• Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Profil
    • Struktur Biro
    • Visi dan Misi
    • Kontak
  • Kegiatan
    • Wanagama Nusantara
    • Forum Diskusi Ilmiah
    • Kajian
    • SDGS
  • PUAPT UGM
    • Tentang
    • Working Group Food Security
    • Working Group Health Autonomy
  • UGM Campus Tour
  • Galeri
  • Beranda
  • SDG 3: KEHIDUPAN SEHAT DAN SEJAHTERA
  • SDG 3: KEHIDUPAN SEHAT DAN SEJAHTERA
  • hal. 2
Arsip:

SDG 3: KEHIDUPAN SEHAT DAN SEJAHTERA

Strategi Relevan di Era Serba Cepat

Kajian Minggu, 1 Februari 2026

Relevan tidak hanya soal kecepatan, tapi juga tentang adaptivitas organisasi. Tahun yang baru, membawa semangat baru untuk maju. Mari bersama-sama belajar menjadi lebih adaptif dalam mewujudkan strategi, untuk mencapai tujuan organisasi! 📚🧑‍🏫💡 Biro Manajemen Strategis UGM

Jadi Versi Terbaik Dirimu di Tahun 2026!

Kajian Jumat, 23 Januari 2026

Di 2026, kepemimpinan adalah tentang konsistensi untuk menghadirkan versi terbaik setiap hari di setiap keputusan. Lebih sadar, lebih intentional, dan terus tumbuh meski tidak nyaman. Mulai sekarang, ambil satu aksi kecil dan tulis langkahmu untuk menunjukkan best self di 2026! Biro Manajemen Strategis UGM

Kolaborasi UGM dan Australian Catholic University Kembangkan Konsep Human Flourishing di DIY

Kegiatan Sabtu, 29 November 2025

Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Australian Catholic University (ACU) menjalin kolaborasi strategis untuk mengembangkan program berbasis konsep human flourishing atau kesejahteraan manusia yang utuh di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Konsep ini menekankan bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari aspek ekonomi, tetapi juga mencakup kesehatan fisik dan mental, kualitas hubungan sosial, rasa bermakna dalam hidup, serta peluang untuk berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat.

Dalam pertemuan antara pimpinan UGM dan delegasi ACU, kedua institusi membahas potensi pengembangan riset dan program kolaboratif yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat. Pendekatan human flourishing dipandang relevan untuk konteks Indonesia, khususnya DIY, yang dikenal memiliki dinamika menarik antara tantangan ekonomi dan tingginya tingkat kesejahteraan sosial.

Program yang dirancang mencakup tiga fokus utama, yaitu riset, pendidikan, dan pengabdian masyarakat. Pada aspek riset, UGM dan ACU akan mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi kesejahteraan masyarakat melalui indikator yang lebih luas dan tidak terbatas pada data ekonomi. Dalam aspek pendidikan, mahasiswa pascasarjana akan terlibat dalam kegiatan riset dan pelatihan untuk memperkuat kapasitas akademik. Sementara itu, pada aspek pengabdian masyarakat, kolaborasi ini akan menginisiasi program-program berbasis komunitas, seperti pengembangan pertanian modern melalui program Tandur Muda bagi generasi muda desa.

DIY dipilih sebagai lokasi implementasi karena wilayah ini menunjukkan fenomena unik: meski memiliki keterbatasan pada indikator ekonomi formal, tingkat kesejahteraan masyarakatnya cenderung tinggi. Melalui kolaborasi ini, tim peneliti berupaya menggali faktor-faktor non-ekonomi yang berperan dalam membentuk kualitas hidup masyarakat, serta memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah daerah mengenai pemahaman kesejahteraan yang lebih holistik.

Inisiatif bersama ini juga bertujuan memperluas studi human flourishing yang sebelumnya banyak berkembang di negara-negara bagian utara, sehingga memperkaya perspektif global dengan konteks Indonesia. Selain itu, program ini memperkuat hubungan antara Pemerintah Victoria dan Pemerintah DIY yang telah terjalin selama ini melalui berbagai kerja sama pendidikan dan penelitian.

Melalui pengembangan program human flourishing, UGM dan ACU berharap dapat menciptakan fondasi baru bagi penelitian dan inovasi sosial yang mendorong masyarakat DIY untuk hidup lebih sehat, lebih sejahtera, dan berkembang secara berkelanjutan. Temuan-temuan dari program ini diharapkan dapat diterapkan di wilayah lain di Indonesia maupun di tingkat internasional.

Dokumentasi selengkapnya.

Hari Tani Nasional: Dari Lahan Pertanian ke Ketahanan Pangan

Kajian Rabu, 24 September 2025

Diperingati setiap 24 September sejak tahun 1960, Hari Tani Nasional bertepatan dengan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)  tonggak sejarah dalam perjuangan mewujudkan keadilan agraria di Indonesia.
Momentum ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan tanah yang adil dan berkelanjutan, serta menegaskan peran sentral petani dan sektor pertanian dalam menopang ketahanan pangan dan kedaulatan bangsa.





Permasalahan Aktual Sektor Pertanian

Meskipun menjadi tulang punggung kehidupan dan ekonomi nasional, sektor pertanian Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius:

Kesejahteraan Petani yang Rendah

Pendapatan petani masih belum sebanding dengan kontribusinya dalam menjaga ketahanan pangan nasional. 

Alih Fungsi Lahan

Lahan pertanian produktif terus menyusut akibat konversi menjadi kawasan industri, permukiman, dan infrastruktur.

Perubahan Iklim

Cuaca ekstrem, banjir, dan kekeringan menyebabkan penurunan produktivitas serta risiko gagal panen.

Krisis Regenerasi Petani

Semakin sedikit generasi muda yang tertarik bekerja di sektor pertanian, sehingga regenerasi petani menjadi tantangan besar ke depan.

Jika tidak segera diatasi, masalah-masalah ini berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional sekaligus melemahkan kemandirian pangan Indonesia.

Pertanian dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Isu pertanian nasional memiliki keterkaitan erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs).
Penguatan sektor pertanian berarti mempercepat tercapainya tujuan global berikut:

  • SDG 1 – Tanpa Kemiskinan: meningkatkan kesejahteraan petani.

  • SDG 2 – Tanpa Kelaparan: menjamin ketersediaan dan akses pangan bagi semua.

  • SDG 12 – Produksi & Konsumsi Berkelanjutan: membangun sistem pangan yang adil dan efisien.

  • SDG 13 – Aksi Iklim: memperkuat adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim.

  • SDG 15 – Ekosistem Daratan: menjaga kelestarian tanah dan lahan pertanian.

Keterkaitan ini menegaskan bahwa memperkuat pertanian nasional sejalan dengan upaya mencapai pembangunan berkelanjutan menjadikan sektor ini kunci bagi masa depan yang tangguh, adil, dan lestari.





Kontribusi Nyata Universitas Gadjah Mada

Sebagai universitas kerakyatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) berkomitmen mendukung transformasi pertanian Indonesia melalui riset, inovasi, dan pendampingan masyarakat.

  • Pengembangan Varietas Padi Gamagora

Riset unggulan UGM menghasilkan varietas padi Gamagora, yang tahan penyakit, adaptif terhadap perubahan iklim, hemat air dan pupuk, cepat panen, serta berproduksi tinggi.
Varietas ini menjadi simbol inovasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

  • Smart Agri Plant Factory

Inovasi Plant Factory UGM mengintegrasikan teknologi hidroponik, otomatisasi, dan kecerdasan buatan untuk menciptakan sistem produksi pangan yang efisien, ramah lingkungan, dan tangguh terhadap perubahan iklim.

  •  Diseminasi Pengetahuan dan Literasi

UGM secara aktif mendampingi petani melalui pelatihan, penyuluhan iklim, serta penerapan teknologi pertanian sederhana.
Langkah ini memperkuat kapasitas adaptasi dan ketahanan usaha tani di berbagai daerah.

  •  Penguatan Kelembagaan dan Kolaborasi

UGM memperkuat kelompok tani dan kelompok wanita tani (KWT) dengan peningkatan kapasitas organisasi, perluasan jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan, serta penerapan hasil riset langsung di masyarakat desa untuk mewujudkan pertanian yang mandiri dan berkelanjutan.

Penulis: BMS UGM

Gambar: BMS UGM

Source:

https://tp.ugm.ac.id/id/rilis-berita/2024/6552-pertanian-masa-depan-teknik-pertanian-ugm-luncurkan-smart-agri-plant-factory-inovasi-pertanian-modern-berkelanjutan.html https://ugm.ac.id/id/berita/ftp-ugm-beri-pendampingan-kelompok-wanita-tani-karanganyar/

Merawat Alam Merawat Masa Depan

Kajian Senin, 28 Juli 2025

World Nature Conservation Day atau Hari Konservasi Alam Sedunia diperingati setiap 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga sumber daya alam seperti hutan, air, tanah, dan satwa liar.

Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), konservasi adalah kunci keberlanjutan kehidupan karena 100% aktivitas manusia bergantung pada alam mulai dari makanan, air bersih, hingga udara yang kita hirup.Namun eksploitasi berlebihan, pencemaran, dan alih fungsi lahan telah menyebabkan kerusakan yang serius.

Konservasi alam harus menjadi prioritas karena kondisi bumi semakin mengkhawatirkan. Setiap tahun, sekitar 15 miliar pohon ditebang, menyebabkan hilangnya habitat alami dan menurunkan kemampuan bumi dalam menyerap karbon. Akibatnya, lebih dari 1 juta spesies kini terancam punah (IPBES, 2019), menandakan krisis keanekaragaman hayati yang serius. Di saat yang sama, suhu bumi telah meningkat lebih dari 1,1°C sejak era pra-industri (IPCC, 2023), memperburuk dampak perubahan iklim seperti kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem. Tak hanya itu, lebih dari 8 juta ton plastik mencemari lautan setiap tahun (UNESCO, 2022), mengancam ekosistem laut dan rantai makanan manusia. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa konservasi alam bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mendesak untuk memastikan keberlanjutan kehidupan di bumi.





Universitas Gadjah Mada (UGM) berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengembangan teknologi berkelanjutan. Melalui pengelolaan Hutan Wanagama di Gunungkidul, UGM menjadikannya sebagai laboratorium alam untuk kegiatan konservasi, pendidikan ekologi, serta rehabilitasi lahan kritis. Dalam bidang inovasi teknologi, UGM telah mengembangkan GATe (Gadjahmada Airport Transporter Electric), kendaraan listrik yang dirancang untuk mendukung transportasi ramah lingkungan di kawasan bandara. Komitmen terhadap energi bersih juga diwujudkan melalui pemanfaatan sistem fotovoltaik (PLTS) pada sejumlah gedung, seperti Fakultas Teknik dan kompleks pertanian (Agrokompleks), guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Selain itu, melalui UGM Green Campus Initiative, universitas ini menerapkan berbagai langkah nyata seperti efisiensi energi, konservasi air, pemilahan sampah, serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, menjadikan UGM sebagai salah satu pionir dalam praktik keberlanjutan di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia.

Setiap orang dapat berkontribusi dalam menjaga kelestarian bumi melalui langkah-langkah kecil yang sederhana namun berdampak besar. Kita bisa mulai dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan menggunakan botol minum, tas kain, dan tempat makan sendiri, serta biasakan memilah sampah organik dan anorganik untuk mendukung sistem daur ulang. Dalam hal mobilitas, pilih berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum, dan jika memungkinkan, manfaatkan kendaraan listrik seperti bus kampus yang lebih ramah lingkungan. Saat berbelanja, belilah seperlunya dan hindari produk fast fashion atau barang sekali pakai, karena setiap produk memiliki jejak karbon dan limbah yang memengaruhi bumi. Selain itu, kita dapat memperluas dampak dengan mengikuti seminar, workshop, atau kelas terbuka tentang lingkungan, lalu membagikan pengetahuan tersebut melalui media sosial, komunitas, atau keluarga. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, kita turut membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Sudahkah kamu berkontribusi untuk bumi hari ini?

Penulis: BMS

Foto: BMS

Generasi Anak Berkualitas: Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Kajian Rabu, 23 Juli 2025

Mewujudkan Indonesia Emas tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. Anak-anak adalah investasi masa depan bangsa. Kualitas mereka akan menentukan kualitas pemimpin, tenaga kerja, dan warga negara Indonesia di masa depan.

Tahun 2045, Indonesia diprediksi memiliki penduduk usia produktif yang lebih besar. Anak-anak hari ini, akan menjadi bagian dari usia produktif tersebut. Oleh karena itu, memastikan mereka tumbuh dengan akses yang memadai adalah langkah strategis untuk membangun masa depan bangsa yang tangguh dan berdaya saing.

Tantangan Bagi Kualitas Anak Indonesia

  1. 1 dari 5 anak mengalami stunting (19,8%), berdampak pada perkembangan otak dan produktivitas.
  2. Lebih dari 4 juta anak usia 7–18 tahun tidak bersekolah dan 57% anak penyandang disabilitas tidak mengakses pendidikan.
  3. 25,53 juta perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, menjadikan Indonesia peringkat ke-4 dunia dalam pernikahan anak.
  4. Kekerasan terhadap anak masih tinggi, mulai dari fisik, verbal, hingga seksual.

Strategi Kunci:Perlindungan Anak di Berbagai Bidang

Gizi dan Kesehatan

  • Optimalisasi pemenuhan gizi pada Seribu Hari Pertama Kehidupan.
  • Pencegahan dan penanganan stunting serta gizi buruk.
  • Peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap.
  • Akses layanan kesehatan ibu dan anak yang berkualitas.

Pendidikan

  • Perluasan akses pendidikan yang merata dan inklusif.
  • Penanganan anak putus sekolah dan anak yang belum terlayani pendidikan formal.
  • Pemenuhan hak belajar anak penyandang disabilitas.

Perlindungan Sosial

  • Pencegahan kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran anak.
  • Penghapusan praktik pernikahan anak.
  • Penguatan sistem pelaporan dan penanganan kasus kekerasan.
  • Peningkatan kapasitas lembaga dan tenaga pendamping anak.

Peran Universitas

  1. Program edukasi kesehatan anak, gizi, dan perlindungan sosial melalui KKN dan pengabdian masyarakat.
  2. Riset terapan dan inovasi di bidang gizi kesehatan untuk mengatasi stunting.
  3. Advokasi publik untuk mendorong perlindungan anak dalam kebijakan nasional dan lokal.
  4. Penyusunan rekomendasi kebijakan berdasarkan kajian dan praktik lapangan.

Kontribusi Universitas Gadjah Mada untuk Mendukung Kesejahteraan Anak

Inovasi pangan untuk pemenuhan gizi dan mengatasi stunting

  • Pilot project pemberian beras fortifikasi.
  • Produk beras Presokazi untuk mengatasi permasalahan kekurangan gizi.
  • Sprouted Snack Bar, makanan tambahan berbasis sumberdaya lokal.

Pengabdian Masyarakat dengan Edukasi dan Penguatan Kapasitas

  • Sosialisasi dan Pelatihan Pencegahan Stunting.
  • Sosialisasi dampak pernikahan dini.
  • Pendampingan Desa Ramah Anak.

Advokasi Kebijakan

  • Penyusunan Policy brief percepatan penurunan stunting.

 

Penulis: BMS UGM

Gambar: BMS UGM

Source:

https://data.unicef.org/resources/is-an-end-to-child-marriage-within-reach/

https://www.unicef.org/indonesia/id/pendidikan-dan-remaja

https://kemenkopmk.go.id/menuju-indonesia-emas-2045-pemerintah-siapkan-generasi-muda-unggul-dan-berdaya-saing

https://pkgm.fk.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/1080/2022/11/Policy-Brief-Kedaireka-Jogja-ISTIMEWA.pdf

Dari Tamansiswa ke Gadjah Mada: Pendidikan Berintegritas bagi Seluruh Calon Pemimpin Bangsa

Kajian Jumat, 2 Mei 2025

Hari Pendidikan yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, menjadi pengingat kita terhadap semangat kebangkitan pendidikan yang diprakarsai oleh Ki Hadjar Dewantara dengan menggerakkan pendirian perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Gerakan tersebut memperjuangkan hak belajar bagi setiap anak bangsa, tanpa memandang status sosial dan latar belakang. Hingga hari ini, semangat itu masih terus kita rayakan, kita rawat, dan kita hidupkan.

Pendidikan memegang peranan penting dalam membangun peradaban dan kemajuan bangsa. Melalui pendidikan, kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat ditingkatkan, membekali generasi muda dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang dibutuhkan untuk berkontribusi pada pembangunan nasional. Pendidikan juga menjadi sarana untuk mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi, karena membuka peluang bagi setiap individu untuk meningkatkan taraf hidup dan meraih masa depan yang lebih baik. Lebih dari itu, pendidikan mendorong inovasi dan pembangunan berkelanjutan, melahirkan pemimpin dan pemikir yang mampu menghadapi tantangan global secara kreatif dan bertanggung jawab.

Namun, sistem pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah ketimpangan akses pendidikan antarwilayah. Data menunjukkan bahwa Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di DKI Jakarta mencapai 11,49 tahun, sedangkan di Papua Pegunungan hanya 5,1 tahun, menggambarkan kesenjangan yang signifikan. Selain itu, angka putus sekolah masih tinggi, dengan tingkat penyelesaian jenjang SMA hanya sekitar 67,07%. Akses ke pendidikan tinggi pun masih rendah, ditandai dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi sebesar 31,45%, di bawah target Renstra 2020–2024 yaitu 37,63%.





Dalam menghadapi tantangan tersebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk memperkuat sistem pendidikan nasional. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan kurikulum yang relevan agar lulusan tidak hanya siap menghadapi dunia kerja, tetapi juga memiliki kemampuan berinovasi dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, pendidikan karakter dan kepemimpinan perlu diintegrasikan dalam proses belajar agar mahasiswa tumbuh menjadi generasi yang berintegritas dan tangguh menghadapi tantangan global. Perguruan tinggi juga perlu memperluas akses pendidikan melalui beasiswa, pembelajaran daring, serta pemanfaatan teknologi digital, sehingga mahasiswa dari berbagai daerah dapat memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas.

Sebagai universitas kerakyatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan komitmen nyata dalam menjawab tantangan pendidikan di Indonesia. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari penyediaan beragam beasiswa seperti KIP Kuliah dan beasiswa mitra industri, hingga program peminjaman laptop bagi mahasiswa yang membutuhkan. UGM juga menyediakan akun email universitas dengan akses ke berbagai software pembelajaran dan jurnal internasional, serta perpustakaan pusat modern yang menjadi ruang belajar nyaman dan kaya sumber pengetahuan.

Selain itu, UGM memiliki Pusat Layanan Difabel sebagai ruang aman dan inklusif bagi mahasiswa berkebutuhan khusus, serta program KKN-PPM yang membumikan ilmu pengetahuan ke berbagai pelosok negeri, memperkuat peran mahasiswa dalam pengabdian masyarakat. Komitmen terhadap integritas akademik juga ditegakkan melalui sistem anti-plagiarisme dan penerapan kode etik disipliner yang ketat.

Dalam Rencana Strategis UGM, universitas menegaskan langkah-langkah strategis di bidang pendidikan, seperti memperkuat pendidikan transdisiplin yang mendorong kewirausahaan sosial, kemandirian, dan ketangguhan mahasiswa; mengembangkan kurikulum yang komprehensif dan aplikatif; serta memperkuat ekosistem inovasi berbasis kolaborasi berkelanjutan untuk meningkatkan kebermanfaatan. UGM juga berkomitmen untuk meningkatkan jejaring kerja sama mitra Tridharma, mengakomodasi keberagaman dalam sistem penerimaan mahasiswa, meningkatkan proporsi mahasiswa pascasarjana, serta memperbanyak publikasi ilmiah mahasiswa doktoral.





Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., menegaskan bahwa “Pendidikan sebagai pilar pembangunan tidak hanya fokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan, namun juga harus mampu membentuk karakter kepribadian manusia.” Pandangan ini mencerminkan semangat UGM dalam menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama bagi pembangunan manusia Indonesia yang unggul, beretika, dan berdaya saing global.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Pilar Buruh sebagai Jalan Baru Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan

Kajian Kamis, 1 Mei 2025

Perayaan resmi Hari Buruh Internasional di Indonesia diawali pada 1 Mei 1946 yang ditetapkan pada masa pemerintahan Kabinet Sjahrir II. Hari Buruh memiliki arti penting untuk memperjuangkan hak dan menuntut kelayakan penghidupannya.

Di tengah dorongan global untuk pertumbuhan ekonomi tanpa henti, para pekerja/buruh kerap menjadi pihak yang rentan dieksploitasi guna mendapatkan keuntungan lebih. Human Sustainability menjadi relevan untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkeadilan.

​Konsep Human Sustainability didefinisikan sebagai pendekatan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan menjaga keseimbangan ekologi agar dapat memastikan kesinambungan dan perkembangan dalam jangka waktu yang panjang

Fokusnya adalah pemberdayaan individu melalui peningkatan kesejahteraan fisik dan mental, penguatan kapasitas karier, hingga pencarian dan pemaknaan tujuan personal. Pendekatan ini menjadi alternatif pendekatan growth-at-all-cost yang hanya fokus pada pertumbuhan cepat tanpa memperhatikan kesejahteraan dan kepekerja berlanjutan perusahaan/organisasi.

Dalam dunia kerja dan organisasi modern, terdapat dua paradigma besar dalam memandang keberhasilan: Growth-at-All-Cost dan Human Sustainability. Keduanya berorientasi pada kemajuan, namun berbeda dalam cara mencapai tujuan tersebut.

Growth-at-All-Cost berfokus pada pertumbuhan dan pendapatan yang cepat, sering kali tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Pendekatan ini mengejar keuntungan jangka pendek, di mana kesejahteraan pekerja kerap diabaikan demi efisiensi dan hasil instan. Model seperti ini mungkin menghasilkan lonjakan kinerja sesaat, tetapi berisiko menimbulkan kelelahan, stres, dan menurunnya loyalitas karyawan, yang pada akhirnya dapat menghambat keberlanjutan organisasi itu sendiri.

Sebaliknya, Human Sustainability menempatkan manusia sebagai pusat dari keberhasilan organisasi. Tujuannya adalah mencapai keberhasilan jangka panjang dengan mempertimbangkan dampak berkelanjutan terhadap individu dan lingkungan kerja. Pendekatan ini memastikan bahwa kesejahteraan fisik dan mental pekerja diperhatikan, karena sumber daya manusia yang sehat, termotivasi, dan berkembang adalah fondasi dari produktivitas yang sejati.

Penerapan Human Sustainability dapat dilakukan melalui beberapa strategi utama. Pertama, perencanaan berbasis SDM, di mana pekerja dipandang sebagai aset utama organisasi. Investasi pada pengembangan keterampilan dan kapasitas menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Kedua, penerapan inklusivitas, yang menciptakan lingkungan kerja harmonis dan produktif dengan memastikan semua anggota merasa dihargai dan menjadi bagian penting dari organisasi. Ketiga, dorongan terhadap produktivitas yang berkelanjutan, yaitu produktivitas yang tidak hanya menekankan hasil kerja, tetapi juga pengembangan kemampuan dan keseimbangan hidup pekerja. Keempat, pengukuran kesejahteraan, dengan menetapkan metrik yang relevan untuk menilai dan meningkatkan kesejahteraan fisik serta mental secara berkala.





Dalam konteks perguruan tinggi, prinsip Human Sustainability juga memiliki relevansi besar. Perguruan tinggi dapat menerapkan perencanaan berbasis SDM dengan mengintegrasikan pengembangan kapasitas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa ke dalam rencana strategis kampus. Proses ini mencakup pemetaan kompetensi dan kebutuhan pengembangan agar setiap individu dapat tumbuh sesuai potensinya.

Selanjutnya, penerapan inklusivitas di lingkungan kampus perlu diwujudkan melalui kebijakan yang ramah bagi semua kalangan, termasuk kelompok minoritas, penyandang disabilitas, dan mahasiswa lintas budaya. Kebijakan nondiskriminatif yang tegas serta sistem pelaporan yang jelas akan memperkuat rasa aman dan kebersamaan.

Aspek produktivitas juga harus diperhatikan dengan menciptakan lingkungan belajar dan bekerja yang sehat, fleksibel, serta mendukung keseimbangan kehidupan akademik dan pribadi. Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi administratif dan akademik tanpa membebani SDM.

Terakhir, perguruan tinggi perlu memiliki sistem pengukuran kesejahteraan SDM yang terstruktur. Penetapan indikator kesejahteraan secara periodik serta integrasi survei dan evaluasi ke dalam sistem manajemen mutu dapat membantu kampus memastikan kesejahteraan sivitas akademika terus terjaga dan meningkat.

Dengan mengedepankan Human Sustainability, baik organisasi maupun perguruan tinggi tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga membangun ekosistem yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan, di mana keberhasilan manusia menjadi inti dari keberhasilan institusi.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Buku dan Literasi Sebagai Pilar Pemimpin Masa Depan

Kajian Rabu, 23 April 2025

Buku bukan hanya sumber ilmu, melainkan juga sarana untuk membentuk cara berpikir dan karakter. Membaca adalah langkah penting untuk memahami dunia, mengambil keputusan yang bijak, dan menghadapi tantangan dengan perspektif yang lebih luas.

Tingkat literasi di Indonesia masih menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, kemampuan membaca pelajar Indonesia memperoleh skor 359, jauh di bawah rata-rata 476, dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-70 dari 80 negara. Data ini tidak hanya mencerminkan persoalan dalam sistem pendidikan, tetapi juga menjadi alarm bagi masa depan bangsa karena rendahnya literasi berpotensi mengancam kualitas calon pemimpin di masa mendatang.

Padahal, buku memiliki peran penting dalam membentuk karakter seorang pemimpin. Melalui kegiatan membaca, seseorang dapat mengasah kemampuan refleksi dan berpikir kritis, meningkatkan kemampuan komunikasi, memperluas wawasan untuk pengambilan keputusan yang lebih bijak, serta menumbuhkan empati dan kecerdasan emosional. Semua hal tersebut merupakan fondasi penting dalam menciptakan pemimpin yang visioner, berintegritas, dan berkeadaban.

Untuk memperbaiki kondisi ini, langkah-langkah sederhana namun berdampak bisa dimulai dari diri sendiri—seperti meluangkan waktu membaca setiap hari, mendukung pemerataan akses buku melalui donasi, berpartisipasi dalam program literasi, serta memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan semangat membaca ke audiens yang lebih luas.

Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mengambil peran aktif dalam membangun budaya literasi melalui berbagai inisiatif. Program Kelas Literas secara rutin memberikan pelatihan literasi informasi dan akademik, membekali mahasiswa dengan keterampilan riset, penulisan ilmiah, dan etika penggunaan sumber. Selain itu, kegiatan donasi buku yang digerakkan oleh perpustakaan, fakultas, dan program KKN UGM telah menyalurkan ribuan buku ke sekolah, komunitas, dan perpustakaan desa untuk memperluas akses bacaan berkualitas. UGM juga menggelar program bedah dan diskusi buku sebagai ruang untuk mendalami gagasan-gagasan penting, mendorong dialog intelektual, serta memotivasi peserta agar terus membaca dan mengeksplorasi isu-isu aktual.

Melalui upaya kolaboratif antara individu, komunitas, dan institusi pendidikan seperti UGM, diharapkan budaya literasi di Indonesia dapat tumbuh subur dan melahirkan generasi pembelajar sepanjang hayat yang siap memimpin masa depan bangsa dengan pengetahuan dan kebijaksanaan.

Penulis: BMS 

Foto: BMS

Sumber:

85 Broads. “Why Leaders Must Be Readers.” Forbes. August 3, 2012. https://www.forbes.com/sites/85broads/2012/08/03/why-leaders-must-be-readers/

Forbes Business Council. “Nurturing Leadership Through the Power of Reading.” Forbes. January 9, 2024. https://www.forbes.com/councils/forbesbusinesscouncil/2024/01/09/nurturing-leadership-through-the-power-of-reading/

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). “Education GPS: Indonesia. https://gpseducation.oecd.org/CountryProfile?primaryCountry=IDN&treshold=10&topic=PI

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). “PISA 2022 Database https://www.oecd.org/en/data/datasets/pisa-2022-database.html

https://lib.ugm.ac.id/en/spreading-knowledge-building-literacy-book-donation-for-smk-pariwisata-bantul/

Langkah Strategis untuk Masa Depan Bumi

Kajian Selasa, 22 April 2025

Bagaimana kabar bumi hari ini? Pertanyaan sederhana ini menyimpan makna yang dalam. Laporan ilmiah menunjukkan bahwa kondisi bumi semakin mengkhawatirkan. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), suhu rata-rata global terus meningkat sejak pertengahan abad ke-20, dan diproyeksikan akan naik antara 1,1 hingga 6,4°C pada rentang waktu 1990 hingga 2100. Kenaikan suhu ini memicu berbagai krisis iklim: gelombang panas ekstrem, mencairnya es di kutub, serta meningkatnya risiko kekeringan dan banjir di berbagai belahan dunia.

Masalah lain yang tak kalah genting adalah krisis sampah plastik. Berdasarkan laporan United Nations Environment Programme (UNEP) tahun 2021, produksi plastik global pada tahun 2017 mencapai 438 juta ton, dan sebagian besar di antaranya berakhir di laut atau tempat pembuangan akhir tanpa dikelola dengan baik. Sementara itu, kondisi hutan dunia juga kian mengkhawatirkan. Global Forest Review (2024) mencatat bahwa pada tahun 2023, dunia kehilangan sekitar 3,7 juta hektar hutan primer tropis, yang menghasilkan emisi karbon dioksida sebesar 2,4 gigaton. Kehilangan hutan ini tidak hanya merusak habitat keanekaragaman hayati, tetapi juga mempercepat laju perubahan iklim.

Kenyataan tersebut menuntut kita untuk tidak hanya sekadar sadar, tetapi juga bertindak. Sejak tahun 1970, setiap 22 April diperingati sebagai Hari Bumi yaitu momen refleksi global untuk mengingatkan manusia agar menjaga planet yang menjadi rumah bagi seluruh makhluk hidup. Namun, kesadaran tanpa tindakan tidak akan membawa perubahan. Kita membutuhkan arah yang jelas: Green Strategy.

Green Strategy atau Strategi Hijau merupakan pendekatan yang mengintegrasikan praktik berkelanjutan dalam berbagai aspek kehidupan dan bisnis. Tujuannya adalah mengurangi dampak lingkungan, mengelola sumber daya secara bertanggung jawab, menekan limbah, meningkatkan efisiensi energi, serta memanfaatkan teknologi ramah lingkungan. Menurut simulasi World Resources Institute (WRI) Indonesia (2024), penerapan ekonomi hijau dapat memberi manfaat besar bagi Indonesia, termasuk pertumbuhan PDB rata-rata 6,3% selama 2025–2045 dan penciptaan 1,7 juta lapangan kerja hijau baru pada tahun 2045—setara dengan 38% tambahan angkatan kerja nasional.

Sebagai institusi pendidikan yang berkomitmen terhadap keberlanjutan, Universitas Gadjah Mada (UGM) turut memainkan peran penting dalam mewujudkan masa depan hijau. Melalui kurikulum berbasis SDGs, UGM mengintegrasikan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan ke dalam berbagai disiplin ilmu, menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab ekologis di kalangan mahasiswa. Di sisi lain, UGM menjalin kemitraan strategis dengan pemerintah dan berbagai lembaga untuk memperkuat kolaborasi menuju pembangunan berkelanjutan. Dalam aspek operasional kampus, UGM juga menerapkan transportasi ramah lingkungan dengan menghadirkan bus listrik dan fasilitas sepeda kampus untuk mengurangi emisi karbon. Tak ketinggalan, pembangunan gedung-gedung seperti Smart and Green Learning Center menjadi wujud nyata dari penerapan arsitektur hijau yang efisien energi dan memanfaatkan sumber daya terbarukan.

Bumi sedang berbicara melalui panas yang meningkat, hutan yang menipis, dan laut yang penuh sampah. Kini, pertanyaannya kembali pada kita: sudahkah kamu punya strategi hijau versimu?

Penulis: BMS

Foto: BMS

Sumber:

Ainurrohmah, Silfia, and Sudarti Sudarti. “Analisis Perubahan Iklim Dan Global Warming Yang Terjadi Sebagai Fase Kritis .” Jurnal Phi: Jurnal Pendidikan Fisika dan Fisika Terapan 8, no. 1 (2022): 1–10.

Environment, UN. “Drowning in Plastics – Marine Litter and Plastic Waste Vital Graphics.” UNEP. https://www.unep.org/resources/report/drowning-plastics-marine-litter-and-plastic-waste-vital-graphics.

“Forest Pulse: Informasi Terkini Tentang Hutan Dunia .” World Resources Institute Research, April 4, 2024. https://gfr.wri.org/id/latest-analysis-deforestation-trends.

IPCC, “Laporan Khusus IPCC tentang Pemanasan Global 1,5°C, Bab 3: Impacts of 1.5°C of Global Warming on Natural and Human Systems”, https://www.ipcc.ch/site/assets/uploads/ sites/2/2019/06/SR15_Chapter3_Low_Res.pdf,

Suarga, Egi, Talitha Dwitiyasih, Hapsari Damayanti, and Sadiid Arifin. “Meninjau Keadaan Ekonomi Hijau Indonesia: Bagaimana Seharusnya Strategi Kita Melangkah Ke Depan?” WRI Indonesia. https://wri-indonesia.org/id/wawasan/meninjau-keadaan-ekonomi-hijau-indonesia-bagaimana-seharusnya-strategi-kita-melangkah-ke-0.

World Class University Universitas Gadjah Mada. “UGM Terima Kunjungan FISIP Green Society Universitas Riau untuk Benchmarking Konsep Kampus Hijau dan Pengelolaan Sampah.” https://wcu.ugm.ac.id/2025/04/17/ugm-terima-kunjungan-fisip-green-society-universitas-riau-untuk-benchmarking-konsep-kampus-hijau-dan-pengelolaan-sampah

Direktorat Kemitraan dan Relasi Global UGM. “Green Campus – Kemitraan UGM.” https://kemitraan.ugm.ac.id/tag/green-campus

Siddiq, Nur Abdillah. “Penerapan Konsep Green Campus di Universitas Gadjah Mada: Studi Kasus Gedung Smart and Green Learning Center (SGLC).” Center for Design, Sustainable Green Building (CeDSGreeB), 7 Maret 2025. https://cedsgreeb.org/trend/smart_and_green_learning_center/.​cedsgreeb.org

123

Recent Posts

  • Pemimpin Strategis Berdampak: Kepemimpinan yang Menciptakan Nilai bagi Organisasi
  • Hari Kependudukan Dunia 2026: Membangun Manusia untuk Kehidupan yang Lebih Berkualitas
  • Dukung Pemulihan Pascabencana, UGM dan KAGAMA Serahkan Hunian Sementara bagi Warga Sekumur
  • Hari Kelautan Nasional 2026: Laut Indonesia sebagai Fondasi Masa Depan Bangsa
  • Hari Tropis Internasional 2026: Meneguhkan Peran Wilayah Tropis untuk Masa Depan Bumi

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Archives

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Oktober 2024

Categories

  • Campus Tour
  • Kajian
  • Kegiatan
  • sdgs
Universitas Gadjah Mada

Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada

Gedung Pusat UGM, Lantai 3 Sayap Barat, Bulaksumur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Email : bms@ugm.ac.id
Whatsapp : 0851-1784-8115

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY