Perayaan resmi Hari Buruh Internasional di Indonesia diawali pada 1 Mei 1946 yang ditetapkan pada masa pemerintahan Kabinet Sjahrir II. Hari Buruh memiliki arti penting untuk memperjuangkan hak dan menuntut kelayakan penghidupannya.
Di tengah dorongan global untuk pertumbuhan ekonomi tanpa henti, para pekerja/buruh kerap menjadi pihak yang rentan dieksploitasi guna mendapatkan keuntungan lebih. Human Sustainability menjadi relevan untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkeadilan.
Konsep Human Sustainability didefinisikan sebagai pendekatan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan menjaga keseimbangan ekologi agar dapat memastikan kesinambungan dan perkembangan dalam jangka waktu yang panjang
Fokusnya adalah pemberdayaan individu melalui peningkatan kesejahteraan fisik dan mental, penguatan kapasitas karier, hingga pencarian dan pemaknaan tujuan personal. Pendekatan ini menjadi alternatif pendekatan growth-at-all-cost yang hanya fokus pada pertumbuhan cepat tanpa memperhatikan kesejahteraan dan kepekerja berlanjutan perusahaan/organisasi.
Dalam dunia kerja dan organisasi modern, terdapat dua paradigma besar dalam memandang keberhasilan: Growth-at-All-Cost dan Human Sustainability. Keduanya berorientasi pada kemajuan, namun berbeda dalam cara mencapai tujuan tersebut.
Growth-at-All-Cost berfokus pada pertumbuhan dan pendapatan yang cepat, sering kali tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Pendekatan ini mengejar keuntungan jangka pendek, di mana kesejahteraan pekerja kerap diabaikan demi efisiensi dan hasil instan. Model seperti ini mungkin menghasilkan lonjakan kinerja sesaat, tetapi berisiko menimbulkan kelelahan, stres, dan menurunnya loyalitas karyawan, yang pada akhirnya dapat menghambat keberlanjutan organisasi itu sendiri.
Sebaliknya, Human Sustainability menempatkan manusia sebagai pusat dari keberhasilan organisasi. Tujuannya adalah mencapai keberhasilan jangka panjang dengan mempertimbangkan dampak berkelanjutan terhadap individu dan lingkungan kerja. Pendekatan ini memastikan bahwa kesejahteraan fisik dan mental pekerja diperhatikan, karena sumber daya manusia yang sehat, termotivasi, dan berkembang adalah fondasi dari produktivitas yang sejati.
Penerapan Human Sustainability dapat dilakukan melalui beberapa strategi utama. Pertama, perencanaan berbasis SDM, di mana pekerja dipandang sebagai aset utama organisasi. Investasi pada pengembangan keterampilan dan kapasitas menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Kedua, penerapan inklusivitas, yang menciptakan lingkungan kerja harmonis dan produktif dengan memastikan semua anggota merasa dihargai dan menjadi bagian penting dari organisasi. Ketiga, dorongan terhadap produktivitas yang berkelanjutan, yaitu produktivitas yang tidak hanya menekankan hasil kerja, tetapi juga pengembangan kemampuan dan keseimbangan hidup pekerja. Keempat, pengukuran kesejahteraan, dengan menetapkan metrik yang relevan untuk menilai dan meningkatkan kesejahteraan fisik serta mental secara berkala.
Dalam konteks perguruan tinggi, prinsip Human Sustainability juga memiliki relevansi besar. Perguruan tinggi dapat menerapkan perencanaan berbasis SDM dengan mengintegrasikan pengembangan kapasitas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa ke dalam rencana strategis kampus. Proses ini mencakup pemetaan kompetensi dan kebutuhan pengembangan agar setiap individu dapat tumbuh sesuai potensinya.
Selanjutnya, penerapan inklusivitas di lingkungan kampus perlu diwujudkan melalui kebijakan yang ramah bagi semua kalangan, termasuk kelompok minoritas, penyandang disabilitas, dan mahasiswa lintas budaya. Kebijakan nondiskriminatif yang tegas serta sistem pelaporan yang jelas akan memperkuat rasa aman dan kebersamaan.
Aspek produktivitas juga harus diperhatikan dengan menciptakan lingkungan belajar dan bekerja yang sehat, fleksibel, serta mendukung keseimbangan kehidupan akademik dan pribadi. Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi administratif dan akademik tanpa membebani SDM.
Terakhir, perguruan tinggi perlu memiliki sistem pengukuran kesejahteraan SDM yang terstruktur. Penetapan indikator kesejahteraan secara periodik serta integrasi survei dan evaluasi ke dalam sistem manajemen mutu dapat membantu kampus memastikan kesejahteraan sivitas akademika terus terjaga dan meningkat.
Dengan mengedepankan Human Sustainability, baik organisasi maupun perguruan tinggi tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga membangun ekosistem yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan, di mana keberhasilan manusia menjadi inti dari keberhasilan institusi.
Penulis: BMS UGM
Foto: BMS UGM