• Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Profil
    • Struktur Biro
    • Visi dan Misi
    • Kontak
  • Kegiatan
    • Wanagama Nusantara
    • Forum Diskusi Ilmiah
    • Kajian
    • SDGS
  • PUAPT UGM
    • Tentang
    • Working Group Food Security
    • Working Group Health Autonomy
  • UGM Campus Tour
  • Galeri
  • Beranda
  • SDG 17: KEMITRAAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN
  • SDG 17: KEMITRAAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN
  • hal. 3
Arsip:

SDG 17: KEMITRAAN UNTUK MENCAPAI TUJUAN

Pilar Buruh sebagai Jalan Baru Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan dan Berkeadilan

Kajian Kamis, 1 Mei 2025

Perayaan resmi Hari Buruh Internasional di Indonesia diawali pada 1 Mei 1946 yang ditetapkan pada masa pemerintahan Kabinet Sjahrir II. Hari Buruh memiliki arti penting untuk memperjuangkan hak dan menuntut kelayakan penghidupannya.

Di tengah dorongan global untuk pertumbuhan ekonomi tanpa henti, para pekerja/buruh kerap menjadi pihak yang rentan dieksploitasi guna mendapatkan keuntungan lebih. Human Sustainability menjadi relevan untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkeadilan.

​Konsep Human Sustainability didefinisikan sebagai pendekatan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan menjaga keseimbangan ekologi agar dapat memastikan kesinambungan dan perkembangan dalam jangka waktu yang panjang

Fokusnya adalah pemberdayaan individu melalui peningkatan kesejahteraan fisik dan mental, penguatan kapasitas karier, hingga pencarian dan pemaknaan tujuan personal. Pendekatan ini menjadi alternatif pendekatan growth-at-all-cost yang hanya fokus pada pertumbuhan cepat tanpa memperhatikan kesejahteraan dan kepekerja berlanjutan perusahaan/organisasi.

Dalam dunia kerja dan organisasi modern, terdapat dua paradigma besar dalam memandang keberhasilan: Growth-at-All-Cost dan Human Sustainability. Keduanya berorientasi pada kemajuan, namun berbeda dalam cara mencapai tujuan tersebut.

Growth-at-All-Cost berfokus pada pertumbuhan dan pendapatan yang cepat, sering kali tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang. Pendekatan ini mengejar keuntungan jangka pendek, di mana kesejahteraan pekerja kerap diabaikan demi efisiensi dan hasil instan. Model seperti ini mungkin menghasilkan lonjakan kinerja sesaat, tetapi berisiko menimbulkan kelelahan, stres, dan menurunnya loyalitas karyawan, yang pada akhirnya dapat menghambat keberlanjutan organisasi itu sendiri.

Sebaliknya, Human Sustainability menempatkan manusia sebagai pusat dari keberhasilan organisasi. Tujuannya adalah mencapai keberhasilan jangka panjang dengan mempertimbangkan dampak berkelanjutan terhadap individu dan lingkungan kerja. Pendekatan ini memastikan bahwa kesejahteraan fisik dan mental pekerja diperhatikan, karena sumber daya manusia yang sehat, termotivasi, dan berkembang adalah fondasi dari produktivitas yang sejati.

Penerapan Human Sustainability dapat dilakukan melalui beberapa strategi utama. Pertama, perencanaan berbasis SDM, di mana pekerja dipandang sebagai aset utama organisasi. Investasi pada pengembangan keterampilan dan kapasitas menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang. Kedua, penerapan inklusivitas, yang menciptakan lingkungan kerja harmonis dan produktif dengan memastikan semua anggota merasa dihargai dan menjadi bagian penting dari organisasi. Ketiga, dorongan terhadap produktivitas yang berkelanjutan, yaitu produktivitas yang tidak hanya menekankan hasil kerja, tetapi juga pengembangan kemampuan dan keseimbangan hidup pekerja. Keempat, pengukuran kesejahteraan, dengan menetapkan metrik yang relevan untuk menilai dan meningkatkan kesejahteraan fisik serta mental secara berkala.

Dalam konteks perguruan tinggi, prinsip Human Sustainability juga memiliki relevansi besar. Perguruan tinggi dapat menerapkan perencanaan berbasis SDM dengan mengintegrasikan pengembangan kapasitas dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa ke dalam rencana strategis kampus. Proses ini mencakup pemetaan kompetensi dan kebutuhan pengembangan agar setiap individu dapat tumbuh sesuai potensinya.

Selanjutnya, penerapan inklusivitas di lingkungan kampus perlu diwujudkan melalui kebijakan yang ramah bagi semua kalangan, termasuk kelompok minoritas, penyandang disabilitas, dan mahasiswa lintas budaya. Kebijakan nondiskriminatif yang tegas serta sistem pelaporan yang jelas akan memperkuat rasa aman dan kebersamaan.

Aspek produktivitas juga harus diperhatikan dengan menciptakan lingkungan belajar dan bekerja yang sehat, fleksibel, serta mendukung keseimbangan kehidupan akademik dan pribadi. Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi administratif dan akademik tanpa membebani SDM.

Terakhir, perguruan tinggi perlu memiliki sistem pengukuran kesejahteraan SDM yang terstruktur. Penetapan indikator kesejahteraan secara periodik serta integrasi survei dan evaluasi ke dalam sistem manajemen mutu dapat membantu kampus memastikan kesejahteraan sivitas akademika terus terjaga dan meningkat.

Dengan mengedepankan Human Sustainability, baik organisasi maupun perguruan tinggi tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga membangun ekosistem yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan, di mana keberhasilan manusia menjadi inti dari keberhasilan institusi.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Buku dan Literasi Sebagai Pilar Pemimpin Masa Depan

Kajian Rabu, 23 April 2025

Buku bukan hanya sumber ilmu, melainkan juga sarana untuk membentuk cara berpikir dan karakter. Membaca adalah langkah penting untuk memahami dunia, mengambil keputusan yang bijak, dan menghadapi tantangan dengan perspektif yang lebih luas.

Tingkat literasi di Indonesia masih menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian bersama. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, kemampuan membaca pelajar Indonesia memperoleh skor 359, jauh di bawah rata-rata 476, dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-70 dari 80 negara. Data ini tidak hanya mencerminkan persoalan dalam sistem pendidikan, tetapi juga menjadi alarm bagi masa depan bangsa karena rendahnya literasi berpotensi mengancam kualitas calon pemimpin di masa mendatang.

Padahal, buku memiliki peran penting dalam membentuk karakter seorang pemimpin. Melalui kegiatan membaca, seseorang dapat mengasah kemampuan refleksi dan berpikir kritis, meningkatkan kemampuan komunikasi, memperluas wawasan untuk pengambilan keputusan yang lebih bijak, serta menumbuhkan empati dan kecerdasan emosional. Semua hal tersebut merupakan fondasi penting dalam menciptakan pemimpin yang visioner, berintegritas, dan berkeadaban.

Untuk memperbaiki kondisi ini, langkah-langkah sederhana namun berdampak bisa dimulai dari diri sendiri—seperti meluangkan waktu membaca setiap hari, mendukung pemerataan akses buku melalui donasi, berpartisipasi dalam program literasi, serta memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan semangat membaca ke audiens yang lebih luas.

Universitas Gadjah Mada (UGM) turut mengambil peran aktif dalam membangun budaya literasi melalui berbagai inisiatif. Program Kelas Literas secara rutin memberikan pelatihan literasi informasi dan akademik, membekali mahasiswa dengan keterampilan riset, penulisan ilmiah, dan etika penggunaan sumber. Selain itu, kegiatan donasi buku yang digerakkan oleh perpustakaan, fakultas, dan program KKN UGM telah menyalurkan ribuan buku ke sekolah, komunitas, dan perpustakaan desa untuk memperluas akses bacaan berkualitas. UGM juga menggelar program bedah dan diskusi buku sebagai ruang untuk mendalami gagasan-gagasan penting, mendorong dialog intelektual, serta memotivasi peserta agar terus membaca dan mengeksplorasi isu-isu aktual.

Melalui upaya kolaboratif antara individu, komunitas, dan institusi pendidikan seperti UGM, diharapkan budaya literasi di Indonesia dapat tumbuh subur dan melahirkan generasi pembelajar sepanjang hayat yang siap memimpin masa depan bangsa dengan pengetahuan dan kebijaksanaan.

Penulis: BMS 

Foto: BMS

Sumber:

85 Broads. "Why Leaders Must Be Readers." Forbes. August 3, 2012. https://www.forbes.com/sites/85broads/2012/08/03/why-leaders-must-be-readers/

Forbes Business Council. "Nurturing Leadership Through the Power of Reading." Forbes. January 9, 2024. https://www.forbes.com/councils/forbesbusinesscouncil/2024/01/09/nurturing-leadership-through-the-power-of-reading/

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). "Education GPS: Indonesia. https://gpseducation.oecd.org/CountryProfile?primaryCountry=IDN&treshold=10&topic=PI

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). "PISA 2022 Database https://www.oecd.org/en/data/datasets/pisa-2022-database.html

https://lib.ugm.ac.id/en/spreading-knowledge-building-literacy-book-donation-for-smk-pariwisata-bantul/

Adaptasi Goes to Campus: Gerakan Penggerak untuk Aksi Iklim Berkeadilan

Kegiatan Kamis, 13 Maret 2025

Generasi muda memegang peran penting sebagai agen perubahan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Melalui edukasi di komunitas, pengembangan solusi inovatif berbasis teknologi, serta aktivisme dan advokasi kebijakan keberlanjutan, mereka menjadi kekuatan yang mendorong transformasi menuju masa depan yang lebih hijau dan adil.

Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Yayasan Penabulu berkomitmen memperkuat peran generasi muda dalam gerakan iklim melalui program yang menjadi bagian dari inisiatif Voices for Just Climate Action (VCA). Program ini berfokus pada pemberdayaan organisasi masyarakat sipil lokal serta kelompok yang selama ini kurang terwakili seperti perempuan, pemuda, dan masyarakat adat agar mampu berkontribusi secara aktif dalam menciptakan solusi iklim yang inovatif dan berkeadilan.

Dalam rangkaian kegiatan ini, digelar sesi talkshow yang menghadirkan praktisi dan akademisi untuk berbagi pengalaman, wawasan, serta praktik terbaik dalam mengimplementasikan strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, sesi Focus Group Discussion (FGD) menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan, tantangan, serta merumuskan potensi solusi yang dapat diterapkan dalam konteks lokal. Hasil dari diskusi ini kemudian dituangkan dalam Deklarasi Ekspresi Mahasiswa, yang berisi komitmen bersama untuk memperjuangkan keadilan iklim dan memastikan bahwa upaya menghadapi perubahan iklim dilakukan secara inklusif dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Mahasiswa UGM diharapkan dapat meneruskan semangat ini melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bentuk nyata kontribusi mereka dalam mengintegrasikan nilai keberlanjutan ke dalam pembangunan masyarakat.

Melalui kolaborasi strategis antara mahasiswa, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan, kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran sekaligus aksi nyata dalam menghadapi krisis iklim. Dengan semangat, kreativitas, dan komitmen yang tinggi, generasi muda dapat menjadi kekuatan utama dalam mendorong transisi menuju masa depan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Dokumentasi selengkapnya.

Sustainable Future Leader: Enhancing Indonesian Restorative Economy

Kegiatansdgs Kamis, 13 Februari 2025

Agenda pengurangan emisi karbon menjadi salah satu langkah strategis dalam upaya mitigasi penanganan dampak perubahan iklim. UGM bersama dengan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari berkomitmen untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan tersebut.

" Penelitian menunjukkan bahwa bambu memiliki daya serap karbon yang tinggi, berkisar antara 16 hingga 128 ton karbon per hektar. Jika dikelola dengan baik, bisa mendorong pengurangan emisi hingga 35%" -Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.,OG(K).,Ph.D.

" Pengembangan agroekologi bambu yang berkelanjutan memerlukan dukungan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, serta sumber daya manusia dan teknologi untuk memastikan kontribusinya dalam mitigasi perubahan iklim dan ekonomi restoratif." - Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, Ditjen PPI KLHK, Irawan Assad, Ph.D

Pada Sesi Panel Inspirasi menghadirkan para pemimpin dan pakar dari berbagai sektor untuk berbagai wawasan, pengalaman nyata, best practice, dan langkah konkret guna mempercepat pemanfaatan bambu dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia. 

Sesi Panel Tematik workshop ini menjadi wadah diskusi yang menarik terkait strategi inovasi dalam pemanfaatan bambu. Serta membuka peluang kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan sektor swasta untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia. 

Melalui workshop ini, diharapkan dapat dirumuskan strategi berbasis riset dan mengeksplorasi kerangka kebijakan lanjutan untuk memperkuat praktik - praktik baik ke depan.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Dokumentasi kegiatan.

123

Recent Posts

  • Pemimpin Strategis Berdampak: Kepemimpinan yang Menciptakan Nilai bagi Organisasi
  • Hari Kependudukan Dunia 2026: Membangun Manusia untuk Kehidupan yang Lebih Berkualitas
  • Dukung Pemulihan Pascabencana, UGM dan KAGAMA Serahkan Hunian Sementara bagi Warga Sekumur
  • Hari Kelautan Nasional 2026: Laut Indonesia sebagai Fondasi Masa Depan Bangsa
  • Hari Tropis Internasional 2026: Meneguhkan Peran Wilayah Tropis untuk Masa Depan Bumi

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Archives

  • Juli 2026
  • Juni 2026
  • Mei 2026
  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Oktober 2024

Categories

  • Campus Tour
  • Kajian
  • Kegiatan
  • sdgs
Universitas Gadjah Mada

Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada

Gedung Pusat UGM, Lantai 3 Sayap Barat, Bulaksumur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Email : bms@ugm.ac.id
Whatsapp : 0851-1784-8115

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY