• Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Profil
    • Struktur Biro
    • Visi dan Misi
    • Kontak
  • Kegiatan
    • Wanagama Nusantara
    • Forum Diskusi Ilmiah
    • Kajian
    • SDGS
  • PUAPT UGM
    • Tentang
    • Working Group Food Security
    • Working Group Health Autonomy
  • UGM Campus Tour
  • Galeri
  • Beranda
  • 2025
  • hal. 2
Arsip:

2025

UGM & IOJI Resmi Jalin Kolaborasi untuk Perlindungan Laut dan Lingkungan

Kegiatansdgs Senin, 22 September 2025

Jakarta, 19 September 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dalam upaya memperkuat Tridharma Perguruan Tinggi serta mendorong perlindungan lingkungan hidup dan ekosistem laut Indonesia.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara kedua institusi dilaksanakan di Jakarta pada 19 September 2025. Acara ini menandai langkah penting dalam memperkuat peran perguruan tinggi dan lembaga kebijakan publik dalam menghadapi tantangan lingkungan global, khususnya di era Antroposen.

Acara penandatanganan turut dihadiri oleh jajaran pimpinan dan pendiri IOJI, termasuk CEO IOJI Dr. Mas Achmad Santosa, S.H., LL.M., serta Dr. Hasan Wirajuda, Co-founder IOJI sekaligus Menteri Luar Negeri RI periode 2001–2009. Hadir pula para co-founder IOJI lainnya: Laode M. Syarif, Ph.D.; Andreas Aditya Salim, S.H., LL.M.; Stephanie Juwana, S.H., LL.M.; Aldilla Stephanie, S.H., LL.M.; dan Januar Dwi Putra, S.H., LL.M.

Dari pihak Universitas Gadjah Mada, kegiatan ini dihadiri oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, Ph.D., Dekan Fakultas Hukum, Dahliana Hasan, S.H., M.Tax., Ph.D., serta Kepala Biro Manajemen Strategis, Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dilakukan oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dan CEO IOJI, Dr. Mas Achmad Santosa, sebagai simbol komitmen bersama dalam memperkuat pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi riset, pertukaran akademik, dan pengembangan kebijakan berbasis bukti untuk perlindungan ekosistem laut dan lingkungan hidup.

Sebagai tindak lanjut konkret dari MoU tersebut, kedua institusi juga menandatangani dua Perjanjian Kerja Sama (PKS).

  • PKS pertama ditandatangani oleh Dekan Fakultas Hukum UGM, Dahliana Hasan, S.H., M.Tax., Ph.D., dan CEO IOJI, Dr. Mas Achmad Santosa, dengan fokus pada pengembangan konsep hukum di era Antroposen melalui pendekatan inovatif “Law in the Anthropocene”. Pendekatan ini menekankan pentingnya hukum dalam merespons perubahan sosial dan ekologis akibat aktivitas manusia yang masif terhadap bumi.

  • PKS kedua ditandatangani oleh Kepala Biro Manajemen Strategis UGM, Dr. Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D., bersama CEO IOJI, yang berfokus pada pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi untuk mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan.

Melalui kerja sama ini, UGM dan IOJI berkomitmen untuk memperkuat kapasitas akademik, penelitian, dan kebijakan nasional dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan hidup di era modern. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat membuka peluang strategis bagi perluasan jejaring internasional, sekaligus meningkatkan akses terhadap berbagai skema pendanaan global yang berfokus pada isu lingkungan, perubahan iklim, serta tata kelola laut yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Sinergi antara UGM dan IOJI menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas sektor antara dunia akademik, pembuat kebijakan, dan masyarakat sipil memegang peranan penting dalam menjaga masa depan bumi dan memastikan keadilan ekologis bagi generasi mendatang.

Penulis: BMS UGM

Foto: UGM Jakarta & IOJI

Dokumentasi kegiatan.

Sustainable Future Leader Series: Penguatan Peran Strategis UGM dalam Pencapaian Ketahanan Air Global

Kegiatansdgs Sabtu, 16 Agustus 2025

Yogyakarta, 15 Agustus 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) terus menunjukkan komitmennya dalam menjawab tantangan global terkait sumber daya air melalui kegiatan Sustainable Future Leader Series bertema “Penguatan Peran Strategis UGM dalam Pencapaian Ketahanan Air Global.”

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Gugus Tugas Water Security bekerja sama dengan Biro Manajemen Strategis (BMS) UGM, dan dihadiri oleh para pakar, peneliti, serta dosen lintas disiplin ilmu yang berfokus pada isu sumber daya air. Diskusi ini menjadi wadah penting bagi UGM untuk mempertegas peran strategisnya dalam membangun ketahanan air, baik di tingkat nasional maupun global.

Ketahanan Air sebagai Isu Strategis Global

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ova Emilia, Ph.D., menekankan bahwa ketahanan air bukan hanya persoalan teknis semata, tetapi juga persoalan strategis yang menyangkut keberlanjutan hidup manusia dan kesejahteraan global.

“Ketahanan air bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan strategis. UGM telah menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat peran di tingkat global melalui pembentukan task force sebagai tindak lanjut dari World Water Forum ke-10 di Bali,”

— Prof. Ova Emilia, Ph.D. (Rektor Universitas Gadjah Mada)

Senada dengan itu, Prof. Dr. Ir. Joko Sujono, M.Eng., Guru Besar UGM di bidang Sumber Daya Air dan Hidrologi, menegaskan bahwa Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan serius dalam pengelolaan sumber daya air, mulai dari krisis ketersediaan air, distribusi yang tidak merata, hingga penurunan kualitas air dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

“Indonesia menghadapi berbagai tantangan sumber daya air: krisis air, distribusi tidak merata, isu kualitas, dan bencana. UGM telah berkontribusi melalui beragam penelitian dan pengabdian masyarakat, termasuk KKN-PPM,”

— Prof. Dr. Ir. Joko Sujono, M.Eng.

Tantangan Global dan Ancaman Krisis Air

Krisis air menjadi salah satu isu lingkungan paling mendesak di dunia. Saat ini, 2,2 miliar orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman, dan 3,5 miliar orang belum mendapatkan sanitasi layak. Tantangan ini sering disebut sebagai fenomena “too much, too little, too polluted” air yang terlalu banyak (banjir), terlalu sedikit (kekeringan), dan terlalu tercemar.

Menurut Retno Marsudi, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, kondisi global menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: pada tahun 2040, sekitar 40% populasi dunia terancam kekurangan air. Di Indonesia sendiri, kebutuhan air diproyeksikan meningkat hingga 31% pada tahun 2040, yang dapat mengancam pencapaian target Indonesia Emas 2045 jika tidak segera diantisipasi.

Peran Strategis UGM: Inovasi, Regenerasi, dan Kolaborasi

Dalam menjawab tantangan tersebut, UGM berkomitmen memperkuat kontribusinya melalui dua jalur utama:

  1. Inovasi teknologi hemat air dan berbasis alam, seperti pengembangan sistem daur ulang air, teknologi filter air sederhana, irigasi efisien, serta pembelajaran dari praktik-praktik tradisional seperti Subak Bali yang telah terbukti menjaga keseimbangan ekologi dan sosial.

  2. Regenerasi para pakar dan ahli lintas disiplin di bidang air, guna memperkuat kapasitas akademik dan memastikan keberlanjutan kontribusi Indonesia terhadap solusi ketahanan air dunia.

Sesi Diskusi: Perspektif Multidisiplin UGM untuk Ketahanan Air

Dalam sesi diskusi, para dosen dan peneliti UGM dari berbagai fakultas menyampaikan pandangan mereka tentang strategi membangun ketahanan air nasional dan global.

Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, ASEAN.Eng., menyoroti pentingnya riset dan pendidikan tinggi dalam memperkuat sumber daya manusia unggul di bidang air.

“UGM mengembangkan riset dan pendidikan bidang sumber daya air, dari teknologi tepat guna hingga program magister, untuk mempercepat penyiapan SDM unggul. Upaya ini mendukung ketahanan air global dan memperkuat peran negara-negara Global South dalam menghadapi tantangan air, pangan, dan iklim,”

— Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D.

Sementara itu, Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, Circ&Med, AIFM, menekankan hubungan erat antara ketahanan air dan kesehatan manusia.

“Ketahanan air berhubungan langsung dengan kesehatan, karena keseimbangan cairan tubuh sangat vital bagi organ, sehingga diperlukan kontrol penggunaan air, pengelolaan air bersih, dan pemanfaatan teknologi desalinasi untuk keberlanjutan,”

— Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro

Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM, ASEAN Eng., menambahkan bahwa partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci keberhasilan dalam menjaga ketahanan air.

“Ketahanan air hanya bisa dicapai jika seluruh masyarakat terlibat aktif mengatasi masalah air melalui gerakan bersama, misalnya melalui gerakan memanen hujan dan gerakan menjaga sungai,”

— Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono

Dari perspektif tata ruang, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D., menyoroti pentingnya perencanaan kota yang harmonis.

“Pada 2050, 70% penduduk dunia akan tinggal di kota sehingga kebutuhan air meningkat pesat. Karena itu, penataan ruang yang harmonis antara hulu dan hilir menjadi kunci menjaga ketahanan air,”

— Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono

Sementara itu, Prof. Dr. Drs. Eko Haryono, M.Si., menyoroti peran UGM dalam konservasi kawasan karst sebagai sumber air alami.

“UGM berperan dalam konservasi karst, termasuk mengusulkan akuifer Gunung Sewu sebagai warisan penting dunia. Dukungan pemerintah serta UNESCO dibutuhkan untuk memperkuat konservasi karst sebagai aspek penting dalam ketahanan air,”

— Prof. Dr. Drs. Eko Haryono

Komitmen UGM untuk Masa Depan Air yang Berkelanjutan

Melalui kegiatan ini, UGM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran strategis dalam membangun ketahanan air melalui inovasi teknologi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, dan kolaborasi lintas sektor, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.

Diskusi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menghadirkan solusi aplikatif dan kolaboratif guna menjaga keberlanjutan sumber daya air demi kesejahteraan masyarakat dan kelangsungan hidup generasi mendatang.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Dokumentasi kegiatan.

KKN dalam Pandangan José Ramos-Horta: Ruang Tumbuh Pemimpin dan Perubahan Sosial

Kegiatan Jumat, 1 Agustus 2025

KKN dalam Pandangan José Ramos-Horta: Ruang Tumbuh Pemimpin dan Perubahan Sosial
Gagasan dan Harapan Peraih Nobel Perdamaian untuk Generasi Muda Indonesia

 

Menurut Presiden José Ramos-Horta, peraih Nobel Perdamaian, perdamaian sejati bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan perdamaian positif yang tumbuh dari rumah, sekolah, dan komunitas. Ia menegaskan bahwa perdamaian yang langgeng harus berakar pada rakyat sebagai pusat kebijakan, dengan menjunjung tinggi inklusivitas, keadilan hukum, serta perlindungan konstitusional. Selain itu, penghargaan terhadap keberagaman budaya, agama, dan bahasa, pemberdayaan komunitas lokal, pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, serta peningkatan peran dan kepemimpinan perempuan merupakan kunci dalam mewujudkan perdamaian berkelanjutan.

Bagi Ramos-Horta, kepemimpinan inspiratif adalah kemampuan membangkitkan potensi orang lain dan menggerakkan mereka menuju masa depan yang adil, inklusif, berkelanjutan, dan damai. Kepemimpinan seperti ini berpusat pada komunitas: mendengarkan kebutuhan mereka, menghargai kearifan lokal, serta memberdayakan masyarakat untuk memimpin perubahan. Nilai-nilai utama kepemimpinan inspiratif meliputi empati, ketekunan dan ketahanan, integritas, serta kemampuan menyampaikan visi. Ramos-Horta meyakini bahwa perubahan sosial sejati akan muncul ketika komunitas lokal dan institusi akademik bekerja sama, berdialog, dan menciptakan solusi bersama.

Berdasarkan pengalamannya dalam memimpin Timor Leste, Ramos-Horta menekankan tiga pilar penting perubahan sosial yaitu pendidikan, kewirausahaan sosial, dan perdamaian.
Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi sarana membebaskan pikiran dan kesadaran. Pengetahuan akademik harus keluar dari ruang kelas dan menjadi inkubator bagi usaha mikro dan kecil, bisnis keluarga, serta koperasi yang dapat berkembang di desa, kampung, ladang, dan pasar.
Kewirausahaan sosial dipandang sebagai alat untuk mengubah tantangan sosial menjadi peluang berkelanjutan. Karena itu, pemuda harus dilibatkan sebagai pusat kebijakan melalui berbagai program kepemimpinan.
Sementara itu, pilar perdamaian menjadi fondasi utama bagi pembangunan. Ramos-Horta menegaskan bahwa tanpa perdamaian, tidak akan ada pembangunan; dan rekonsiliasi hanya dapat terwujud melalui keberanian politik, dialog, serta rekonstruksi jaringan sosial.

Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi contoh nyata dari pendidikan yang berpadu dengan pemberdayaan masyarakat. Program ini menciptakan ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk menerapkan nilai-nilai kepemimpinan inspiratif dan transformasi sosial. Melalui KKN-PPM, mahasiswa belajar langsung dari komunitas, mendengarkan kebutuhan mereka, memahami kekuatan lokal, dan turut serta dalam proses perubahan sosial yang berkelanjutan.

Ramos-Horta menilai inisiatif UGM melalui KKN-PPM sebagai langkah yang sangat menginspirasi. Ia menyebut bahwa model ini layak diakui dan direplikasi secara global, karena menunjukkan bagaimana universitas dapat memimpin transformasi sosial.

“Jalani KKN dengan sepenuh hati. Kehadiran mahasiswa di masyarakat, dengan mendengar dan bertindak, sangat berharga karena setiap tindakan yang dilakukan akan menciptakan dampak yang abadi. Senantiasa terapkan prinsip kepemimpinan inspiratif: empati, ketahanan, integritas, dan visi dalam dalam setiap tindakan,” pesan Presiden José Ramos-Horta.

Dokumentasi selengkapnya.

Merawat Alam Merawat Masa Depan

Kajian Senin, 28 Juli 2025

World Nature Conservation Day atau Hari Konservasi Alam Sedunia diperingati setiap 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga sumber daya alam seperti hutan, air, tanah, dan satwa liar.

Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), konservasi adalah kunci keberlanjutan kehidupan karena 100% aktivitas manusia bergantung pada alam mulai dari makanan, air bersih, hingga udara yang kita hirup.Namun eksploitasi berlebihan, pencemaran, dan alih fungsi lahan telah menyebabkan kerusakan yang serius.

Konservasi alam harus menjadi prioritas karena kondisi bumi semakin mengkhawatirkan. Setiap tahun, sekitar 15 miliar pohon ditebang, menyebabkan hilangnya habitat alami dan menurunkan kemampuan bumi dalam menyerap karbon. Akibatnya, lebih dari 1 juta spesies kini terancam punah (IPBES, 2019), menandakan krisis keanekaragaman hayati yang serius. Di saat yang sama, suhu bumi telah meningkat lebih dari 1,1°C sejak era pra-industri (IPCC, 2023), memperburuk dampak perubahan iklim seperti kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem. Tak hanya itu, lebih dari 8 juta ton plastik mencemari lautan setiap tahun (UNESCO, 2022), mengancam ekosistem laut dan rantai makanan manusia. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa konservasi alam bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mendesak untuk memastikan keberlanjutan kehidupan di bumi.

Universitas Gadjah Mada (UGM) berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengembangan teknologi berkelanjutan. Melalui pengelolaan Hutan Wanagama di Gunungkidul, UGM menjadikannya sebagai laboratorium alam untuk kegiatan konservasi, pendidikan ekologi, serta rehabilitasi lahan kritis. Dalam bidang inovasi teknologi, UGM telah mengembangkan GATe (Gadjahmada Airport Transporter Electric), kendaraan listrik yang dirancang untuk mendukung transportasi ramah lingkungan di kawasan bandara. Komitmen terhadap energi bersih juga diwujudkan melalui pemanfaatan sistem fotovoltaik (PLTS) pada sejumlah gedung, seperti Fakultas Teknik dan kompleks pertanian (Agrokompleks), guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Selain itu, melalui UGM Green Campus Initiative, universitas ini menerapkan berbagai langkah nyata seperti efisiensi energi, konservasi air, pemilahan sampah, serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, menjadikan UGM sebagai salah satu pionir dalam praktik keberlanjutan di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia.

Setiap orang dapat berkontribusi dalam menjaga kelestarian bumi melalui langkah-langkah kecil yang sederhana namun berdampak besar. Kita bisa mulai dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan menggunakan botol minum, tas kain, dan tempat makan sendiri, serta biasakan memilah sampah organik dan anorganik untuk mendukung sistem daur ulang. Dalam hal mobilitas, pilih berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum, dan jika memungkinkan, manfaatkan kendaraan listrik seperti bus kampus yang lebih ramah lingkungan. Saat berbelanja, belilah seperlunya dan hindari produk fast fashion atau barang sekali pakai, karena setiap produk memiliki jejak karbon dan limbah yang memengaruhi bumi. Selain itu, kita dapat memperluas dampak dengan mengikuti seminar, workshop, atau kelas terbuka tentang lingkungan, lalu membagikan pengetahuan tersebut melalui media sosial, komunitas, atau keluarga. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, kita turut membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Sudahkah kamu berkontribusi untuk bumi hari ini?

Penulis: BMS

Foto: BMS

Hari Mangrove Sedunia: Merawat Akar Kehidupan Pesisir

Kajian Sabtu, 26 Juli 2025

Sebagai sistem transisi antara daratan dan lautan, mangrove memainkan peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem bumi. Ia bukan sekadar barisan pohon di pesisir, melainkan benteng kehidupan yang menyediakan jasa lingkungan esensial bagi manusia dan keanekaragaman hayati.

Namun, di tengah meningkatnya tekanan antropogenik dan perubahan tata guna lahan, hutan mangrove terus menghadapi ancaman degradasi. Untuk itu, Hari Mangrove Sedunia, yang diperingati setiap 26 Juli, menjadi momen penting untuk menumbuhkan kesadaran global akan pentingnya perlindungan dan pengelolaan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

Peran Penting Mangrove bagi Kehidupan

1. Ketahanan Pangan
Mangrove merupakan habitat yang kaya akan keanekaragaman hayati dan menjadi sumber pangan bagi berbagai jenis hewan serta komunitas pesisir yang bergantung padanya untuk kehidupan sehari-hari.

2. Mitigasi Iklim
Ekosistem mangrove dikenal sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang sangat efektif. Satu hektar hutan mangrove dapat menyimpan hingga 3.754 ton karbon, menjadikannya salah satu ekosistem paling penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

3. Pertahanan dari Bencana Alam
Mangrove berfungsi sebagai pelindung alami pesisir dari gelombang badai, tsunami, kenaikan permukaan laut, dan erosi. Sabuk mangrove sepanjang 500 meter bahkan mampu mengurangi tinggi gelombang hingga 50–99%, melindungi kehidupan dan infrastruktur di wilayah pesisir.

Ancaman terhadap Keberlanjutan Hutan Mangrove

  1. Alih Fungsi Lahan
    Konversi lahan untuk budidaya perairan, pembangunan infrastruktur, permukiman, dan pertanian terus menggerus luasan ekosistem mangrove.

  2. Pencemaran
    Aliran limbah dari sungai dan lautmulai dari polusi plastik hingga tumpahan minyak menghambat pertumbuhan mangrove dan mengancam keseimbangan ekosistem.

  3. Pembukaan Lahan Liar
    Aktivitas pembukaan lahan tanpa perencanaan dan pengelolaan yang memadai sering kali mengakibatkan kerusakan habitat alami mangrove.

  4. Eksploitasi Kayu
    Penebangan kayu mangrove untuk industri arang dan kebutuhan ekonomi lainnya menyebabkan degradasi ekologis jangka panjang.

Komitmen UGM terhadap Pelestarian Mangrove

Sebagai institusi pendidikan yang berkomitmen pada keberlanjutan dan mitigasi perubahan iklim, Universitas Gadjah Mada (UGM) aktif berkontribusi dalam pelestarian ekosistem mangrove melalui berbagai inisiatif nyata:

Penanaman Mangrove di Batam

UGM melaksanakan kegiatan penanaman mangrove di Kampung Tua Bakau Serip, Kota Batam, Kepulauan Riau, sebagai bagian dari program KKN-PPM UGM. Inisiatif ini mengajak mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Pelatihan Pencatatan Stok Karbon Mangrove

UGM juga melatih 80 peneliti dan petugas pencatatan stok karbon dari berbagai daerah di Indonesia. Pelatihan ini membekali mereka dengan keahlian teknis dalam mengukur dan memantau serapan karbon mangrove, guna mendukung kebijakan nasional mitigasi iklim berbasis data.

Aksi Nyata UKM UGM di Baros

Melalui kolaborasi antara UKM Renang UGM (SIGMA) dan Organisasi Peradilan Semu Fakultas Hukum UGM (SPARTA UGM), kegiatan Bakti Sosial di Kawasan Mangrove Baros, Bantul menjadi wujud nyata kepedulian sivitas akademika terhadap lingkungan. Kegiatan yang digelar pada 17 Mei 2025 ini menghadirkan dua agenda utama: seminar lingkungan dan penanaman mangrove.

Menumbuhkan Harapan, Menjaga Kehidupan

Melalui edukasi, aksi nyata, dan kolaborasi lintas disiplin, UGM terus berupaya membangun kesadaran akan pentingnya menjaga mangrove sebagai warisan alam yang menopang kehidupan. Karena menjaga mangrove berarti menjaga masa depan pesisir, iklim, dan generasi yang akan datang.

Penulis: BMS UGM

Gambar: BMS UGM

Source: 

http://unesco.org/en/days/mangrove-ecosystem-conservation

https://www.kompas.id/artikel/plastik-limbah-dan-alih-fungsi-lahan-masih-jadi-ancaman-mangrove

https://ditmawa.ugm.ac.id/2025/05/ukm-renang-ugm-hijaukan-mangrove-baros-aksi-nyata-peduli-lingkungan/

https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-latih-petugas-pencatatan-stok-karbon-mangrove-di-indonesia/

https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ppm-ugm-lakukan-penanaman-mangrove-di-kampung-tua-bakau-serip-kota-batam-kepulauan-riau/

Saat Kapasitas Bumi Tidak Lagi Mencukupi: Memahami Earth Overshoot Day

Kajian Kamis, 24 Juli 2025

Earth Overshoot Day menandai tanggal ketika umat manusia telah menggunakan seluruh sumber daya alam yang dapat dipulihkan oleh Bumi dalam satu tahun. Setelah hari itu, kita hidup “berhutang” pada alam  menggunakan cadangan sumber daya dan melampaui kapasitas pemulihan planet ini.

Setiap tahun, hari ini datang lebih awal. Artinya, kita semakin cepat mengonsumsi sumber daya dan menghasilkan emisi yang melebihi batas kemampuan Bumi untuk memulihkannya.

Pada tahun 2025, Earth Overshoot Day jatuh pada 24 Juli. Sejak tanggal tersebut, manusia telah menghabiskan seluruh “jatah” sumber daya alam untuk tahun ini dan sisanya, kita hidup dengan hutang ekologis.

Kondisi ini dapat dianalogikan seperti menguras tabungan.
Bayangkan kita memiliki penghasilan 100 juta rupiah per tahun, tetapi sudah menghabiskannya seluruhnya di bulan Juli. Maka, mulai Agustus hingga Desember, kita harus hidup dari hutang. Begitu pula dengan Bumi, kita mengambil lebih banyak daripada yang bisa ia hasilkan kembali.

Bagaimana Mencegah Overshoot Terjadi Terlalu Awal?

Untuk menunda datangnya Earth Overshoot Day dan menjaga keseimbangan ekologi global, diperlukan perubahan sistemik dan gaya hidup yang lebih berkelanjutan.

1. Lindungi dan Pulihkan Ekosistem

Konservasi hutan, mangrove, dan keanekaragaman hayati berperan penting dalam menyerap karbon dan menjaga keseimbangan ekologis.

 2. Desain Ulang Kota dan Infrastruktur

Mendorong kota yang lebih padat, hijau, dan ramah pejalan kaki dapat mengurangi kebutuhan transportasi berbahan bakar fosil.

3. Transisi ke Energi Terbarukan dan Efisiensi

Menggantikan bahan bakar fosil dengan panel surya, energi angin, dan biogas, serta meningkatkan efisiensi energi bangunan, dapat menunda Overshoot Day hingga 93 hari.

4. Ubah Pola Konsumsi Makanan

Mengurangi limbah makanan dan beralih ke pola makan berbasis nabati dapat menurunkan tekanan terhadap lahan, air, dan sumber daya alam lainnya.

5. Edukasi dan Pemberdayaan Keluarga

Memberikan akses kesehatan reproduksi, pendidikan bagi perempuan, serta mendorong pilihan keluarga berkelanjutan, berkontribusi signifikan terhadap keseimbangan planet di masa depan.

Peran Universitas Gadjah Mada dalam Menjaga Daya Dukung Bumi

Sebagai perguruan tinggi yang berkomitmen pada keberlanjutan dan tanggung jawab ekologis, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil langkah nyata dalam mendukung transisi menuju kampus rendah emisi dan berkelanjutan.

Transportasi Ramah Lingkungan

UGM telah mengoperasikan bus dan kendaraan listrik di area kampus untuk mengurangi emisi dari aktivitas transportasi harian sivitas akademika.

Energi Terbarukan

Beberapa gedung UGM termasuk Fakultas Teknik, Perpustakaan Pusat, dan Gedung Pusat UGM  telah menggunakan sistem fotovoltaik (solar panel) sebagai bagian dari komitmen menuju energi bersih.

Inovasi Pertanian Berkelanjutan

Melalui Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) di Berbah, Sleman, UGM mengembangkan pertanian cerdas dan efisien: dari produksi sayuran organik, konservasi tanah, hingga teknologi irigasi tetes.

Kampus Hijau dan Ruang Terbuka

UGM menanam ribuan pohon dalam beberapa tahun terakhir, menciptakan ruang hijau seperti Hutan Kampus (Arboretum), Taman Biologi, dan area interaktif terbuka yang mendukung keseimbangan ekologis.

Komitmen Menuju Net Zero Emission

Melalui Program Net Zero Emission Campus, UGM menargetkan pencapaian emisi nol bersih dengan implementasi keberlanjutan di seluruh aspek kehidupan kampus serta menjalin kerja sama dengan mitra internasional untuk memperkuat aksi iklim global.

Earth Overshoot Day bukan sekadar peringatan, melainkan pengingat moral dan ilmiah bahwa gaya hidup manusia perlu berubah.Melalui kolaborasi, inovasi, dan kesadaran ekologis, kita dapat menunda hari Overshoot Day dan memberi waktu bagi Bumi untuk bernafas kembali.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Source:

https://overshoot.footprintnetwork.org/about-earth-overshoot-day/

https://www.overshootday.org/solutions/planet/

https://www.overshootday.org/solutions/cities/

https://www.overshootday.org/solutions/energy/

https://www.overshootday.org/solutions/food/

https://www.overshootday.org/solutions/population/

https://overshoot.footprintnetwork.org/

https://www.footprintnetwork.org/

Generasi Anak Berkualitas: Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Kajian Rabu, 23 Juli 2025

Mewujudkan Indonesia Emas tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. Anak-anak adalah investasi masa depan bangsa. Kualitas mereka akan menentukan kualitas pemimpin, tenaga kerja, dan warga negara Indonesia di masa depan.

Tahun 2045, Indonesia diprediksi memiliki penduduk usia produktif yang lebih besar. Anak-anak hari ini, akan menjadi bagian dari usia produktif tersebut. Oleh karena itu, memastikan mereka tumbuh dengan akses yang memadai adalah langkah strategis untuk membangun masa depan bangsa yang tangguh dan berdaya saing.

Tantangan Bagi Kualitas Anak Indonesia

  1. 1 dari 5 anak mengalami stunting (19,8%), berdampak pada perkembangan otak dan produktivitas.
  2. Lebih dari 4 juta anak usia 7–18 tahun tidak bersekolah dan 57% anak penyandang disabilitas tidak mengakses pendidikan.
  3. 25,53 juta perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, menjadikan Indonesia peringkat ke-4 dunia dalam pernikahan anak.
  4. Kekerasan terhadap anak masih tinggi, mulai dari fisik, verbal, hingga seksual.

Strategi Kunci:Perlindungan Anak di Berbagai Bidang

Gizi dan Kesehatan

  • Optimalisasi pemenuhan gizi pada Seribu Hari Pertama Kehidupan.
  • Pencegahan dan penanganan stunting serta gizi buruk.
  • Peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap.
  • Akses layanan kesehatan ibu dan anak yang berkualitas.

Pendidikan

  • Perluasan akses pendidikan yang merata dan inklusif.
  • Penanganan anak putus sekolah dan anak yang belum terlayani pendidikan formal.
  • Pemenuhan hak belajar anak penyandang disabilitas.

Perlindungan Sosial

  • Pencegahan kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran anak.
  • Penghapusan praktik pernikahan anak.
  • Penguatan sistem pelaporan dan penanganan kasus kekerasan.
  • Peningkatan kapasitas lembaga dan tenaga pendamping anak.

Peran Universitas

  1. Program edukasi kesehatan anak, gizi, dan perlindungan sosial melalui KKN dan pengabdian masyarakat.
  2. Riset terapan dan inovasi di bidang gizi kesehatan untuk mengatasi stunting.
  3. Advokasi publik untuk mendorong perlindungan anak dalam kebijakan nasional dan lokal.
  4. Penyusunan rekomendasi kebijakan berdasarkan kajian dan praktik lapangan.

Kontribusi Universitas Gadjah Mada untuk Mendukung Kesejahteraan Anak

Inovasi pangan untuk pemenuhan gizi dan mengatasi stunting

  • Pilot project pemberian beras fortifikasi.
  • Produk beras Presokazi untuk mengatasi permasalahan kekurangan gizi.
  • Sprouted Snack Bar, makanan tambahan berbasis sumberdaya lokal.

Pengabdian Masyarakat dengan Edukasi dan Penguatan Kapasitas

  • Sosialisasi dan Pelatihan Pencegahan Stunting.
  • Sosialisasi dampak pernikahan dini.
  • Pendampingan Desa Ramah Anak.

Advokasi Kebijakan

  • Penyusunan Policy brief percepatan penurunan stunting.

 

Penulis: BMS UGM

Gambar: BMS UGM

Source:

https://data.unicef.org/resources/is-an-end-to-child-marriage-within-reach/

https://www.unicef.org/indonesia/id/pendidikan-dan-remaja

https://kemenkopmk.go.id/menuju-indonesia-emas-2045-pemerintah-siapkan-generasi-muda-unggul-dan-berdaya-saing

https://pkgm.fk.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/1080/2022/11/Policy-Brief-Kedaireka-Jogja-ISTIMEWA.pdf

UGM Supports Save Soil Movement: Sahil Jha Cycling Across 4 Continents

Kegiatansdgs Sabtu, 14 Juni 2025

Yogyakarta, 13 Juni 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan dan konservasi tanah dengan berkolaborasi bersama gerakan internasional Save Soil. Dukungan ini diwujudkan melalui kegiatan “Save Soil Movement: Sahil Jha Cycling Across 4 Continents”, sebuah ekspedisi sepeda lintas negara yang diinisiasi oleh Sahil Jha, aktivis muda yang mengampanyekan kesadaran global tentang pentingnya menjaga kesehatan dan keberlanjutan tanah.

Kegiatan ini diawali dengan penyambutan resmi terhadap Sahil Jha di UGM, sebagai simbol penghormatan dan apresiasi atas dedikasi dan perjuangannya dalam mengedukasi publik tentang isu konservasi tanah. Setelah sesi penyambutan, acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang menghadirkan para pakar dari UGM dan perwakilan dari Save Soil Movement.

Tanah: Fondasi Kehidupan dan Kunci Keberlanjutan

Dalam kesempatan tersebut, Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D., selaku Kepala Biro Manajemen Strategis UGM, menegaskan bahwa tanah merupakan elemen dasar kehidupan yang memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem global.

“Tanah adalah sumber kehidupan, fondasi sistem pangan, air, dan hutan. Tanah memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim karena kemampuannya menyimpan karbon dan mengatur emisi gas rumah kaca,”
— Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D. (Kepala Biro Manajemen Strategis UGM)

Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Praveena Shridar, Chief Science & Technology Officer Save Soil Movement, yang menekankan pentingnya peran universitas dan negara agraris seperti Indonesia dalam mendorong praktik pertanian berkelanjutan untuk menahan laju degradasi tanah.

“Universitas dan negara agraris seperti Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong praktik pertanian berkelanjutan guna menahan laju degradasi tanah,”
— Praveena Shridar (Chief Science & Technology Officer, Save Soil Movement)

Pandangan Akademisi UGM tentang Kesehatan Tanah

Dari sisi akademik, Prof. Benito Heru Purwanto, Dosen Fakultas Pertanian UGM, menegaskan bahwa tanah adalah elemen vital yang sangat rentan terhadap kerusakan. Ia menyoroti pentingnya edukasi dan peningkatan kesadaran publik sebagai langkah awal dalam menjaga keberlanjutan tanah.

“Tanah merupakan elemen vital dalam ekosistem yang sangat rentan terhadap kerusakan dan membutuhkan waktu lama untuk pulih. Edukasi dan peningkatan kesadaran publik harus menjadi prioritas,”
— Prof. Benito Heru Purwanto (Fakultas Pertanian UGM)

Suara Generasi Muda untuk Tanah yang Sehat

Aktivis muda Sahil Jha, yang menjadi figur utama dalam ekspedisi lintas benua ini, mengungkapkan bahwa isu kesehatan tanah harus menjadi perhatian generasi muda di seluruh dunia. Melalui kampanye Save Soil, ia mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap tanah sebagai sumber utama kehidupan.

“Tanah yang sehat adalah kunci untuk menghasilkan makanan berkualitas dan menjaga kelangsungan hidup manusia. Generasi muda perlu menyuarakan isu ini melalui aksi nyata dan media sosial,”
— Sahil Jha (Aktivis Save Soil)

Senada dengan hal tersebut, Raline Shah, yang turut hadir sebagai Duta Save Soil, menekankan bahwa tanah bukan sekadar komponen fisik dari pertanian, melainkan bagian integral dari kehidupan manusia dan keseimbangan alam.

“Tanah bukan sekadar elemen pertanian, melainkan fondasi kehidupan dan kesehatan manusia, serta berperan menunjang ketahanan pangan dan keseimbangan ekosistem,”
— Raline Shah (Duta Save Soil)

Komitmen UGM untuk Konservasi Tanah dan Ketahanan Pangan

Kegiatan kolaboratif ini tidak hanya menjadi bentuk dukungan terhadap perjuangan pribadi Sahil Jha, tetapi juga mencerminkan komitmen UGM sebagai Centre of Excellence Working Group Food Security dalam memperkuat peran akademisi dan peneliti dalam menghadirkan solusi ilmiah terhadap isu degradasi tanah dan perubahan lingkungan.

Melalui riset, inovasi teknologi, dan advokasi kebijakan, UGM berupaya mengembangkan pendekatan ilmiah dan aplikatif yang dapat memperkuat konservasi tanah, ketahanan pangan, dan keberlanjutan ekosistem.

Kegiatan ini diharapkan menjadi awal kolaborasi lanjutan antara UGM dan Save Soil, yang melibatkan penelitian bersama, advokasi kebijakan lingkungan, serta program edukasi publik di bidang soil security, lingkungan hidup, dan pertanian berkelanjutan.

Dengan langkah nyata ini, UGM terus memperkuat perannya sebagai universitas yang berkomitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, sekaligus mendukung gerakan global untuk menyelamatkan tanah  sumber kehidupan bagi seluruh makhluk di bumi.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS & Humas UGM

Dokumentasi kegiatan.

Refleksi Nilai Pancasila Sebagai Dasar Strategi yang Etis dan Berintegritas

Kajian Minggu, 1 Juni 2025

Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI melalui pidato Ir. Soekarno. Lima prinsip yang diajukan saat itu adalah Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial yang kemudian dirumuskan menjadi dasar negara Indonesia. Pancasila menjadi nilai yang menentukan arah masa depan bangsa. Seperti halnya bangsa membutuhkan nilai dasar dan ideologi, organisasi pun perlu nilai dasar sebagai pijakan dalam penentuan visi, misi, dan strategi. Nilai dasar penting untuk memberi arah, membentuk identitas, dan memastikan setiap tindakan sesuai dengan nilai yang diyakini. 

Pancasila Sebagai Landasan Moral dan Etika

Nilai-nilai dalam Pancasila juga menjadi panduan moral dan etika bagi strategi pembangunan bangsa. Pancasila memastikan bahwa strategi tidak hanya efektif, tetapi juga etis. Nilai moral dan etika dalam Pancasila tercermin dalam sila:

Ketuhanan yang Maha Esa Strategi dan keputusan yang diambil harus selaras dengan nilai moral dan spiritual.

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Strategi yang dijalankan menjunjung tinggi martabat manusia, mengedepankan keadilan, kesetaraan, dan perlakuan yang beradab terhadap setiap individu.

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia Strategi diarahkan untuk menciptakan manfaat yang adil dan merata bagi semua pihak.

Sebagaimana nilai-nilai Pancasila, nilai-nilai organisasi juga akan lebih bermakna dan berdaya guna jika berpijak pada prinsip etika dan moral dalam merancang serta menjalankan strateginya.

Nilai Pancasila dalam Universitas Gadjah Mada

Nilai-nilai Pancasila tidak hanya menjadi semboyan, tetapi juga menjadi landasan etika dan moral yang diintegrasikan ke dalam strategi, kebijakan, dan praktik nyata di UGM.

Kebijakan Antidiskriminasi dan Antikekerasan UGM memperjuangkan kesetaraan bagi semua orang melalui penghapusan diskriminasi dan kekerasan di lingkungan kampus. Kebijakan ini mencerminkan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Layanan dan Fasilitas yang Inklusif UGM berkomitmen menjadi insitusi ramah disabilitas melalui penyediaan layanan dan fasilitas yang inklusif. Langkah ini mencerminkan komitmen UGM untuk mewujudkan kesetaraan dan perlakuan yang bermartabat bagi setiap individu.

Komitmen Sebagai Kampus Ramah Lingkungan UGM juga mewujudkan prinsip etika dan moral pada lingkungan, salah satunya melalui penggunaan energi bersih dan transportasi ramah lingkungan. Hal ini merupakan upaya untuk menciptakan manfaat yang merata, tidak hanya bagi masyarakat saat ini, tetapi juga untuk generasi masa depan.

Penulis: BMS UGM

Gambar: BMS UGM

Source:

  • Rencana Strategis Universitas Gadjah Mada 2022 – 2027
  • Rochman, R & Grisson, P. (2023). Penerapan Pancasila dalam Etika Bisnis https://jurnal.uns.ac.id/indigenous/article/download/78963/pdf
  • Priwardani, A., Monika, A., & Yaasiin, M. (2023). Pancasila Sebagai Sistem Etika https://jurnal.uns.ac.id/indigenous/article/download/79642/pdf
  • https://ugm.ac.id/id/berita/22717-ugm-kampus-anti-kekerasan/

Mengenal Strategic Sparring Session

Kajian Kamis, 15 Mei 2025

Strategic Sparring Session adalah sebuah metode diskusi yang menekankan partisipasi aktif dari seluruh anggota untuk mengumpulkan data, menguji asumsi, dan mencapai konsensus strategis yang matang. Tidak seperti rapat pada umumnya yang cenderung berfokus pada penyampaian informasi satu arah, strategic sparring session menuntut setiap peserta untuk terlibat secara aktif dalam dialog dua arah, berbagi pandangan yang didukung oleh data, serta berperan dalam memperkuat arah strategi bersama.

Perbedaannya dengan rapat biasa cukup jelas. Jika rapat atau diskusi umumnya bertujuan untuk berbagi informasi dan membuat kesepakatan umum dengan partisipasi yang sering kali terbatas oleh hierarki, maka strategic sparring session berorientasi pada pembangunan konsensus strategis melalui diskusi berbasis data dan keterlibatan aktif semua anggota. Hasil dari sesi ini bukan sekadar kesimpulan, melainkan arah strategi yang lebih kuat dan teruji.

Metode ini penting karena dapat menghasilkan keputusan yang lebih matang, terutama dalam menentukan langkah strategis untuk masa depan. Dengan menyiapkan data, menguji asumsi, dan membuka ruang diskusi yang setara, sesi ini membantu organisasi mengambil keputusan yang lebih rasional dan terarah. Selain itu, strategic sparring session mendorong diskusi yang inklusif, di mana setiap peserta tidak hanya hadir, tetapi juga berkontribusi aktif dengan pandangan berbasis data. Pendekatan ini juga membantu mengatasi bias dan groupthink, melalui teknik seperti walk the line yang dirancang untuk menumbuhkan keterbukaan dan keberanian dalam berpendapat.

Agar berjalan efektif, terdapat beberapa prinsip utama yang perlu diterapkan. Pertama, diskusi harus diarahkan secara inklusif, menghindari pola presentasi satu arah. Kedua, setiap argumen harus berbasis data terbaru, meski data tersebut belum sepenuhnya sempurna. Ketiga, fokus diskusi diarahkan pada asumsi, bukan opini pribadi, agar pembahasan tetap objektif. Keempat, keterbukaan menjadi kunci utama, sehingga anggota dapat mendalami isu dengan perspektif yang lebih luas dan mendalam.

Dengan mengedepankan partisipasi aktif, keterbukaan, dan analisis berbasis data, strategic sparring session membantu organisasi menghasilkan strategi yang lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

1234

Recent Posts

  • Pemimpin Strategis Berdampak: Kepemimpinan yang Menciptakan Nilai bagi Organisasi
  • Hari Kependudukan Dunia 2026: Membangun Manusia untuk Kehidupan yang Lebih Berkualitas
  • Dukung Pemulihan Pascabencana, UGM dan KAGAMA Serahkan Hunian Sementara bagi Warga Sekumur
  • Hari Kelautan Nasional 2026: Laut Indonesia sebagai Fondasi Masa Depan Bangsa
  • Hari Tropis Internasional 2026: Meneguhkan Peran Wilayah Tropis untuk Masa Depan Bumi

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Archives

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Oktober 2024

Categories

  • Campus Tour
  • Kajian
  • Kegiatan
  • sdgs
Universitas Gadjah Mada

Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada

Gedung Pusat UGM, Lantai 3 Sayap Barat, Bulaksumur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Email : bms@ugm.ac.id
Whatsapp : 0851-1784-8115

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY