• Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Profil
    • Struktur Biro
    • Visi dan Misi
    • Kontak
  • Kegiatan
    • Wanagama Nusantara
    • Forum Diskusi Ilmiah
    • Kajian
    • SDGS
  • PUAPT UGM
    • Tentang
    • Working Group Food Security
    • Working Group Health Autonomy
  • UGM Campus Tour
  • Galeri
  • Beranda
  • SDG 4: PENDIDIKAN BERKUALITAS
  • SDG 4: PENDIDIKAN BERKUALITAS
  • hal. 2
Arsip:

SDG 4: PENDIDIKAN BERKUALITAS

UGM and BOKU Collaborative Workshop on Teaching, Community Service, and SDGs

Kegiatansdgs Sabtu, 25 Oktober 2025

UGM dan BOKU Gelar Workshop Kolaboratif tentang Pengajaran, Pengabdian Masyarakat, dan SDGs

20 – 24 Oktober 2025

Dalam rangka program Erasmus+ Staff Mobility Training, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan University of Natural Resources and Life Sciences, Vienna (BOKU) menyelenggarakan workshop kolaboratif selama empat hari yang berfokus pada pengembangan kerja sama strategis di bidang pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, serta kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kegiatan ini menghadirkan Andreas Bauer, M.Sc, sebagai bagian dari upaya memperkuat pertukaran gagasan, pengalaman, dan praktik terbaik antar kedua institusi.

Hari Pertama – 20 Oktober 2025

Workshop hari pertama dibagi ke dalam dua sesi utama, yakni Teaching Philosophy dan Pengabdian Masyarakat.
Pada sesi Teaching Philosophy, peserta membahas pentingnya pemahaman pengajar terhadap peran dan tanggung jawabnya dalam proses pembelajaran, serta bagaimana membentuk pengalaman belajar yang bermakna bagi mahasiswa. Sesi ini juga diisi dengan refleksi bersama mengenai nilai-nilai yang mencerminkan sosok pengajar yang baik.

Sementara pada sesi Pengabdian Masyarakat, UGM dan BOKU saling berbagi praktik terbaik dari masing-masing institusi. Di UGM, kegiatan pengabdian masyarakat banyak melibatkan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bersifat wajib, sedangkan di BOKU pengabdian lebih banyak diintegrasikan dalam kegiatan riset dan proyek komunitas yang berorientasi pada penerapan ilmu pengetahuan.

Hari Kedua – 21 Oktober 2025

Hari kedua workshop membahas implementasi SDGs di UGM dan BOKU serta tantangan yang dihadapi masing-masing institusi. Diskusi berfokus pada identifikasi peluang kolaborasi untuk memperkuat kontribusi kedua universitas terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk upaya mengintegrasikan SDGs ke dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Hari Ketiga dan Keempat – 23 & 24 Oktober 2025

Pada dua hari terakhir, kegiatan difokuskan pada penyusunan proposal kerja sama antara UGM dan BOKU. Proses ini diawali dengan identifikasi topik-topik relevan berdasarkan keahlian dan bidang prioritas masing-masing institusi, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan teknis mengenai struktur proposal dan penyusunan timeline kegiatan untuk tindak lanjut ke depan.

Langkah Kolaborasi untuk Mendukung Program UGM dan PUAPT

Sebagai hasil dari kegiatan ini, disepakati beberapa langkah kolaborasi strategis untuk mendukung program UGM dan Pusat Unggulan Akademik dan Pengabdian Terpadu (PUAPT), antara lain:

  1. Kolaborasi bersama BOKU dan universitas di Afrika dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat serta implementasi berbagai topik keberlanjutan.

  2. Program Lecture and Staff Mobility untuk memfasilitasi pertukaran akademisi antara UGM dan BOKU dalam rangka pengembangan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan.

  3. Penjajakan peluang pendanaan melalui proposal bersama, dengan fokus pada isu-isu keberlanjutan dan tema-tema strategis yang menjadi prioritas PUAPT dan UGM.

Kolaborasi antara UGM dan BOKU diharapkan tidak berhenti pada pertemuan ini, melainkan terus berkembang menjadi kemitraan strategis yang memperkuat peran kedua universitas dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan komitmen bersama terhadap nilai-nilai keberlanjutan, kerja sama ini diharapkan mampu mendorong implementasi SDGs secara lebih luas dan berdampak nyata bagi masyarakat global.

Penulis : BMS

Foto : BMS

KKN dalam Pandangan José Ramos-Horta: Ruang Tumbuh Pemimpin dan Perubahan Sosial

Kegiatan Jumat, 1 Agustus 2025

KKN dalam Pandangan José Ramos-Horta: Ruang Tumbuh Pemimpin dan Perubahan Sosial
Gagasan dan Harapan Peraih Nobel Perdamaian untuk Generasi Muda Indonesia

 

Menurut Presiden José Ramos-Horta, peraih Nobel Perdamaian, perdamaian sejati bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan perdamaian positif yang tumbuh dari rumah, sekolah, dan komunitas. Ia menegaskan bahwa perdamaian yang langgeng harus berakar pada rakyat sebagai pusat kebijakan, dengan menjunjung tinggi inklusivitas, keadilan hukum, serta perlindungan konstitusional. Selain itu, penghargaan terhadap keberagaman budaya, agama, dan bahasa, pemberdayaan komunitas lokal, pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, serta peningkatan peran dan kepemimpinan perempuan merupakan kunci dalam mewujudkan perdamaian berkelanjutan.

Bagi Ramos-Horta, kepemimpinan inspiratif adalah kemampuan membangkitkan potensi orang lain dan menggerakkan mereka menuju masa depan yang adil, inklusif, berkelanjutan, dan damai. Kepemimpinan seperti ini berpusat pada komunitas: mendengarkan kebutuhan mereka, menghargai kearifan lokal, serta memberdayakan masyarakat untuk memimpin perubahan. Nilai-nilai utama kepemimpinan inspiratif meliputi empati, ketekunan dan ketahanan, integritas, serta kemampuan menyampaikan visi. Ramos-Horta meyakini bahwa perubahan sosial sejati akan muncul ketika komunitas lokal dan institusi akademik bekerja sama, berdialog, dan menciptakan solusi bersama.

Berdasarkan pengalamannya dalam memimpin Timor Leste, Ramos-Horta menekankan tiga pilar penting perubahan sosial yaitu pendidikan, kewirausahaan sosial, dan perdamaian.
Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi sarana membebaskan pikiran dan kesadaran. Pengetahuan akademik harus keluar dari ruang kelas dan menjadi inkubator bagi usaha mikro dan kecil, bisnis keluarga, serta koperasi yang dapat berkembang di desa, kampung, ladang, dan pasar.
Kewirausahaan sosial dipandang sebagai alat untuk mengubah tantangan sosial menjadi peluang berkelanjutan. Karena itu, pemuda harus dilibatkan sebagai pusat kebijakan melalui berbagai program kepemimpinan.
Sementara itu, pilar perdamaian menjadi fondasi utama bagi pembangunan. Ramos-Horta menegaskan bahwa tanpa perdamaian, tidak akan ada pembangunan; dan rekonsiliasi hanya dapat terwujud melalui keberanian politik, dialog, serta rekonstruksi jaringan sosial.

Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi contoh nyata dari pendidikan yang berpadu dengan pemberdayaan masyarakat. Program ini menciptakan ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk menerapkan nilai-nilai kepemimpinan inspiratif dan transformasi sosial. Melalui KKN-PPM, mahasiswa belajar langsung dari komunitas, mendengarkan kebutuhan mereka, memahami kekuatan lokal, dan turut serta dalam proses perubahan sosial yang berkelanjutan.

Ramos-Horta menilai inisiatif UGM melalui KKN-PPM sebagai langkah yang sangat menginspirasi. Ia menyebut bahwa model ini layak diakui dan direplikasi secara global, karena menunjukkan bagaimana universitas dapat memimpin transformasi sosial.

“Jalani KKN dengan sepenuh hati. Kehadiran mahasiswa di masyarakat, dengan mendengar dan bertindak, sangat berharga karena setiap tindakan yang dilakukan akan menciptakan dampak yang abadi. Senantiasa terapkan prinsip kepemimpinan inspiratif: empati, ketahanan, integritas, dan visi dalam dalam setiap tindakan,” pesan Presiden José Ramos-Horta.

Dokumentasi selengkapnya.

Generasi Anak Berkualitas: Mewujudkan Indonesia Emas 2045

Kajian Rabu, 23 Juli 2025

Mewujudkan Indonesia Emas tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. Anak-anak adalah investasi masa depan bangsa. Kualitas mereka akan menentukan kualitas pemimpin, tenaga kerja, dan warga negara Indonesia di masa depan.

Tahun 2045, Indonesia diprediksi memiliki penduduk usia produktif yang lebih besar. Anak-anak hari ini, akan menjadi bagian dari usia produktif tersebut. Oleh karena itu, memastikan mereka tumbuh dengan akses yang memadai adalah langkah strategis untuk membangun masa depan bangsa yang tangguh dan berdaya saing.

Tantangan Bagi Kualitas Anak Indonesia

  1. 1 dari 5 anak mengalami stunting (19,8%), berdampak pada perkembangan otak dan produktivitas.
  2. Lebih dari 4 juta anak usia 7–18 tahun tidak bersekolah dan 57% anak penyandang disabilitas tidak mengakses pendidikan.
  3. 25,53 juta perempuan menikah sebelum usia 18 tahun, menjadikan Indonesia peringkat ke-4 dunia dalam pernikahan anak.
  4. Kekerasan terhadap anak masih tinggi, mulai dari fisik, verbal, hingga seksual.

Strategi Kunci:Perlindungan Anak di Berbagai Bidang

Gizi dan Kesehatan

  • Optimalisasi pemenuhan gizi pada Seribu Hari Pertama Kehidupan.
  • Pencegahan dan penanganan stunting serta gizi buruk.
  • Peningkatan cakupan imunisasi dasar lengkap.
  • Akses layanan kesehatan ibu dan anak yang berkualitas.

Pendidikan

  • Perluasan akses pendidikan yang merata dan inklusif.
  • Penanganan anak putus sekolah dan anak yang belum terlayani pendidikan formal.
  • Pemenuhan hak belajar anak penyandang disabilitas.

Perlindungan Sosial

  • Pencegahan kekerasan fisik, psikis, seksual, dan penelantaran anak.
  • Penghapusan praktik pernikahan anak.
  • Penguatan sistem pelaporan dan penanganan kasus kekerasan.
  • Peningkatan kapasitas lembaga dan tenaga pendamping anak.

Peran Universitas

  1. Program edukasi kesehatan anak, gizi, dan perlindungan sosial melalui KKN dan pengabdian masyarakat.
  2. Riset terapan dan inovasi di bidang gizi kesehatan untuk mengatasi stunting.
  3. Advokasi publik untuk mendorong perlindungan anak dalam kebijakan nasional dan lokal.
  4. Penyusunan rekomendasi kebijakan berdasarkan kajian dan praktik lapangan.

Kontribusi Universitas Gadjah Mada untuk Mendukung Kesejahteraan Anak

Inovasi pangan untuk pemenuhan gizi dan mengatasi stunting

  • Pilot project pemberian beras fortifikasi.
  • Produk beras Presokazi untuk mengatasi permasalahan kekurangan gizi.
  • Sprouted Snack Bar, makanan tambahan berbasis sumberdaya lokal.

Pengabdian Masyarakat dengan Edukasi dan Penguatan Kapasitas

  • Sosialisasi dan Pelatihan Pencegahan Stunting.
  • Sosialisasi dampak pernikahan dini.
  • Pendampingan Desa Ramah Anak.

Advokasi Kebijakan

  • Penyusunan Policy brief percepatan penurunan stunting.

 

Penulis: BMS UGM

Gambar: BMS UGM

Source:

https://data.unicef.org/resources/is-an-end-to-child-marriage-within-reach/

https://www.unicef.org/indonesia/id/pendidikan-dan-remaja

https://kemenkopmk.go.id/menuju-indonesia-emas-2045-pemerintah-siapkan-generasi-muda-unggul-dan-berdaya-saing

https://pkgm.fk.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/1080/2022/11/Policy-Brief-Kedaireka-Jogja-ISTIMEWA.pdf

Dari Tamansiswa ke Gadjah Mada: Pendidikan Berintegritas bagi Seluruh Calon Pemimpin Bangsa

Kajian Jumat, 2 Mei 2025

Hari Pendidikan yang diperingati setiap tanggal 2 Mei, menjadi pengingat kita terhadap semangat kebangkitan pendidikan yang diprakarsai oleh Ki Hadjar Dewantara dengan menggerakkan pendirian perguruan Taman Siswa di Yogyakarta. Gerakan tersebut memperjuangkan hak belajar bagi setiap anak bangsa, tanpa memandang status sosial dan latar belakang. Hingga hari ini, semangat itu masih terus kita rayakan, kita rawat, dan kita hidupkan.

Pendidikan memegang peranan penting dalam membangun peradaban dan kemajuan bangsa. Melalui pendidikan, kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat ditingkatkan, membekali generasi muda dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter yang dibutuhkan untuk berkontribusi pada pembangunan nasional. Pendidikan juga menjadi sarana untuk mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi, karena membuka peluang bagi setiap individu untuk meningkatkan taraf hidup dan meraih masa depan yang lebih baik. Lebih dari itu, pendidikan mendorong inovasi dan pembangunan berkelanjutan, melahirkan pemimpin dan pemikir yang mampu menghadapi tantangan global secara kreatif dan bertanggung jawab.

Namun, sistem pendidikan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah ketimpangan akses pendidikan antarwilayah. Data menunjukkan bahwa Rata-rata Lama Sekolah (RLS) di DKI Jakarta mencapai 11,49 tahun, sedangkan di Papua Pegunungan hanya 5,1 tahun, menggambarkan kesenjangan yang signifikan. Selain itu, angka putus sekolah masih tinggi, dengan tingkat penyelesaian jenjang SMA hanya sekitar 67,07%. Akses ke pendidikan tinggi pun masih rendah, ditandai dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi sebesar 31,45%, di bawah target Renstra 2020–2024 yaitu 37,63%.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, perguruan tinggi memiliki peran strategis untuk memperkuat sistem pendidikan nasional. Hal ini dapat dilakukan dengan mengembangkan kurikulum yang relevan agar lulusan tidak hanya siap menghadapi dunia kerja, tetapi juga memiliki kemampuan berinovasi dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu, pendidikan karakter dan kepemimpinan perlu diintegrasikan dalam proses belajar agar mahasiswa tumbuh menjadi generasi yang berintegritas dan tangguh menghadapi tantangan global. Perguruan tinggi juga perlu memperluas akses pendidikan melalui beasiswa, pembelajaran daring, serta pemanfaatan teknologi digital, sehingga mahasiswa dari berbagai daerah dapat memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas.

Sebagai universitas kerakyatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan komitmen nyata dalam menjawab tantangan pendidikan di Indonesia. Berbagai program telah dijalankan, mulai dari penyediaan beragam beasiswa seperti KIP Kuliah dan beasiswa mitra industri, hingga program peminjaman laptop bagi mahasiswa yang membutuhkan. UGM juga menyediakan akun email universitas dengan akses ke berbagai software pembelajaran dan jurnal internasional, serta perpustakaan pusat modern yang menjadi ruang belajar nyaman dan kaya sumber pengetahuan.

Selain itu, UGM memiliki Pusat Layanan Difabel sebagai ruang aman dan inklusif bagi mahasiswa berkebutuhan khusus, serta program KKN-PPM yang membumikan ilmu pengetahuan ke berbagai pelosok negeri, memperkuat peran mahasiswa dalam pengabdian masyarakat. Komitmen terhadap integritas akademik juga ditegakkan melalui sistem anti-plagiarisme dan penerapan kode etik disipliner yang ketat.

Dalam Rencana Strategis UGM, universitas menegaskan langkah-langkah strategis di bidang pendidikan, seperti memperkuat pendidikan transdisiplin yang mendorong kewirausahaan sosial, kemandirian, dan ketangguhan mahasiswa; mengembangkan kurikulum yang komprehensif dan aplikatif; serta memperkuat ekosistem inovasi berbasis kolaborasi berkelanjutan untuk meningkatkan kebermanfaatan. UGM juga berkomitmen untuk meningkatkan jejaring kerja sama mitra Tridharma, mengakomodasi keberagaman dalam sistem penerimaan mahasiswa, meningkatkan proporsi mahasiswa pascasarjana, serta memperbanyak publikasi ilmiah mahasiswa doktoral.

Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., menegaskan bahwa “Pendidikan sebagai pilar pembangunan tidak hanya fokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan, namun juga harus mampu membentuk karakter kepribadian manusia.” Pandangan ini mencerminkan semangat UGM dalam menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama bagi pembangunan manusia Indonesia yang unggul, beretika, dan berdaya saing global.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Pilar Buruh sebagai Jalan Baru Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan

Kajian Kamis, 1 Mei 2025

Perayaan resmi Hari Buruh Internasional di Indonesia diawali pada 1 Mei 1946 yang ditetapkan pada masa pemerintahan Kabinet Sjahrir II. Hari Buruh memiliki arti penting untuk memperjuangkan hak dan menuntut kelayakan penghidupannya.

Di tengah dorongan global untuk pertumbuhan ekonomi tanpa henti, para pekerja/buruh kerap menjadi pihak yang rentan dieksploitasi guna mendapatkan keuntungan lebih. Human Sustainability menjadi relevan untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkeadilan.

​Konsep Human Sustainability didefinisikan sebagai pendekatan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan menjaga keseimbangan ekologi agar dapat memastikan kesinambungan dan perkembangan dalam jangka waktu yang panjang

Fokusnya adalah pemberdayaan individu melalui peningkatan kesejahteraan fisik dan mental, penguatan kapasitas karier, hingga pencarian dan pemaknaan tujuan personal. Pendekatan ini menjadi alternatif pendekatan growth-at-all-cost yang hanya fokus pada pertumbuhan cepat tanpa memperhatikan kesejahteraan dan kepekerja berlanjutan perusahaan/organisasi.

Dalam dunia kerja dan organisasi modern, terdapat dua paradigma besar dalam memandang keberhasilan: Growth-at-All-Cost dan Human Sustainability. Keduanya berorientasi pada kemajuan, namun berbeda dalam cara mencapai tujuan tersebut.

Growth-at-All-Cost berfokus pada pertumbuhan dan pendapatan yang cepat, sering kali tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Pendekatan ini mengejar keuntungan jangka pendek, di mana kesejahteraan pekerja kerap diabaikan demi efisiensi dan hasil instan. Model seperti ini mungkin menghasilkan lonjakan kinerja sesaat, tetapi berisiko menimbulkan kelelahan, stres, dan menurunnya loyalitas karyawan, yang pada akhirnya dapat menghambat keberlanjutan organisasi itu sendiri.

Sebaliknya, Human Sustainability menempatkan manusia sebagai pusat dari keberhasilan organisasi. Tujuannya adalah mencapai keberhasilan jangka panjang dengan mempertimbangkan dampak berkelanjutan terhadap individu dan lingkungan kerja. Pendekatan ini memastikan bahwa kesejahteraan fisik dan mental pekerja diperhatikan, karena sumber daya manusia yang sehat, termotivasi, dan berkembang adalah fondasi dari produktivitas yang sejati.

Penerapan Human Sustainability dapat dilakukan melalui beberapa strategi utama. Pertama, perencanaan berbasis SDM, di mana pekerja dipandang sebagai aset utama organisasi. Investasi pada pengembangan keterampilan dan kapasitas menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Kedua, penerapan inklusivitas, yang menciptakan lingkungan kerja harmonis dan produktif dengan memastikan semua anggota merasa dihargai dan menjadi bagian penting dari organisasi. Ketiga, dorongan terhadap produktivitas yang berkelanjutan, yaitu produktivitas yang tidak hanya menekankan hasil kerja, tetapi juga pengembangan kemampuan dan keseimbangan hidup pekerja. Keempat, pengukuran kesejahteraan, dengan menetapkan metrik yang relevan untuk menilai dan meningkatkan kesejahteraan fisik serta mental secara berkala.

Dalam konteks perguruan tinggi, prinsip Human Sustainability juga memiliki relevansi besar. Perguruan tinggi dapat menerapkan perencanaan berbasis SDM dengan mengintegrasikan pengembangan kapasitas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa ke dalam rencana strategis kampus. Proses ini mencakup pemetaan kompetensi dan kebutuhan pengembangan agar setiap individu dapat tumbuh sesuai potensinya.

Selanjutnya, penerapan inklusivitas di lingkungan kampus perlu diwujudkan melalui kebijakan yang ramah bagi semua kalangan, termasuk kelompok minoritas, penyandang disabilitas, dan mahasiswa lintas budaya. Kebijakan nondiskriminatif yang tegas serta sistem pelaporan yang jelas akan memperkuat rasa aman dan kebersamaan.

Aspek produktivitas juga harus diperhatikan dengan menciptakan lingkungan belajar dan bekerja yang sehat, fleksibel, serta mendukung keseimbangan kehidupan akademik dan pribadi. Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi administratif dan akademik tanpa membebani SDM.

Terakhir, perguruan tinggi perlu memiliki sistem pengukuran kesejahteraan SDM yang terstruktur. Penetapan indikator kesejahteraan secara periodik serta integrasi survei dan evaluasi ke dalam sistem manajemen mutu dapat membantu kampus memastikan kesejahteraan sivitas akademika terus terjaga dan meningkat.

Dengan mengedepankan Human Sustainability, baik organisasi maupun perguruan tinggi tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga membangun ekosistem yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan, di mana keberhasilan manusia menjadi inti dari keberhasilan institusi.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Buku dan Literasi Sebagai Pilar Pemimpin Masa Depan

Kajian Rabu, 23 April 2025

Buku bukan hanya sumber ilmu, melainkan juga sarana untuk membentuk cara berpikir dan karakter. Membaca adalah langkah penting untuk memahami dunia, mengambil keputusan yang bijak, dan menghadapi tantangan dengan perspektif yang lebih luas.

Tingkat literasi di Indonesia masih menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, kemampuan membaca pelajar Indonesia memperoleh skor 359, jauh di bawah rata-rata 476, dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-70 dari 80 negara. Data ini tidak hanya mencerminkan persoalan dalam sistem pendidikan, tetapi juga menjadi alarm bagi masa depan bangsa karena rendahnya literasi berpotensi mengancam kualitas calon pemimpin di masa mendatang.

Padahal, buku memiliki peran penting dalam membentuk karakter seorang pemimpin. Melalui kegiatan membaca, seseorang dapat mengasah kemampuan refleksi dan berpikir kritis, meningkatkan kemampuan komunikasi, memperluas wawasan untuk pengambilan keputusan yang lebih bijak, serta menumbuhkan empati dan kecerdasan emosional. Semua hal tersebut merupakan fondasi penting dalam menciptakan pemimpin yang visioner, berintegritas, dan berkeadaban.

Untuk memperbaiki kondisi ini, langkah-langkah sederhana namun berdampak bisa dimulai dari diri sendiri—seperti meluangkan waktu membaca setiap hari, mendukung pemerataan akses buku melalui donasi, berpartisipasi dalam program literasi, serta memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan semangat membaca ke audiens yang lebih luas.

Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mengambil peran aktif dalam membangun budaya literasi melalui berbagai inisiatif. Program Kelas Literas secara rutin memberikan pelatihan literasi informasi dan akademik, membekali mahasiswa dengan keterampilan riset, penulisan ilmiah, dan etika penggunaan sumber. Selain itu, kegiatan donasi buku yang digerakkan oleh perpustakaan, fakultas, dan program KKN UGM telah menyalurkan ribuan buku ke sekolah, komunitas, dan perpustakaan desa untuk memperluas akses bacaan berkualitas. UGM juga menggelar program bedah dan diskusi buku sebagai ruang untuk mendalami gagasan-gagasan penting, mendorong dialog intelektual, serta memotivasi peserta agar terus membaca dan mengeksplorasi isu-isu aktual.

Melalui upaya kolaboratif antara individu, komunitas, dan institusi pendidikan seperti UGM, diharapkan budaya literasi di Indonesia dapat tumbuh subur dan melahirkan generasi pembelajar sepanjang hayat yang siap memimpin masa depan bangsa dengan pengetahuan dan kebijaksanaan.

Penulis: BMS 

Foto: BMS

Sumber:

85 Broads. "Why Leaders Must Be Readers." Forbes. August 3, 2012. https://www.forbes.com/sites/85broads/2012/08/03/why-leaders-must-be-readers/

Forbes Business Council. "Nurturing Leadership Through the Power of Reading." Forbes. January 9, 2024. https://www.forbes.com/councils/forbesbusinesscouncil/2024/01/09/nurturing-leadership-through-the-power-of-reading/

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). "Education GPS: Indonesia. https://gpseducation.oecd.org/CountryProfile?primaryCountry=IDN&treshold=10&topic=PI

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). "PISA 2022 Database https://www.oecd.org/en/data/datasets/pisa-2022-database.html

https://lib.ugm.ac.id/en/spreading-knowledge-building-literacy-book-donation-for-smk-pariwisata-bantul/

Kartini dan Strategi Kepemimpinan Masa Kini

Kajian Senin, 21 April 2025

Kartini bukan sekadar simbol emansipasi, tetapi juga contoh nyata visionary leader pada zamannya. Berani berpikir jauh ke depan dengan tindakan nyata untuk membuka jalan bagi transformasi sosial.

Tindakan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan merupakan contoh nyata penerapan prinsip kepemimpinan dan manajemen strategis yang relevan hingga saat ini. Kartini memiliki visi yang jelas tentang kesetaraan hak bagi perempuan, terutama dalam bidang pendidikan. Di tengah keterbatasan dan norma sosial yang mengekang perempuan pada masanya, ia mampu melihat jauh ke depan membayangkan masyarakat di mana perempuan dapat belajar, berpikir, dan berperan aktif dalam kehidupan sosial.

Melalui analisis lingkungan yang tajam, Kartini memahami tantangan yang dihadapi kaumnya. Ia menyadari bahwa sistem sosial dan budaya pada masa itu membatasi ruang gerak perempuan. Namun, alih-alih menyerah pada keadaan, Kartini justru memanfaatkan posisinya sebagai seorang bangsawan untuk menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan. Dengan kecerdasannya, ia mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang.

Visi dan gagasannya tidak berhenti pada tulisan dan pemikiran semata. Kartini melakukan implementasi strategi secara nyata melalui langkah-langkah konkret, salah satunya dengan mendirikan sekolah bagi perempuan di Jepara. Inisiatif ini menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan pendidikan perempuan di Indonesia, membuktikan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang berani.

Dari perjuangan Kartini, kita belajar tentang prinsip kepemimpinan visioner yang tetap relevan di era modern. Pemimpin yang visioner harus berorientasi jangka panjang, memiliki pandangan yang melampaui kepentingan sesaat, serta fokus pada manfaat berkelanjutan. Ia juga perlu mengenali kekuatan dan hambatan melalui analisis lingkungan, agar mampu mengoptimalkan potensi dan mengambil keputusan yang tepat. Selain itu, seorang pemimpin visioner harus adaptif, mampu menyesuaikan strategi ketika menghadapi perubahan, dan berani mewujudkan visi dalam bentuk aksi nyata.

Dari Kartini, kita belajar bahwa kepemimpinan bukan soal jabatan, melainkan keberanian untuk bermimpi besar dan bertindak nyata. Siapa pun dapat menjadi pemimpin asal memiliki visi, kepekaan terhadap lingkungan, dan tekad untuk menciptakan perubahan yang membawa kebaikan bagi banyak orang.

Penulis: BMS

Foto: BMS

Hari Antropologi Sedunia

Kajian Kamis, 20 Februari 2025

Hari Antropologi Sedunia merupakan inisiatif dari American Anthropological Association yang bertujuan untuk mempromosikan pentingnya antropologi dalam ilmu pengetahuan serta meningkatkan kesadaran publik akan peran antropologi dalam memahami manusia dan masyarakat. Peringatan ini menjadi momentum untuk menegaskan bahwa antropologi bukan sekadar kajian tentang kebudayaan, tetapi juga jendela untuk memahami dinamika sosial, ekonomi, dan lingkungan yang membentuk kehidupan manusia.

Mengapa antropologi penting? Karena melalui antropologi, kita memperoleh pemahaman mendalam tentang manusia, budaya, dan masyarakat bagaimana mereka berpikir, berinteraksi, serta membangun makna dalam kehidupan sehari-hari. Antropologi juga membantu kita memahami praktik-praktik sosial masyarakat yang dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan publik dan pengembangan komunitas yang lebih inklusif. Tak kalah penting, antropologi mengajarkan kita tentang keterkaitan antara manusia dan lingkungan, sebuah relasi yang menjadi kunci keberlanjutan hidup di tengah perubahan global yang cepat.

Sebagai salah satu universitas terkemuka di Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM) berkontribusi besar dalam pengembangan ilmu antropologi melalui tiga pilar utama: pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Dalam bidang pendidikan, UGM memiliki program studi antropologi dari jenjang S-1 hingga S-3, dengan berbagai spesialisasi yang membekali mahasiswa dengan pemahaman teoretis dan keterampilan penelitian lapangan. Dalam bidang penelitian, para akademisi dan peneliti UGM aktif melakukan kajian sosial-budaya yang menghasilkan naskah akademik, laporan penelitian, publikasi ilmiah, serta policy brief yang menjadi rujukan bagi para pembuat kebijakan. Sementara dalam pengabdian masyarakat, UGM turut berperan dalam pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat, pendampingan komunitas, edukasi budaya, serta pelestarian praktik budaya lokal yang memperkuat identitas dan ketahanan sosial bangsa.

Melalui antropologi, kita belajar bahwa setiap manusia dan budaya memiliki nilai dan kisah yang layak dipahami. Karena itu, mari terus membuka diri, menghargai perbedaan, dan memperkaya perspektif kita terhadap dunia. Memahami manusia, membuka wawasan, menghargai keberagaman.

Penulis: BMS
Foto: BMS
Sumber:

https://americananthro.org/learn-teach/what-is-anthropology/ https://antropologi.fib.ugm.ac.id/id/kategori/ringkasan-kebijakan/ https://ugm.ac.id/id/berita/14611-ugm-menawarkan-resolusi-konflik-lewat-sekolah-budaya/

https://ugm.ac.id/id/berita/14611-ugm-menawarkan-resolusi-konflik-lewat-sekolah-budaya/

 
12

Recent Posts

  • Pemimpin Strategis Berdampak: Kepemimpinan yang Menciptakan Nilai bagi Organisasi
  • Hari Kependudukan Dunia 2026: Membangun Manusia untuk Kehidupan yang Lebih Berkualitas
  • Dukung Pemulihan Pascabencana, UGM dan KAGAMA Serahkan Hunian Sementara bagi Warga Sekumur
  • Hari Kelautan Nasional 2026: Laut Indonesia sebagai Fondasi Masa Depan Bangsa
  • Hari Tropis Internasional 2026: Meneguhkan Peran Wilayah Tropis untuk Masa Depan Bumi

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Archives

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Oktober 2024

Categories

  • Campus Tour
  • Kajian
  • Kegiatan
  • sdgs
Universitas Gadjah Mada

Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada

Gedung Pusat UGM, Lantai 3 Sayap Barat, Bulaksumur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Email : bms@ugm.ac.id
Whatsapp : 0851-1784-8115

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY