Universitas Gadjah Mada menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan U25 Leaders Forum PTN-BH pada Kamis (30/7) di Balai Senat UGM. Mengangkat tema “Mewujudkan Pendidikan Tinggi yang Inklusif dan Antikekerasan: Memperkuat Aksesibilitas, Kesejahteraan, dan Kesempatan yang Setara,” forum ini mempertemukan pimpinan perguruan tinggi, pemerintah, serta para pemangku kepentingan untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif, aman, sehat, dan berdampak. Forum ini menjadi ruang kolaborasi untuk merumuskan langkah nyata dalam menghadapi tantangan pendidikan tinggi sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi.
Dalam sambutannya, Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D. menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas melalui ekosistem yang inklusif dan adaptif. Sejalan dengan itu, Ketua Forum U25 sekaligus Rektor Universitas Indonesia, Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU., menekankan bahwa Forum U25 harus menjadi pijakan strategis yang mampu melahirkan kebijakan dan aksi nyata, bukan sekadar ruang diskusi, sehingga dapat memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab berbagai tantangan nasional.
Rangkaian forum menghadirkan sejumlah keynote speaker dan panelis dari pemerintah maupun perguruan tinggi yang membahas pentingnya membangun budaya kampus yang aman, setara, dan menghormati martabat setiap individu. Berbagai perspektif disampaikan, mulai dari pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam transformasi pendidikan tinggi, penguatan kebijakan pencegahan dan penanganan kekerasan, pengembangan kampus yang inklusif bagi seluruh sivitas akademika, hingga penyediaan layanan kesehatan mental dan penguatan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Seluruh pembahasan tersebut menegaskan bahwa inklusivitas tidak hanya berkaitan dengan akses, tetapi juga memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan berkontribusi secara optimal.
Salah satu hasil penting forum ini adalah penegasan komitmen bersama melalui pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Inklusivitas dan Antikekerasan sebagai langkah konkret untuk mendorong implementasi pendidikan tinggi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Pokja ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi antarpimpinan perguruan tinggi dalam mengembangkan kebijakan, berbagi praktik baik, serta memperkuat budaya kampus yang menghormati keberagaman, menjunjung kesejahteraan, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan cinderamata kepada moderator dan para panelis, dilanjutkan sesi foto bersama di depan Balairung UGM. Momentum ini diharapkan semakin memperkuat sinergi antarpemangku kepentingan dalam mewujudkan pendidikan tinggi Indonesia yang inklusif, aman, dan berkelanjutan, sekaligus menegaskan komitmen Biro Manajemen Strategis UGM dalam mendukung pengembangan kebijakan strategis yang berorientasi pada peningkatan mutu dan tata kelola perguruan tinggi.






