Peraih Nobel Perdamaian 2014, Kailash Satyarthi, mengajak Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan pengalaman Kuliah Kerja Nyata (KKN) menjadi pembelajaran yang dapat dibagikan ke dunia. Ajakan ini disampaikan dalam UGM Annual Lecture Nobel Laureate Series bertajuk “Global Leadership for Humanity: Advancing Impactful Community Engagement” di Balai Senat UGM, Jumat (21/8). Acara ini diselenggarakan Biro Manajemen Strategis bersama Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPkM) dan Direktorat Kemitraan dan Relasi Global (DKRG) UGM, atas dukungan Bank Mayapada dan Yayasan UGM.
Dalam paparannya, Kailash menilai dunia saat ini sudah dipenuhi pengetahuan, data, hukum, dan lembaga internasional, namun tetap bergulat dengan keterpecahan dan kesulitan manusia untuk hidup berdampingan. Ia menyebut KKN sebagai salah satu wujud cahaya penuntun di tengah situasi sulit, karena memosisikan mahasiswa sebagai mitra masyarakat, bukan penolong. Ia turut membagikan tiga prinsip yang disebutnya 3D, yakni dream, discover, dan do. Prinsip tersebut menjelaskan bagaimana agar suatu perubahan bisa terwujud, serta sebagai kerangka mendorong seseorang untuk berani bermimpi besar dan bertindak nyata bagi keluarga, universitas, bangsa, hingga masyarakat dunia.
Kerangka itu ia kaitkan dengan pengalaman masa kecilnya, saat menyaksikan seorang anak dari keluarga miskin yang tidak bisa bersekolah karena orang tuanya tidak mampu membeli buku dan membayar biaya sekolah. Dari sana, bersama teman-temannya, ia mulai mengumpulkan buku dari masyarakat untuk dibagikan kepada anak-anak yang membutuhkan, yang kemudian dikenal sebagai book bank dan menjadi cikal bakal Global March Against Child Labour serta Global Campaign for Education. Baginya, keberhasilan sebuah program pengabdian tidak cukup diukur dari jumlah penerima manfaat, melainkan juga dari lahirnya pemimpin baru di masyarakat. Ia menyebut compassion atau welas asih sebagai kekuatan pendorong perubahan berkelanjutan.



Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menegaskan tiga prinsip dasar pengabdian dalam KKN-PPM, yaitu kehadiran, responsivitas, dan keberlanjutan, termasuk lewat KKN Peduli Bencana. Sejumlah tokoh lain turut memberi pandangan senada, di antaranya Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno yang membagikan pengalaman KKN di desa terpencil Jawa Tengah, Duta Besar Indonesia untuk Norwegia Todung Mulya Lubis yang menegaskan KKN sebagai bentuk tanggung jawab sosial, serta pendiri Mayapada Dato’ Sri Tahir yang menyoroti pendidikan sebagai kunci keadilan sosial.
Dokumentasi: BMS & Humas UGM
Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/kailash-satyarthi-ajak-ugm-bawa-kkn-ke-kancah-global/