Dari Tamansiswa ke Gadjah Mada: Pendidikan Berintegritas bagi Seluruh Calon Pemimpin Bangsa
Kajian Jumat, 2 Mei 2025
Hari Pendidikan yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, menjadi pengingat kita terhadap semangat kebangkitan pendidikan yang diprakarsai oleh Ki Hadjar Dewantara dengan menggerakkan pendirian perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Gerakan tersebut memperjuangkan hak belajar bagi setiap anak bangsa, tanpa memandang status sosial dan latar belakang. Hingga hari ini, semangat itu masih terus kita rayakan, kita rawat, dan kita hidupkan.
Pendidikan memegang peranan penting dalam membangun peradaban dan kemajuan bangsa. Melalui pendidikan, kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat ditingkatkan, membekali generasi muda dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang dibutuhkan untuk berkontribusi pada pembangunan nasional. Pendidikan juga menjadi sarana untuk mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi, karena membuka peluang bagi setiap individu untuk meningkatkan taraf hidup dan meraih masa depan yang lebih baik. Lebih dari itu, pendidikan mendorong inovasi dan pembangunan berkelanjutan, melahirkan pemimpin dan pemikir yang mampu menghadapi tantangan global secara kreatif dan bertanggung jawab.
Namun, sistem pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah ketimpangan akses pendidikan antarwilayah. Data menunjukkan bahwa Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di DKI Jakarta mencapai 11,49 tahun, sedangkan di Papua Pegunungan hanya 5,1 tahun, menggambarkan kesenjangan yang signifikan. Selain itu, angka putus sekolah masih tinggi, dengan tingkat penyelesaian jenjang SMA hanya sekitar 67,07%. Akses ke pendidikan tinggi pun masih rendah, ditandai dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi sebesar 31,45%, di bawah target Renstra 2020–2024 yaitu 37,63%.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk memperkuat sistem pendidikan nasional. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan kurikulum yang relevan agar lulusan tidak hanya siap menghadapi dunia kerja, tetapi juga memiliki kemampuan berinovasi dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, pendidikan karakter dan kepemimpinan perlu diintegrasikan dalam proses belajar agar mahasiswa tumbuh menjadi generasi yang berintegritas dan tangguh menghadapi tantangan global. Perguruan tinggi juga perlu memperluas akses pendidikan melalui beasiswa, pembelajaran daring, serta pemanfaatan teknologi digital, sehingga mahasiswa dari berbagai daerah dapat memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas.
Sebagai universitas kerakyatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan komitmen nyata dalam menjawab tantangan pendidikan di Indonesia. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari penyediaan beragam beasiswa seperti KIP Kuliah dan beasiswa mitra industri, hingga program peminjaman laptop bagi mahasiswa yang membutuhkan. UGM juga menyediakan akun email universitas dengan akses ke berbagai software pembelajaran dan jurnal internasional, serta perpustakaan pusat modern yang menjadi ruang belajar nyaman dan kaya sumber pengetahuan.
Selain itu, UGM memiliki Pusat Layanan Difabel sebagai ruang aman dan inklusif bagi mahasiswa berkebutuhan khusus, serta program KKN-PPM yang membumikan ilmu pengetahuan ke berbagai pelosok negeri, memperkuat peran mahasiswa dalam pengabdian masyarakat. Komitmen terhadap integritas akademik juga ditegakkan melalui sistem anti-plagiarisme dan penerapan kode etik disipliner yang ketat.
Dalam Rencana Strategis UGM, universitas menegaskan langkah-langkah strategis di bidang pendidikan, seperti memperkuat pendidikan transdisiplin yang mendorong kewirausahaan sosial, kemandirian, dan ketangguhan mahasiswa; mengembangkan kurikulum yang komprehensif dan aplikatif; serta memperkuat ekosistem inovasi berbasis kolaborasi berkelanjutan untuk meningkatkan kebermanfaatan. UGM juga berkomitmen untuk meningkatkan jejaring kerja sama mitra Tridharma, mengakomodasi keberagaman dalam sistem penerimaan mahasiswa, meningkatkan proporsi mahasiswa pascasarjana, serta memperbanyak publikasi ilmiah mahasiswa doktoral.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., menegaskan bahwa “Pendidikan sebagai pilar pembangunan tidak hanya fokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan, namun juga harus mampu membentuk karakter kepribadian manusia.” Pandangan ini mencerminkan semangat UGM dalam menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama bagi pembangunan manusia Indonesia yang unggul, beretika, dan berdaya saing global.
Penulis: BMS UGM
Foto: BMS UGM