Hari Perempuan Internasional tahun 2025 mengusung tema “For All Women and Girls: Rights, Equality, Empowerment” Menekankan pentingnya memastikan hak, kesetaraan, dan pemberdayaan bagi semua perempuan untuk menciptakan masa depan yang inklusif dan adil.
Permasalahan Kesetaraan Gender di Indonesia masih menjadi isu penting yang membutuhkan perhatian dan aksi nyata dari berbagai pihak. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2023 terdapat 401.975 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, mencakup kekerasan psikis, seksual, fisik, hingga ekonomi. Angka ini menggambarkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi perempuan dalam memperoleh rasa aman dan keadilan. Selain itu, budaya patriarki yang masih melekat di sejumlah daerah turut menjadi penghambat partisipasi perempuan dalam pendidikan, pekerjaan, dan kepemimpinan, sehingga memperkuat ketimpangan peran gender dalam masyarakat.
Dari sisi ekonomi dan politik, kesenjangan juga masih nyata terlihat. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan pada tahun 2023 hanya 54%, jauh di bawah TPAK laki-laki yang mencapai 84%. Di ranah politik, persentase calon kepala daerah perempuan pada Pilkada 2024 hanya sebesar 10,66%, menunjukkan bahwa representasi perempuan dalam pengambilan keputusan publik masih sangat terbatas. Kondisi ini menegaskan pentingnya langkah strategis untuk memastikan kesetaraan kesempatan dan perlindungan bagi perempuan di semua bidang kehidupan.
Berbagai aksi strategis dapat dilakukan untuk memperkuat kesetaraan hak perempuan. Di antaranya, dengan mendorong kemudahan akses terhadap pendidikan dan pelatihan, memperkuat kebijakan dan regulasi perlindungan perempuan, serta menciptakan lingkungan sosial yang inklusif dan bebas diskriminasi. Selain itu, penting pula untuk memperkuat organisasi dan sistem perlindungan sosial agar perempuan memiliki ruang aman dan dukungan yang memadai dalam mengembangkan potensinya.
Sebagai institusi pendidikan yang berkomitmen pada nilai-nilai keadilan dan keberagaman, Universitas Gadjah Mada (UGM) turut berperan aktif dalam mendukung kesetaraan gender. UGM secara konsisten mengadakan seminar, simposium, dan workshop yang mengangkat isu gender untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan sivitas akademika. Melalui program pengabdian masyarakat, KKN-PPM, dan kegiatan Dharma Wanita Persatuan UGM, universitas juga berkontribusi dalam pelatihan dan pemberdayaan perempuan di berbagai daerah. Komitmen terhadap lingkungan kampus yang inklusif dan tanpa diskriminasi tertuang dalam Rencana Induk Kampus, sementara sistem perlindungan terhadap kekerasan diperkuat melalui Satgas PPKS dan Fisipol Crisis Center yang berfungsi memberikan perlindungan, pendampingan, dan edukasi.
Karena pada akhirnya, kesetaraan bukan hanya tentang perempuan melainkan tentang kemanusiaan. Ketika perempuan berdaya dan haknya setara, maka masa depan yang adil, aman, dan berkelanjutan pun akan tercipta.
Penulis: BMS
Foto: BMS
Sumber:
https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjIwMCMy/tingkat-partisipasi-angkatan-kerja-menurut-jenis-kelamin.html
https://komnasperempuan.go.id/download-file/1085
https://sustainabledevelopment.ugm.ac.id/2022/12/31/sdg-5-gender-equality/?form=MG0AV3&form=MG0AV3
https://www.un.org/en/observances/womens-day
https://kumparan.com/kumparannews/37-calon-kepala-daerah-di-jatim-perempuan-jadi-yang-terbanyak-di-indonesia-23e1LsL9TDs/4