Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Aceh (KAGAMA Aceh) terus memperkuat pendampingan pemulihan masyarakat pasca bencana di wilayah Sumatera. Melalui kunjungan lapangan terbaru, tim UGM dan KAGAMA Aceh kembali mengunjungi Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, serta Desa Geudumbak, Kabupaten Aceh Utara, guna memastikan keberlanjutan program rehabilitasi masyarakat pasca pembangunan hunian sementara (huntara) yang telah dilaksanakan sebelumnya. Selain melakukan monitoring terhadap fasilitas yang telah dibangun, tim juga melaksanakan koordinasi dan dialog langsung bersama masyarakat setempat untuk mengidentifikasi kebutuhan lanjutan dalam proses pemulihan.
2026
Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan PT Sinergi Gula Nusantara melaksanakan Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada Rabu, 13 Mei 2026 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. MoU ini menjadi langkah awal penguatan kolaborasi antar pihak dalam mendukung pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus pengembangan sektor pertanian berkelanjutan dan ketahanan pangan nasional.
Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam upaya penanggulangan bencana melalui partisipasi pada Pameran Kebencanaan Nasional yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada 6–7 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Kebencanaan ke-9 yang diselenggarakan oleh Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI).
Partisipasi UGM dalam kegiatan tersebut didukung oleh Biro Manajemen Strategis (BMS) bersama Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPKM). Melalui booth pameran, UGM memperkenalkan berbagai kontribusi keilmuan, inovasi, serta program pengabdian masyarakat di bidang kebencanaan yang melibatkan sejumlah unit dan fakultas di lingkungan universitas.
Yogyakarta, 23 April 2026 — Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Australian Catholic University (ACU) dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menyelenggarakan dua rangkaian kegiatan pada Rabu, 23 April 2026. Diawali dengan Dialog Akademik tentang Human Flourishing di Ruang Multimedia Lantai 3 Gedung Pusat UGM, hari tersebut ditutup dengan peresmian Human Flourishing Center (HFC) di Balai Senat Universitas Gadjah Mada.
Sebagai pembuka rangkaian acara, Biro Manajemen Strategis dan Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu UGM menyelenggarakan Dialog Akademik Human Flourishing yang menghadirkan akademisi dari UGM, ACU, HDSS Sleman, serta perwakilan KADIN. Diskusi dibagi ke dalam dua sesi panel yang membahas berbagai dimensi Human Flourishing dari perspektif lintas disiplin.
Keluar dari Kegelapan
Pada era kolonial, pendidikan bagi kaum perempuan ibarat lorong gelap tanpa lentera. Perempuan cenderung dipaksa hanya untuk melayani dan tidak ada akses untuk berkembang, apalagi untuk bersuara. R.A. Kartini hadir mendobrak batasan tersebut melalui pemikiran kritisnya. Korespondensi surat-suratnya yang kemudian dibukukan sebagai Door Duisternis tot Licht atau “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang menjadi tonggak sejarah. Semangat Kartini menjadi simbol perjuangan hak untuk belajar, berpikir kritis, dan pada akhirnya membuka jalan panjang bagi generasi perempuan Indonesia hingga hari ini.Emansipasi & Kesetaraan
Emansipasi adalah tentang persamaan hak dan kesetaraan gender dalam segala aspek kehidupan. Seperti yang dikemukakan oleh Mustikawati (2015), berkat perjuangan tersebut, wanita saat ini mampu mengenyam pendidikan yang setara dengan laki-laki. Pendidikan harus dimaknai bukan sekadar untuk meraih gelar, melainkan sebagai alat mendasar untuk memanusiakan perempuan dan memberikan otonomi penuh atas dirinya sendiri.Tantangan yang Belum Usai
Meski akses pendidikan kian terbuka lebar, perjuangan emansipasi nyatanya belum benar-benar usai. Generasi masa kini dihadapkan pada bentuk-bentuk rintangan baru yang lebih kompleks:
Empati adalah kemampuan untuk memahami perasaan dan pengalaman orang lain. Bagi seorang pemimpin, keterampilan ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah Core Leadership (keterampilan kepemimpinan inti).
Mengapa demikian? Empati memungkinkan pemimpin untuk melihat berbagai situasi dari sudut pandang yang berbeda. Hal ini membangun rasa saling percaya dan menjaga sisi manusiawi di dalam tim. Ketika anggota tim merasa didengar dan dipahami, komunikasi menjadi jauh lebih terbuka, dan proses pengambilan keputusan pun berjalan lebih efektif.
Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi di bidang pengelolaan data, analisis informasi, serta kreativitas digital dalam lingkungan kerja profesional. Kandidat yang terpilih akan terlibat dalam berbagai kegiatan strategis BMS, termasuk pengolahan data, penyusunan informasi, serta produksi konten kreatif.
Mahasiswa yang berminat diharapkan memenuhi persyaratan umum, antara lain berstatus aktif minimal semester 6 (S1), memiliki IPK minimal 3,00, serta mampu bekerja secara fleksibel dengan komitmen waktu minimal 4 jam per hari. Selain itu, pelamar diharapkan memiliki kemampuan dalam pengolahan data, penggunaan perangkat lunak perkantoran, serta nilai tambah dalam desain grafis, fotografi, maupun videografi.
Setiap 8 Maret, dunia memperingati International Women’s Day (IWD) sebagai momentum untuk merayakan kontribusi perempuan sekaligus merefleksikan bahwa kesetaraan gender adalah fondasi utama bagi kemajuan peradaban. Dalam mewujudkan masa depan yang setara, pendidikan memiliki peran yang sangat strategis. Namun, akses pendidikan harus selalu dibarengi dengan ruang yang aman, penghormatan, dan dukungan nyata agar perempuan dapat belajar, berekspresi, dan berkembang tanpa rasa takut terhadap diskriminasi maupun kekerasan berbasis gender.
Sebagai respons atas bencana hidrometeorologis yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, Universitas Gadjah Mada membangun kembali Balai Masjid di Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Bangunan tersebut sebelumnya mengalami kerusakan berat akibat banjir yang melanda kawasan itu dan mengganggu berbagai aktivitas sosial serta keagamaan warga. Rekonstruksi ini menjadi bagian dari langkah nyata UGM dalam mendukung pemulihan wilayah terdampak, sekaligus memastikan tersedianya ruang publik yang aman dan representatif bagi masyarakat.
![]() |
![]() |
Dalam ekosistem organisasi modern, kolaborasi merupakan elemen fundamental yang menentukan tingkat kesuksesan dan keberlanjutan suatu institusi. Meskipun demikian, praktik kolaborasi yang ideal sering kali masih menjadi tantangan nyata di lapangan. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Harvard Business Review (HBR) mengungkapkan bahwa 39% karyawan merasa organisasi mereka tidak memiliki tingkat kolaborasi yang memadai. Data tersebut mengindikasikan bahwa masih banyak figur pemimpin berbakat yang belum mengintegrasikan nilai-nilai kolaborasi sebagai bagian esensial dari gaya kepemimpinan mereka. Tantangan struktural utama yang sering menghambat proses ini meliputi kecenderungan antar-divisi untuk bekerja secara terpisah (67%), ketiadaan visi kolaboratif (32%), serta kuatnya senioritas dalam proses pengambilan keputusan (32%).
Membangun budaya kolaboratif menuntut transformasi personal dari seorang pemimpin. Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan seorang pemimpin mengalami kesulitan dalam membangun kolaborasi yang efektif dengan timnya. Sering kali, pemimpin bersikap terlalu kompetitif dan memiliki ketakutan akan kehilangan sorotan (spotlight) atau pencapaian individual. Selain itu, tidak sedikit dari mereka yang lebih terbiasa menggunakan otoritas “posisi” dibandingkan membuka ruang “diskusi” yang setara. Kesulitan ini juga kerap diperparah oleh orientasi yang terlalu eksklusif pada hasil sehingga mengorbankan relasi, krisis kepercayaan dalam membangun hubungan tim, serta secara mendasar karena kurangnya keterampilan kolaborasi yang memadai.
![]() |
![]() |
Perubahan budaya organisasi yang kolaboratif mutlak harus diinisiasi dari tingkat kepemimpinan. Untuk mencapai hal tersebut, seorang pemimpin perlu melakukan transformasi pola pikir (mindset) menjadi seorang kolaborator sejati yang mampu menghargai orang lain secara adil. Pemimpin dituntut untuk menjadi individu yang dapat diandalkan, konsisten dalam berbuat baik, serta senantiasa menjadikan hubungan dan kepercayaan sebagai prioritas utama. Lebih jauh lagi, transformasi ini memerlukan kesediaan pemimpin untuk menurunkan ego dengan menjadi pendengar yang aktif, berani mendistribusikan spotlight dan meminta saran dari orang lain, serta selalu mengedepankan pendekatan empati dibandingkan dominasi kekuasaan.
![]() |
![]() |
Menanggapi urgensi dari kompetensi kepemimpinan masa depan tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) secara proaktif mengambil peran dalam membangun ekosistem pendidikan yang berorientasi pada kolaborasi. Komitmen ini diwujudkan melalui penerapan kurikulum yang integratif dan lintas disiplin ilmu. Di samping itu, UGM juga memprioritaskan penguatan soft skills mahasiswa seperti kemampuan kerja sama tim, komunikasi efektif, dan kecerdasan emosional serta mendorong ekosistem kolaborasi riset dan proyek yang bersinergi langsung dengan sektor industri, pemerintah, maupun komunitas masyarakat.





