Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada Aceh (KAGAMA Aceh) terus memperkuat pendampingan pemulihan masyarakat pasca bencana di wilayah Sumatera. Melalui kunjungan lapangan terbaru, tim UGM dan KAGAMA Aceh kembali mengunjungi Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, serta Desa Geudumbak, Kabupaten Aceh Utara, guna memastikan keberlanjutan program rehabilitasi masyarakat pasca pembangunan hunian sementara (huntara) yang telah dilaksanakan sebelumnya. Selain melakukan monitoring terhadap fasilitas yang telah dibangun, tim juga melaksanakan koordinasi dan dialog langsung bersama masyarakat setempat untuk mengidentifikasi kebutuhan lanjutan dalam proses pemulihan.
Di Desa Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, UGM dan KAGAMA Aceh merencanakan percepatan pembangunan hunian sementara sesuai target sebanyak 25 unit huntara berbahan papan kayu atau Rumah Geunira. Selain itu, direncanakan pula pembangunan balai masjid (meunasah) yang akan difungsikan sebagai pusat aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat desa. Pembangunan tersebut diharapkan dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan hunian dan fasilitas sosial yang layak bagi masyarakat terdampak, sekaligus mendukung pemulihan kehidupan sosial dan ekonomi warga.
Sementara itu, di Desa Geudumbak, Kabupaten Aceh Utara, pendampingan difokuskan pada evaluasi kondisi hunian yang sebelumnya telah dibangun sebanyak 103 unit huntara papan kayu. Hasil koordinasi dan asesmen bersama masyarakat menunjukkan masih terdapat sejumlah rumah yang belum layak huni serta belum memperoleh bantuan rehabilitasi maupun pembangunan hunian sementara. Berdasarkan pendataan bersama warga, terdapat delapan keluarga yang menjadi prioritas penanganan lanjutan, dengan rencana lima rumah akan direhabilitasi dan tiga unit huntara baru akan dibangun. Selain itu, pembangunan sumur bor juga direncanakan guna memenuhi kebutuhan suplai air tanah yang menjadi kebutuhan mendesak masyarakat setempat.
Sebagai bagian dari penguatan pemulihan berbasis kebutuhan dasar masyarakat, UGM turut memberikan bantuan filter air siap minum IiToya di Desa Sekumur dan Desa Geudumbak. Bantuan ini ditujukan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap air minum layak konsumsi. Penyediaan teknologi penyaringan air tersebut diharapkan dapat mendukung kesehatan masyarakat sekaligus menjadi solusi praktis dalam memenuhi kebutuhan air minum sehari-hari secara berkelanjutan.



Melalui pendampingan yang dilaksanakan secara kolaboratif bersama KAGAMA Aceh dan masyarakat lokal, UGM menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang hadir tidak hanya pada fase tanggap darurat, tetapi juga dalam proses rehabilitasi dan pemulihan kehidupan masyarakat secara berkelanjutan. Sinergi antara perguruan tinggi, alumni, dan masyarakat ini diharapkan mampu mempercepat pemulihan kondisi sosial serta