• Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Profil
    • Struktur Biro
    • Visi dan Misi
    • Kontak
  • Kegiatan
    • Wanagama Nusantara
    • Forum Diskusi Ilmiah
    • Kajian
    • SDGS
  • PUAPT UGM
    • Tentang
    • Working Group Food Security
    • Working Group Health Autonomy
  • UGM Campus Tour
  • Galeri
  • Beranda
  • Kajian
Arsip:

Kajian

Hari Kartini: Habis Gelap Terbitlah Terang

Kajian Selasa, 21 April 2026

Perjuangan kesetaraan bukanlah sekadar catatan sejarah yang usang dimakan zaman. Di era modern ini, spirit yang ditinggalkan oleh R.A. Kartini lebih dari seabad lalu tetap relevan dan terus menyala. Menilik kembali sejarah dan menghadapi isu emansipasi masa kini menjadi langkah penting bagi kita untuk memastikan bahwa “Habis Gelap Terbitlah Terang” bukan sekadar kiasan, melainkan realitas yang terus diwujudkan.

Keluar dari Kegelapan

Pada era kolonial, pendidikan bagi kaum perempuan ibarat lorong gelap tanpa lentera. Perempuan cenderung dipaksa hanya untuk melayani dan tidak ada akses untuk berkembang, apalagi untuk bersuara. R.A. Kartini hadir mendobrak batasan tersebut melalui pemikiran kritisnya. Korespondensi surat-suratnya yang kemudian dibukukan sebagai Door Duisternis tot Licht atau “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang menjadi tonggak sejarah. Semangat Kartini menjadi simbol perjuangan hak untuk belajar, berpikir kritis, dan pada akhirnya membuka jalan panjang bagi generasi perempuan Indonesia hingga hari ini.

Emansipasi & Kesetaraan

Emansipasi adalah tentang persamaan hak dan kesetaraan gender dalam segala aspek kehidupan. Seperti yang dikemukakan oleh Mustikawati (2015), berkat perjuangan tersebut, wanita saat ini mampu mengenyam pendidikan yang setara dengan laki-laki. Pendidikan harus dimaknai bukan sekadar untuk meraih gelar, melainkan sebagai alat mendasar untuk memanusiakan perempuan dan memberikan otonomi penuh atas dirinya sendiri.

Tantangan yang Belum Usai

Meski akses pendidikan kian terbuka lebar, perjuangan emansipasi nyatanya belum benar-benar usai. Generasi masa kini dihadapkan pada bentuk-bentuk rintangan baru yang lebih kompleks:

  •  Glass Ceiling Sebuah hambatan tak terlihat yang terbentuk dari bias dan stereotip di masyarakat. Hambatan ini sering kali membatasi perempuan untuk menembus posisi-posisi kepemimpinan tertinggi di berbagai sektor.
  • Beban Ganda Ketika perempuan memutuskan untuk berkarier, mereka kerap dituntut untuk berprestasi secara profesional sekaligus harus memikul tanggung jawab domestik (rumah tangga) secara tidak proporsional dibandingkan laki-laki.
  • Kebutuhan Perubahan Sistemik Emansipasi modern tidak lagi hanya menuntut keberanian individu, melainkan menuntut perubahan kebijakan dan budaya kerja secara menyeluruh agar lingkungan menjadi benar-benar setara dan inklusif.
  • read more

    Leading with Understanding: Memimpin dengan Empati

    Kajian Sabtu, 18 April 2026

    Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan dan pengalaman orang lain. Bagi seorang pemimpin, keterampilan ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah Core Leadership (keterampilan kepemimpinan inti).

    Mengapa demikian? Empati memungkinkan pemimpin untuk melihat berbagai situasi dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini membangun rasa saling percaya dan menjaga sisi manusiawi di dalam tim. Ketika anggota tim merasa didengar dan dipahami, komunikasi menjadi jauh lebih terbuka, dan proses pengambilan keputusan pun berjalan lebih efektif. read more

    Hari Perempuan Sedunia: Perempuan Berdaya, Pendidikan Bermakna, Masa Depan Setara

    Kajian Senin, 9 Maret 2026

    Setiap 8 Maret, dunia memperingati International Women’s Day (IWD) sebagai momentum untuk merayakan kontribusi perempuan sekaligus merefleksikan bahwa kesetaraan gender adalah fondasi utama bagi kemajuan peradaban. Dalam mewujudkan masa depan yang setara, pendidikan memiliki peran yang sangat strategis. Namun, akses pendidikan harus selalu dibarengi dengan ruang yang aman, penghormatan, dan dukungan nyata agar perempuan dapat belajar, berekspresi, dan berkembang tanpa rasa takut terhadap diskriminasi maupun kekerasan berbasis gender. read more

    Kolaborasi Kuat, Kepemimpinan Hebat

    Kajian Senin, 2 Maret 2026

    Dalam ekosistem organisasi modern, kolaborasi merupakan elemen fundamental yang menentukan tingkat kesuksesan dan keberlanjutan suatu institusi. Meskipun demikian, praktik kolaborasi yang ideal sering kali masih menjadi tantangan nyata di lapangan. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Harvard Business Review (HBR) mengungkapkan bahwa 39% karyawan merasa organisasi mereka tidak memiliki tingkat kolaborasi yang memadai. Data tersebut mengindikasikan bahwa masih banyak figur pemimpin berbakat yang belum mengintegrasikan nilai-nilai kolaborasi sebagai bagian esensial dari gaya kepemimpinan mereka. Tantangan struktural utama yang sering menghambat proses ini meliputi kecenderungan antar-divisi untuk bekerja secara terpisah (67%), ketiadaan visi kolaboratif (32%), serta kuatnya senioritas dalam proses pengambilan keputusan (32%).

    Membangun budaya kolaboratif menuntut transformasi personal dari seorang pemimpin. Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan seorang pemimpin mengalami kesulitan dalam membangun kolaborasi yang efektif dengan timnya. Sering kali, pemimpin bersikap terlalu kompetitif dan memiliki ketakutan akan kehilangan sorotan (spotlight) atau pencapaian individual. Selain itu, tidak sedikit dari mereka yang lebih terbiasa menggunakan otoritas “posisi” dibandingkan membuka ruang “diskusi” yang setara. Kesulitan ini juga kerap diperparah oleh orientasi yang terlalu eksklusif pada hasil sehingga mengorbankan relasi, krisis kepercayaan dalam membangun hubungan tim, serta secara mendasar karena kurangnya keterampilan kolaborasi yang memadai.

    Perubahan budaya organisasi yang kolaboratif mutlak harus diinisiasi dari tingkat kepemimpinan. Untuk mencapai hal tersebut, seorang pemimpin perlu melakukan transformasi pola pikir (mindset) menjadi seorang kolaborator sejati yang mampu menghargai orang lain secara adil. Pemimpin dituntut untuk menjadi individu yang dapat diandalkan, konsisten dalam berbuat baik, serta senantiasa menjadikan hubungan dan kepercayaan sebagai prioritas utama. Lebih jauh lagi, transformasi ini memerlukan kesediaan pemimpin untuk menurunkan ego dengan menjadi pendengar yang aktif, berani mendistribusikan spotlight dan meminta saran dari orang lain, serta selalu mengedepankan pendekatan empati dibandingkan dominasi kekuasaan.

    Menanggapi urgensi dari kompetensi kepemimpinan masa depan tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) secara proaktif mengambil peran dalam membangun ekosistem pendidikan yang berorientasi pada kolaborasi. Komitmen ini diwujudkan melalui penerapan kurikulum yang integratif dan lintas disiplin ilmu. Di samping itu, UGM juga memprioritaskan penguatan soft skills mahasiswa seperti kemampuan kerja sama tim, komunikasi efektif, dan kecerdasan emosional serta mendorong ekosistem kolaborasi riset dan proyek yang bersinergi langsung dengan sektor industri, pemerintah, maupun komunitas masyarakat.

    Bersatu Bersama Kelola Sampah: Refleksi Hari Peduli Sampah Nasional

    Kajiansdgs Sabtu, 21 Februari 2026

    Setiap tanggal 21 Februari, Indonesia memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) sebagai momentum penting untuk meningkatkan kesadaran bersama akan pengelolaan sampah yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Peringatan ini tidak sekadar seremoni, melainkan refleksi atas tragedi longsor sampah di Leuwigajah, Cimahi, pada tahun 2005, yang menelan banyak korban jiwa dan menjadi pengingat pahit bahwa sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat berujung pada bencana kemanusiaan.

    Sampah kerap dipandang sebagai persoalan sepele, padahal dampaknya sangat luas. Penumpukan dan pengelolaan sampah yang buruk dapat menyebabkan pencemaran tanah dan air, memicu gangguan kesehatan, meningkatkan emisi gas rumah kaca, serta memperbesar risiko bencana lingkungan. Oleh karena itu, sampah bukan hanya persoalan lingkungan semata, tetapi juga berkaitan erat dengan dimensi sosial dan kesehatan masyarakat.

    Kesadaran inilah yang mendasari pentingnya perubahan paradigma: dari “membuang sampah” menjadi “mengelola sampah”. Perubahan tersebut membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari individu, komunitas, hingga institusi.

    Komitmen UGM dalam Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

    Sebagai institusi pendidikan, Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan komitmen nyata dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan. UGM menerapkan aturan pemilahan sampah yang ketat, di mana setiap sampah yang masuk ke lingkungan kampus harus dipilah sesuai jenisnya. Sampah yang tidak dipilah tidak akan diangkut, sebagai bentuk penegakan disiplin dan tanggung jawab bersama. Untuk mendukung kebijakan ini, kampus juga menyediakan infrastruktur pemilahan sampah yang memadai.

    Selain itu, UGM mengembangkan pengelolaan sampah terintegrasi secara mandiri melalui Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT). Sampah organik yang telah terpilah diolah menjadi pupuk kompos dan dimanfaatkan kembali untuk tanaman di lingkungan kampus. Sementara itu, sampah nonorganik dikelola bersama mitra pihak ketiga dan diolah menjadi bahan bangunan, sehingga memiliki nilai guna baru dan mengurangi beban tempat pembuangan akhir.

    Edukasi sebagai Kunci Perubahan

    Pengelolaan sampah yang berkelanjutan tidak akan berhasil tanpa perubahan perilaku. Oleh karena itu, UGM secara konsisten menjalankan berbagai kegiatan edukasi dan promosi kesadaran, seperti penyuluhan, workshop, dan sosialisasi mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Edukasi ini tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa dan tenaga kependidikan, tetapi juga menjangkau masyarakat luas melalui program pengabdian dan Kuliah Kerja Nyata (KKN).

    Sejalan dengan hal tersebut, Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menegaskan bahwa permasalahan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan peran aktif komunitas akademik sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.

     





    Dari Khatulistiwa Hingga Arktik dan Antartika, Sistem Bumi Saling Terhubung 🌏❄️

    Kajian Rabu, 11 Februari 2026













    Pekan Kerukunan Antar Agama Sedunia (1–7 Februari 2026)

    Kajian Selasa, 3 Februari 2026

    Pekan Kerukunan Antar Agama Sedunia (1–7 Februari 2026) menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap kehidupan yang inklusif dan toleran. Menjadikan keragaman sebagai dasar relasi sosial yang sehat merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan yang damai, adil, dan berkelanjutan. Biro Manajemen Strategis UGM

    Strategi Relevan di Era Serba Cepat

    Kajian Minggu, 1 Februari 2026

    Relevan tidak hanya soal kecepatan, tapi juga tentang adaptivitas organisasi. Tahun yang baru, membawa semangat baru untuk maju. Mari bersama-sama belajar menjadi lebih adaptif dalam mewujudkan strategi, untuk mencapai tujuan organisasi! 📚🧑‍🏫💡 Biro Manajemen Strategis UGM

    Jadi Versi Terbaik Dirimu di Tahun 2026!

    Kajian Jumat, 23 Januari 2026

    Di 2026, kepemimpinan adalah tentang konsistensi untuk menghadirkan versi terbaik setiap hari di setiap keputusan. Lebih sadar, lebih intentional, dan terus tumbuh meski tidak nyaman. Mulai sekarang, ambil satu aksi kecil dan tulis langkahmu untuk menunjukkan best self di 2026! Biro Manajemen Strategis UGM

    Memperingati Hari Disabilitas Internasional: Mewujudkan Akses Pendidikan yang Setara

    Kajian Kamis, 4 Desember 2025

    Setiap tanggal 3 Desember, dunia memperingati Hari Disabilitas Internasional sebagai momentum untuk menghormati hak serta kesejahteraan penyandang disabilitas. Peringatan ini juga mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya akses setara di berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam bidang pendidikan .

    Di Indonesia, komitmen terhadap pendidikan inklusif tercermin melalui sejumlah regulasi, termasuk Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 yang menjamin akses pendidikan bagi penyandang disabilitas, serta Permendikbudristek 48 Tahun 2023 yang mempertegas penyediaan fasilitas ramah disabilitas di lingkungan akademik. Meski demikian, berbagai tantangan masih dihadapi, seperti fasilitas kampus yang belum sepenuhnya mendukung mobilitas mahasiswa disabilitas, keterbatasan bahan ajar dalam format aksesibel, dan stigma sosial mengenai kemampuan penyandang disabilitas .

    Komitmen UGM untuk Lingkungan Akademik Inklusif

    Universitas Gadjah Mada menegaskan komitmennya untuk menjadi kampus inklusif, sebagaimana tercantum dalam Rencana Strategis UGM 2022–2027. Upaya ini diwujudkan melalui tiga fokus utama:

    1. Pengembangan Pendidikan Transdisiplin yang Inklusif

    UGM membangun sistem penerimaan dan proses pembelajaran yang menghargai keberagaman serta ramah disabilitas, sehingga seluruh mahasiswa dapat mengakses pendidikan secara setara .

    2. Pengembangan Atmosfer Kampus yang Aksesibel

    Kampus terus dikembangkan sebagai ruang akademik yang kondusif melalui penyediaan infrastruktur aksesibel, seperti ramp, handrail, toilet khusus disabilitas, guiding block, hingga fasilitas mobilitas lainnya. Upaya ini memastikan bahwa seluruh mahasiswa dapat bergerak dan beraktivitas dengan aman dan nyaman .

    3. Penguatan Budaya Inklusif

    UGM menumbuhkan kesadaran toleransi dan solidaritas di lingkungan kampus untuk mendukung terciptanya budaya yang ramah penyandang disabilitas serta bebas dari diskriminasi .

    Aksi Nyata UGM dalam Mendukung Penyandang Disabilitas

    Berbagai inisiatif nyata telah dijalankan UGM untuk memperkuat layanan inklusif, di antaranya:

    • Unit Layanan Disabilitas (ULD) yang menyediakan pendampingan dan fasilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas.

    • Infrastruktur dan layanan ramah disabilitas seperti lift, ramp, tempat parkir khusus, toilet khusus, dan bantuan mobilitas lainnya.

    • Pelatihan Pelayanan Disabilitas bagi sivitas akademika untuk meningkatkan kompetensi dalam memberikan layanan yang inklusif dan humanis .


    Hari Disabilitas Internasional memberikan pengingat bahwa pendidikan adalah hak setiap individu, tanpa terkecuali. Melalui komitmen dan upaya berkelanjutan, UGM terus bergerak untuk memastikan seluruh mahasiswa dapat belajar dan berkembang dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan setara.

    Narasi: Tuffahati

    Ilustrasi: Tim Desain BMS

    123

    Recent Posts

    • UGM dan KAGAMA Terus Dampingi Pemulihan Pascabencana di Sumatra
    • UGM Perkuat Kolaborasi Ketahanan Pangan melalui Penandatanganan MoU dengan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian dan PT Sinergi Gula Nusantara
    • UGM Buktikan Komitmen Kebencanaan Lewat Inovasi dan Kontribusi di Pameran Nasional PIT IABI Ke-9
    • Dari Dialog Akademik hingga Peresmian, UGM Luncurkan Human Flourishing Center Bersama ACU dan KADIN
    • Hari Kartini: Habis Gelap Terbitlah Terang

    Recent Comments

    Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

    Archives

    • Mei 2026
    • April 2026
    • Maret 2026
    • Februari 2026
    • Januari 2026
    • Desember 2025
    • November 2025
    • Oktober 2025
    • September 2025
    • Agustus 2025
    • Juli 2025
    • Juni 2025
    • Mei 2025
    • April 2025
    • Maret 2025
    • Februari 2025
    • Januari 2025
    • Oktober 2024

    Categories

    • Campus Tour
    • Kajian
    • Kegiatan
    • sdgs
    Universitas Gadjah Mada

    Biro Manajemen Strategis
    Universitas Gadjah Mada

    Gedung Pusat UGM, Lantai 3 Sayap Barat, Bulaksumur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
    Email : bms@ugm.ac.id
    Whatsapp : 0851-1784-8115

    © Universitas Gajah Mada

    KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY