• Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Profil
    • Struktur Biro
    • Visi dan Misi
    • Kontak
  • Kegiatan
    • Wanagama Nusantara
    • Forum Diskusi Ilmiah
    • Kajian
    • SDGS
  • PUAPT UGM
    • Tentang
    • Working Group Food Security
    • Working Group Health Autonomy
  • UGM Campus Tour
  • Galeri
  • Beranda
  • SDG 8: PEKERJAAN LAYAK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
  • SDG 8: PEKERJAAN LAYAK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI
Arsip:

SDG 8: PEKERJAAN LAYAK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

Pemimpin Strategis Berdampak: Kepemimpinan yang Menciptakan Nilai bagi Organisasi

Kajiansdgs Rabu, 15 Juli 2026

Di era kerja yang semakin dinamis, kepemimpinan bukan lagi sekadar simbol kenaikan jabatan, tetapi kemampuan untuk menciptakan dampak positif bagi tim dan organisasi. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu membangun kolaborasi, mengembangkan potensi anggota tim, serta mengambil keputusan yang strategis.

Salah satu tantangan yang sering terjadi dalam organisasi adalah Peter Principle, yaitu kondisi ketika seseorang dipromosikan berdasarkan keberhasilannya di posisi sebelumnya, bukan karena kesiapan menjadi pemimpin. Akibatnya, organisasi berisiko kehilangan kontributor terbaik tanpa memperoleh pemimpin yang efektif. Keberhasilan seorang pemimpin tidak lagi diukur dari pencapaian individu, tetapi dari kemampuannya memberdayakan tim untuk mencapai tujuan bersama. read more

Doing More vs Doing the Right Thing: Mengelola Prioritas untuk Mengoptimalkan Hasil

Kajiansdgs Jumat, 26 Juni 2026

Di tengah tuntutan pekerjaan dan kehidupan yang semakin dinamis, produktivitas sering kali diukur dari seberapa banyak aktivitas yang berhasil diselesaikan. Padahal, kesibukan tidak selalu berbanding lurus dengan kemajuan. Banyaknya pekerjaan yang dilakukan belum tentu membawa seseorang lebih dekat pada tujuan yang ingin dicapai.

Konsep “Doing the Right Thing” mengajak kita untuk mengubah cara pandang terhadap produktivitas. Alih-alih berfokus pada kuantitas aktivitas, pendekatan ini menekankan pentingnya memilih dan mengerjakan hal-hal yang benar-benar memberikan dampak terbesar terhadap tujuan yang ingin dicapai. Dengan kata lain, menjadi produktif bukan berarti melakukan lebih banyak pekerjaan, melainkan melakukan pekerjaan yang paling tepat. read more

Dari Dialog Akademik hingga Peresmian, UGM Luncurkan Human Flourishing Center Bersama ACU dan KADIN

Kegiatansdgs Selasa, 28 April 2026

Yogyakarta, 23 April 2026 — Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Australian Catholic University (ACU) dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menyelenggarakan dua rangkaian kegiatan pada Rabu, 23 April 2026. Diawali dengan Dialog Akademik tentang Human Flourishing di Ruang Multimedia Lantai 3 Gedung Pusat UGM, hari tersebut ditutup dengan peresmian Human Flourishing Center (HFC) di Balai Senat Universitas Gadjah Mada.

Sebagai pembuka rangkaian acara, Biro Manajemen Strategis dan Biro Pelayanan Kesehatan Terpadu UGM menyelenggarakan Dialog Akademik Human Flourishing yang menghadirkan akademisi dari UGM, ACU, HDSS Sleman, serta perwakilan KADIN. Diskusi dibagi ke dalam dua sesi panel yang membahas berbagai dimensi Human Flourishing dari perspektif lintas disiplin. read more

Kolaborasi Kuat, Kepemimpinan Hebat

Kajian Senin, 2 Maret 2026

Dalam ekosistem organisasi modern, kolaborasi merupakan elemen fundamental yang menentukan tingkat kesuksesan dan keberlanjutan suatu institusi. Meskipun demikian, praktik kolaborasi yang ideal sering kali masih menjadi tantangan nyata di lapangan. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Harvard Business Review (HBR) mengungkapkan bahwa 39% karyawan merasa organisasi mereka tidak memiliki tingkat kolaborasi yang memadai. Data tersebut mengindikasikan bahwa masih banyak figur pemimpin berbakat yang belum mengintegrasikan nilai-nilai kolaborasi sebagai bagian esensial dari gaya kepemimpinan mereka. Tantangan struktural utama yang sering menghambat proses ini meliputi kecenderungan antar-divisi untuk bekerja secara terpisah (67%), ketiadaan visi kolaboratif (32%), serta kuatnya senioritas dalam proses pengambilan keputusan (32%).

Membangun budaya kolaboratif menuntut transformasi personal dari seorang pemimpin. Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan seorang pemimpin mengalami kesulitan dalam membangun kolaborasi yang efektif dengan timnya. Sering kali, pemimpin bersikap terlalu kompetitif dan memiliki ketakutan akan kehilangan sorotan (spotlight) atau pencapaian individual. Selain itu, tidak sedikit dari mereka yang lebih terbiasa menggunakan otoritas “posisi” dibandingkan membuka ruang “diskusi” yang setara. Kesulitan ini juga kerap diperparah oleh orientasi yang terlalu eksklusif pada hasil sehingga mengorbankan relasi, krisis kepercayaan dalam membangun hubungan tim, serta secara mendasar karena kurangnya keterampilan kolaborasi yang memadai.

Perubahan budaya organisasi yang kolaboratif mutlak harus diinisiasi dari tingkat kepemimpinan. Untuk mencapai hal tersebut, seorang pemimpin perlu melakukan transformasi pola pikir (mindset) menjadi seorang kolaborator sejati yang mampu menghargai orang lain secara adil. Pemimpin dituntut untuk menjadi individu yang dapat diandalkan, konsisten dalam berbuat baik, serta senantiasa menjadikan hubungan dan kepercayaan sebagai prioritas utama. Lebih jauh lagi, transformasi ini memerlukan kesediaan pemimpin untuk menurunkan ego dengan menjadi pendengar yang aktif, berani mendistribusikan spotlight dan meminta saran dari orang lain, serta selalu mengedepankan pendekatan empati dibandingkan dominasi kekuasaan.

Menanggapi urgensi dari kompetensi kepemimpinan masa depan tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) secara proaktif mengambil peran dalam membangun ekosistem pendidikan yang berorientasi pada kolaborasi. Komitmen ini diwujudkan melalui penerapan kurikulum yang integratif dan lintas disiplin ilmu. Di samping itu, UGM juga memprioritaskan penguatan soft skills mahasiswa seperti kemampuan kerja sama tim, komunikasi efektif, dan kecerdasan emosional serta mendorong ekosistem kolaborasi riset dan proyek yang bersinergi langsung dengan sektor industri, pemerintah, maupun komunitas masyarakat.

Konferensi Pers: Kontribusi UGM dalam Percepatan Penanggulangan Bencana Hidrometeorologis Sumatera

Kegiatan Rabu, 24 Desember 2025

Leading in VUCA: Kepemimpinan di Tengah Ketidakpastian

Kajian Rabu, 8 Oktober 2025

Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, kompleks, dan penuh ketidakpastian, peran kepemimpinan menjadi semakin penting. Pemimpin masa kini tidak hanya dituntut untuk mengambil keputusan dengan cepat, tetapi juga mampu beradaptasi dengan situasi yang tidak menentu dan sering kali tidak memiliki pola yang jelas. Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah VUCA — singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity.

Apa Itu VUCA?

VUCA menggambarkan empat tantangan utama yang dihadapi oleh organisasi dan individu dalam konteks dunia modern saat ini:

  • Volatility (Perubahan Cepat): Situasi yang mudah berubah dengan cepat dan sulit diprediksi.

  • Uncertainty (Ketidakpastian): Kurangnya kepastian terhadap arah perkembangan, sehingga keputusan sering diambil tanpa informasi lengkap.

  • Complexity (Kompleksitas): Banyaknya faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi hasil, menjadikan analisis situasi semakin rumit.

  • Ambiguity (Ambiguitas): Informasi yang tidak jelas dan dapat ditafsirkan dengan berbagai cara, sehingga pemahaman terhadap situasi sering kali tidak seragam.

Keempat aspek ini mencerminkan dunia yang terus bergerak dan berubah secara dinamis, di mana pendekatan kepemimpinan tradisional sering kali tidak lagi memadai.



Mindset Shift: Low-Data Decision Making

Dalam konteks VUCA, paradigma pengambilan keputusan perlu bergeser. Pemikiran bahwa semakin banyak data akan menghasilkan keputusan yang semakin baik tidak selalu berlaku. Di dunia yang serba cepat dan tidak pasti, data sering kali tidak lengkap, tidak relevan, atau sudah kadaluwarsa sebelum sempat diolah.

Menunda keputusan demi menunggu data yang sempurna justru dapat menimbulkan risiko yang lebih besar. Karena itu, seorang pemimpin perlu memiliki keberanian untuk bertindak dengan informasi yang terbatas, sambil mengandalkan intuisi, kepekaan membaca situasi, serta kemampuan menangkap tanda-tanda peluang atau ancaman.

Keputusan yang cepat dan tepat diambil bukan semata karena data yang banyak, tetapi karena pemimpin mampu memahami konteks dan menilai arah perubahan yang sedang terjadi.


Strategi dalam Low-Data Decision Making: Pendekatan DIET

Untuk membantu pemimpin mengambil keputusan di tengah keterbatasan data, pendekatan DIET dapat menjadi panduan praktis. DIET mencakup empat langkah utama yang saling melengkapi:

  1. Define
    Pahami masalah dan situasi secara mendalam. Lihat akar persoalan dari berbagai sudut pandang agar keputusan yang diambil benar-benar menyentuh inti permasalahan.

  2. Integrate
    Gunakan data yang tersedia secara optimal. Kaitkan pola, sebab-akibat, serta hubungan antar-data untuk membangun gambaran besar yang lebih utuh.

  3. Explore
    Libatkan tim dan dorong mereka untuk meninjau masalah dari berbagai perspektif. Pendekatan kolaboratif akan membantu memunculkan ide-ide baru dan memperkaya alternatif solusi.

  4. Test
    Uji coba ide atau keputusan dalam skala kecil sebelum diterapkan secara menyeluruh. Langkah ini penting untuk menilai efektivitas dan memastikan keputusan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Pendekatan DIET membantu pemimpin tetap gesit dan rasional, meskipun harus bergerak dengan keterbatasan informasi.

Strategi Memimpin di Era VUCA

Untuk dapat bertahan dan unggul dalam dunia VUCA, seorang pemimpin perlu mengembangkan sejumlah kemampuan dan strategi kepemimpinan yang adaptif, di antaranya:

  1. Active Questioning
    Selain kemampuan mendengarkan secara aktif (active listening), pemimpin juga perlu melatih active questioning — kemampuan menggali pertanyaan yang tepat untuk memahami situasi secara lebih mendalam. Dengan bertanya “apa”, “siapa”, “di mana”, dan “bagaimana”, pemimpin dapat menemukan informasi baru serta memperluas pemahaman terhadap konteks yang sedang dihadapi.

  2. Mengenali Exceptional Information
    Informasi yang tampak menyimpang dari pola umum sering kali menjadi petunjuk penting terhadap peluang besar atau ancaman tersembunyi. Pemimpin yang tanggap terhadap sinyal-sinyal semacam ini akan mampu membuat keputusan yang lebih cepat dan akurat di tengah ketidakpastian.

  3. Melatih Diri Menjadi Perencana yang Adaptif
    Fokus utama seorang pemimpin di era VUCA bukanlah menciptakan rencana yang sempurna, tetapi kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat. Melatih diri agar lincah menyesuaikan strategi lebih penting daripada membuat rencana yang kaku. Fleksibilitas menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika yang tidak menentu.


Kesimpulan

Era VUCA menuntut pemimpin untuk tanggap terhadap perubahan cepat, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas yang melingkupi setiap aspek kehidupan organisasi. Keputusan tetap dapat diambil secara tepat meskipun data terbatas, selama pemimpin mampu mengandalkan kepekaan dalam membaca situasi dan menerapkan strategi yang tepat, seperti pendekatan DIET.

Pemimpin yang sukses di era ini adalah mereka yang peka terhadap perubahan, aktif menggali informasi, serta mampu beradaptasi dengan cepat melalui strategi yang fleksibel dan responsif terhadap situasi yang terus berkembang. Dengan demikian, kepemimpinan di tengah VUCA bukan sekadar soal kontrol, melainkan soal kepekaan, keberanian, dan kemampuan menavigasi ketidakpastian untuk membawa organisasi menuju masa depan yang lebih tangguh dan berdaya saing.

Mengenal Strategic Sparring Session

Kajian Kamis, 15 Mei 2025

Strategic Sparring Session adalah sebuah metode diskusi yang menekankan partisipasi aktif dari seluruh anggota untuk mengumpulkan data, menguji asumsi, dan mencapai konsensus strategis yang matang. Tidak seperti rapat pada umumnya yang cenderung berfokus pada penyampaian informasi satu arah, strategic sparring session menuntut setiap peserta untuk terlibat secara aktif dalam dialog dua arah, berbagi pandangan yang didukung oleh data, serta berperan dalam memperkuat arah strategi bersama.

Perbedaannya dengan rapat biasa cukup jelas. Jika rapat atau diskusi umumnya bertujuan untuk berbagi informasi dan membuat kesepakatan umum dengan partisipasi yang sering kali terbatas oleh hierarki, maka strategic sparring session berorientasi pada pembangunan konsensus strategis melalui diskusi berbasis data dan keterlibatan aktif semua anggota. Hasil dari sesi ini bukan sekadar kesimpulan, melainkan arah strategi yang lebih kuat dan teruji.





Metode ini penting karena dapat menghasilkan keputusan yang lebih matang, terutama dalam menentukan langkah strategis untuk masa depan. Dengan menyiapkan data, menguji asumsi, dan membuka ruang diskusi yang setara, sesi ini membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih rasional dan terarah. Selain itu, strategic sparring session mendorong diskusi yang inklusif, di mana setiap peserta tidak hanya hadir, tetapi juga berkontribusi aktif dengan pandangan berbasis data. Pendekatan ini juga membantu mengatasi bias dan groupthink, melalui teknik seperti walk the line yang dirancang untuk menumbuhkan keterbukaan dan keberanian dalam berpendapat.

Agar berjalan efektif, terdapat beberapa prinsip utama yang perlu diterapkan. Pertama, diskusi harus diarahkan secara inklusif, menghindari pola presentasi satu arah. Kedua, setiap argumen harus berbasis data terbaru, meski data tersebut belum sepenuhnya sempurna. Ketiga, fokus diskusi diarahkan pada asumsi, bukan opini pribadi, agar pembahasan tetap objektif. Keempat, keterbukaan menjadi kunci utama, sehingga anggota dapat mendalami isu dengan perspektif yang lebih luas dan mendalam.

Dengan mengedepankan partisipasi aktif, keterbukaan, dan analisis berbasis data, strategic sparring session membantu organisasi menghasilkan strategi yang lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Buku dan Literasi Sebagai Pilar Pemimpin Masa Depan

Kajian Rabu, 23 April 2025

Buku bukan hanya sumber ilmu, melainkan juga sarana untuk membentuk cara berpikir dan karakter. Membaca adalah langkah penting untuk memahami dunia, mengambil keputusan yang bijak, dan menghadapi tantangan dengan perspektif yang lebih luas.

Tingkat literasi di Indonesia masih menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, kemampuan membaca pelajar Indonesia memperoleh skor 359, jauh di bawah rata-rata 476, dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-70 dari 80 negara. Data ini tidak hanya mencerminkan persoalan dalam sistem pendidikan, tetapi juga menjadi alarm bagi masa depan bangsa karena rendahnya literasi berpotensi mengancam kualitas calon pemimpin di masa mendatang.

Padahal, buku memiliki peran penting dalam membentuk karakter seorang pemimpin. Melalui kegiatan membaca, seseorang dapat mengasah kemampuan refleksi dan berpikir kritis, meningkatkan kemampuan komunikasi, memperluas wawasan untuk pengambilan keputusan yang lebih bijak, serta menumbuhkan empati dan kecerdasan emosional. Semua hal tersebut merupakan fondasi penting dalam menciptakan pemimpin yang visioner, berintegritas, dan berkeadaban.

Untuk memperbaiki kondisi ini, langkah-langkah sederhana namun berdampak bisa dimulai dari diri sendiri—seperti meluangkan waktu membaca setiap hari, mendukung pemerataan akses buku melalui donasi, berpartisipasi dalam program literasi, serta memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan semangat membaca ke audiens yang lebih luas.

Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mengambil peran aktif dalam membangun budaya literasi melalui berbagai inisiatif. Program Kelas Literas secara rutin memberikan pelatihan literasi informasi dan akademik, membekali mahasiswa dengan keterampilan riset, penulisan ilmiah, dan etika penggunaan sumber. Selain itu, kegiatan donasi buku yang digerakkan oleh perpustakaan, fakultas, dan program KKN UGM telah menyalurkan ribuan buku ke sekolah, komunitas, dan perpustakaan desa untuk memperluas akses bacaan berkualitas. UGM juga menggelar program bedah dan diskusi buku sebagai ruang untuk mendalami gagasan-gagasan penting, mendorong dialog intelektual, serta memotivasi peserta agar terus membaca dan mengeksplorasi isu-isu aktual.

Melalui upaya kolaboratif antara individu, komunitas, dan institusi pendidikan seperti UGM, diharapkan budaya literasi di Indonesia dapat tumbuh subur dan melahirkan generasi pembelajar sepanjang hayat yang siap memimpin masa depan bangsa dengan pengetahuan dan kebijaksanaan.

Penulis: BMS 

Foto: BMS

Sumber:

85 Broads. “Why Leaders Must Be Readers.” Forbes. August 3, 2012. https://www.forbes.com/sites/85broads/2012/08/03/why-leaders-must-be-readers/

Forbes Business Council. “Nurturing Leadership Through the Power of Reading.” Forbes. January 9, 2024. https://www.forbes.com/councils/forbesbusinesscouncil/2024/01/09/nurturing-leadership-through-the-power-of-reading/

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). “Education GPS: Indonesia. https://gpseducation.oecd.org/CountryProfile?primaryCountry=IDN&treshold=10&topic=PI

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). “PISA 2022 Database https://www.oecd.org/en/data/datasets/pisa-2022-database.html

https://lib.ugm.ac.id/en/spreading-knowledge-building-literacy-book-donation-for-smk-pariwisata-bantul/

Sustainable Future Leader: Enhancing Indonesian Restorative Economy

Kegiatansdgs Kamis, 13 Februari 2025

Agenda pengurangan emisi karbon menjadi salah satu langkah strategis dalam upaya mitigasi penanganan dampak perubahan iklim. UGM bersama dengan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari berkomitmen untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan tersebut.

” Penelitian menunjukkan bahwa bambu memiliki daya serap karbon yang tinggi, berkisar antara 16 hingga 128 ton karbon per hektar. Jika dikelola dengan baik, bisa mendorong pengurangan emisi hingga 35%” –Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.,OG(K).,Ph.D.

” Pengembangan agroekologi bambu yang berkelanjutan memerlukan dukungan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, serta sumber daya manusia dan teknologi untuk memastikan kontribusinya dalam mitigasi perubahan iklim dan ekonomi restoratif.” – Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, Ditjen PPI KLHK, Irawan Assad, Ph.D

Pada Sesi Panel Inspirasi menghadirkan para pemimpin dan pakar dari berbagai sektor untuk berbagai wawasan, pengalaman nyata, best practice, dan langkah konkret guna mempercepat pemanfaatan bambu dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia. 

Sesi Panel Tematik workshop ini menjadi wadah diskusi yang menarik terkait strategi inovasi dalam pemanfaatan bambu. Serta membuka peluang kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan sektor swasta untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia. 

Melalui workshop ini, diharapkan dapat dirumuskan strategi berbasis riset dan mengeksplorasi kerangka kebijakan lanjutan untuk memperkuat praktik – praktik baik ke depan.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Dokumentasi kegiatan.

Recent Posts

  • Pemimpin Strategis Berdampak: Kepemimpinan yang Menciptakan Nilai bagi Organisasi
  • Hari Kependudukan Dunia 2026: Membangun Manusia untuk Kehidupan yang Lebih Berkualitas
  • Dukung Pemulihan Pascabencana, UGM dan KAGAMA Serahkan Hunian Sementara bagi Warga Sekumur
  • Hari Kelautan Nasional 2026: Laut Indonesia sebagai Fondasi Masa Depan Bangsa
  • Hari Tropis Internasional 2026: Meneguhkan Peran Wilayah Tropis untuk Masa Depan Bumi

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Archives

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Oktober 2024

Categories

  • Campus Tour
  • Kajian
  • Kegiatan
  • sdgs
Universitas Gadjah Mada

Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada

Gedung Pusat UGM, Lantai 3 Sayap Barat, Bulaksumur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Email : bms@ugm.ac.id
Whatsapp : 0851-1784-8115

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY