasi dengan kementerian, lembaga penelitian, organisasi lingkungan, dan masyarakat melalui pelatihan, workshop, serta kegiatan rehabilitasi mangrove di berbagai wilayah pesisir. Upaya tersebut mencerminkan komitmen UGM dalam mendukung pengelolaan ekosistem mangrove yang berbasis ilmu pengetahuan sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Peringatan Hari Internasional Konservasi Ekosistem Mangrove setiap 26 Juli menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa pelestarian mangrove merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan pesisir, perlindungan keanekaragaman hayati, serta mitigasi perubahan iklim. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan ekosistem mangrove bagi generasi mendatang.



