• Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Profil
    • Struktur Biro
    • Visi dan Misi
    • Kontak
  • Kegiatan
    • Wanagama Nusantara
    • Forum Diskusi Ilmiah
    • Kajian
    • SDGS
  • PUAPT UGM
  • UGM Campus Tour
  • Galeri
  • Beranda
  • Kegiatan
  • hal. 2
Arsip:

Kegiatan

Sustainable Future Leader Series: Penguatan Peran Strategis UGM dalam Pencapaian Ketahanan Air Global

Kegiatansdgs Sabtu, 16 Agustus 2025

Yogyakarta, 15 Agustus 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) terus menunjukkan komitmennya dalam menjawab tantangan global terkait sumber daya air melalui kegiatan Sustainable Future Leader Series bertema “Penguatan Peran Strategis UGM dalam Pencapaian Ketahanan Air Global.”

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Gugus Tugas Water Security bekerja sama dengan Biro Manajemen Strategis (BMS) UGM, dan dihadiri oleh para pakar, peneliti, serta dosen lintas disiplin ilmu yang berfokus pada isu sumber daya air. Diskusi ini menjadi wadah penting bagi UGM untuk mempertegas peran strategisnya dalam membangun ketahanan air, baik di tingkat nasional maupun global.

Ketahanan Air sebagai Isu Strategis Global

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ova Emilia, Ph.D., menekankan bahwa ketahanan air bukan hanya persoalan teknis semata, tetapi juga persoalan strategis yang menyangkut keberlanjutan hidup manusia dan kesejahteraan global.

“Ketahanan air bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan strategis. UGM telah menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat peran di tingkat global melalui pembentukan task force sebagai tindak lanjut dari World Water Forum ke-10 di Bali,”

— Prof. Ova Emilia, Ph.D. (Rektor Universitas Gadjah Mada)

Senada dengan itu, Prof. Dr. Ir. Joko Sujono, M.Eng., Guru Besar UGM di bidang Sumber Daya Air dan Hidrologi, menegaskan bahwa Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan serius dalam pengelolaan sumber daya air, mulai dari krisis ketersediaan air, distribusi yang tidak merata, hingga penurunan kualitas air dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

“Indonesia menghadapi berbagai tantangan sumber daya air: krisis air, distribusi tidak merata, isu kualitas, dan bencana. UGM telah berkontribusi melalui beragam penelitian dan pengabdian masyarakat, termasuk KKN-PPM,”

— Prof. Dr. Ir. Joko Sujono, M.Eng.

Tantangan Global dan Ancaman Krisis Air

Krisis air menjadi salah satu isu lingkungan paling mendesak di dunia. Saat ini, 2,2 miliar orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman, dan 3,5 miliar orang belum mendapatkan sanitasi layak. Tantangan ini sering disebut sebagai fenomena “too much, too little, too polluted” air yang terlalu banyak (banjir), terlalu sedikit (kekeringan), dan terlalu tercemar.

Menurut Retno Marsudi, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, kondisi global menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: pada tahun 2040, sekitar 40% populasi dunia terancam kekurangan air. Di Indonesia sendiri, kebutuhan air diproyeksikan meningkat hingga 31% pada tahun 2040, yang dapat mengancam pencapaian target Indonesia Emas 2045 jika tidak segera diantisipasi.

Peran Strategis UGM: Inovasi, Regenerasi, dan Kolaborasi

Dalam menjawab tantangan tersebut, UGM berkomitmen memperkuat kontribusinya melalui dua jalur utama:

  1. Inovasi teknologi hemat air dan berbasis alam, seperti pengembangan sistem daur ulang air, teknologi filter air sederhana, irigasi efisien, serta pembelajaran dari praktik-praktik tradisional seperti Subak Bali yang telah terbukti menjaga keseimbangan ekologi dan sosial.

  2. Regenerasi para pakar dan ahli lintas disiplin di bidang air, guna memperkuat kapasitas akademik dan memastikan keberlanjutan kontribusi Indonesia terhadap solusi ketahanan air dunia.

Sesi Diskusi: Perspektif Multidisiplin UGM untuk Ketahanan Air

Dalam sesi diskusi, para dosen dan peneliti UGM dari berbagai fakultas menyampaikan pandangan mereka tentang strategi membangun ketahanan air nasional dan global.

Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, ASEAN.Eng., menyoroti pentingnya riset dan pendidikan tinggi dalam memperkuat sumber daya manusia unggul di bidang air.

“UGM mengembangkan riset dan pendidikan bidang sumber daya air, dari teknologi tepat guna hingga program magister, untuk mempercepat penyiapan SDM unggul. Upaya ini mendukung ketahanan air global dan memperkuat peran negara-negara Global South dalam menghadapi tantangan air, pangan, dan iklim,”

— Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D.

Sementara itu, Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, Circ&Med, AIFM, menekankan hubungan erat antara ketahanan air dan kesehatan manusia.

“Ketahanan air berhubungan langsung dengan kesehatan, karena keseimbangan cairan tubuh sangat vital bagi organ, sehingga diperlukan kontrol penggunaan air, pengelolaan air bersih, dan pemanfaatan teknologi desalinasi untuk keberlanjutan,”

— Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro

Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM, ASEAN Eng., menambahkan bahwa partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci keberhasilan dalam menjaga ketahanan air.

“Ketahanan air hanya bisa dicapai jika seluruh masyarakat terlibat aktif mengatasi masalah air melalui gerakan bersama, misalnya melalui gerakan memanen hujan dan gerakan menjaga sungai,”

— Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono

Dari perspektif tata ruang, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D., menyoroti pentingnya perencanaan kota yang harmonis.

“Pada 2050, 70% penduduk dunia akan tinggal di kota sehingga kebutuhan air meningkat pesat. Karena itu, penataan ruang yang harmonis antara hulu dan hilir menjadi kunci menjaga ketahanan air,”

— Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono

Sementara itu, Prof. Dr. Drs. Eko Haryono, M.Si., menyoroti peran UGM dalam konservasi kawasan karst sebagai sumber air alami.

“UGM berperan dalam konservasi karst, termasuk mengusulkan akuifer Gunung Sewu sebagai warisan penting dunia. Dukungan pemerintah serta UNESCO dibutuhkan untuk memperkuat konservasi karst sebagai aspek penting dalam ketahanan air,”

— Prof. Dr. Drs. Eko Haryono

Komitmen UGM untuk Masa Depan Air yang Berkelanjutan

Melalui kegiatan ini, UGM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran strategis dalam membangun ketahanan air melalui inovasi teknologi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, dan kolaborasi lintas sektor, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.

Diskusi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menghadirkan solusi aplikatif dan kolaboratif guna menjaga keberlanjutan sumber daya air demi kesejahteraan masyarakat dan kelangsungan hidup generasi mendatang.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Dokumentasi kegiatan.

KKN dalam Pandangan José Ramos-Horta: Ruang Tumbuh Pemimpin dan Perubahan Sosial

Kegiatan Jumat, 1 Agustus 2025

KKN dalam Pandangan José Ramos-Horta: Ruang Tumbuh Pemimpin dan Perubahan Sosial
Gagasan dan Harapan Peraih Nobel Perdamaian untuk Generasi Muda Indonesia

 

Menurut Presiden José Ramos-Horta, peraih Nobel Perdamaian, perdamaian sejati bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan perdamaian positif yang tumbuh dari rumah, sekolah, dan komunitas. Ia menegaskan bahwa perdamaian yang langgeng harus berakar pada rakyat sebagai pusat kebijakan, dengan menjunjung tinggi inklusivitas, keadilan hukum, serta perlindungan konstitusional. Selain itu, penghargaan terhadap keberagaman budaya, agama, dan bahasa, pemberdayaan komunitas lokal, pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, serta peningkatan peran dan kepemimpinan perempuan merupakan kunci dalam mewujudkan perdamaian berkelanjutan.

Bagi Ramos-Horta, kepemimpinan inspiratif adalah kemampuan membangkitkan potensi orang lain dan menggerakkan mereka menuju masa depan yang adil, inklusif, berkelanjutan, dan damai. Kepemimpinan seperti ini berpusat pada komunitas: mendengarkan kebutuhan mereka, menghargai kearifan lokal, serta memberdayakan masyarakat untuk memimpin perubahan. Nilai-nilai utama kepemimpinan inspiratif meliputi empati, ketekunan dan ketahanan, integritas, serta kemampuan menyampaikan visi. Ramos-Horta meyakini bahwa perubahan sosial sejati akan muncul ketika komunitas lokal dan institusi akademik bekerja sama, berdialog, dan menciptakan solusi bersama.

Berdasarkan pengalamannya dalam memimpin Timor Leste, Ramos-Horta menekankan tiga pilar penting perubahan sosial yaitu pendidikan, kewirausahaan sosial, dan perdamaian.
Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi sarana membebaskan pikiran dan kesadaran. Pengetahuan akademik harus keluar dari ruang kelas dan menjadi inkubator bagi usaha mikro dan kecil, bisnis keluarga, serta koperasi yang dapat berkembang di desa, kampung, ladang, dan pasar.
Kewirausahaan sosial dipandang sebagai alat untuk mengubah tantangan sosial menjadi peluang berkelanjutan. Karena itu, pemuda harus dilibatkan sebagai pusat kebijakan melalui berbagai program kepemimpinan.
Sementara itu, pilar perdamaian menjadi fondasi utama bagi pembangunan. Ramos-Horta menegaskan bahwa tanpa perdamaian, tidak akan ada pembangunan; dan rekonsiliasi hanya dapat terwujud melalui keberanian politik, dialog, serta rekonstruksi jaringan sosial.

Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi contoh nyata dari pendidikan yang berpadu dengan pemberdayaan masyarakat. Program ini menciptakan ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk menerapkan nilai-nilai kepemimpinan inspiratif dan transformasi sosial. Melalui KKN-PPM, mahasiswa belajar langsung dari komunitas, mendengarkan kebutuhan mereka, memahami kekuatan lokal, dan turut serta dalam proses perubahan sosial yang berkelanjutan.

Ramos-Horta menilai inisiatif UGM melalui KKN-PPM sebagai langkah yang sangat menginspirasi. Ia menyebut bahwa model ini layak diakui dan direplikasi secara global, karena menunjukkan bagaimana universitas dapat memimpin transformasi sosial.

“Jalani KKN dengan sepenuh hati. Kehadiran mahasiswa di masyarakat, dengan mendengar dan bertindak, sangat berharga karena setiap tindakan yang dilakukan akan menciptakan dampak yang abadi. Senantiasa terapkan prinsip kepemimpinan inspiratif: empati, ketahanan, integritas, dan visi dalam dalam setiap tindakan,” pesan Presiden José Ramos-Horta.

Dokumentasi selengkapnya.

UGM Supports Save Soil Movement: Sahil Jha Cycling Across 4 Continents

Kegiatansdgs Sabtu, 14 Juni 2025

Yogyakarta, 13 Juni 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan komitmen kuatnya dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan dan konservasi tanah dengan berkolaborasi bersama gerakan internasional Save Soil. Dukungan ini diwujudkan melalui kegiatan “Save Soil Movement: Sahil Jha Cycling Across 4 Continents”, sebuah ekspedisi sepeda lintas negara yang diinisiasi oleh Sahil Jha, aktivis muda yang mengampanyekan kesadaran global tentang pentingnya menjaga kesehatan dan keberlanjutan tanah.

Kegiatan ini diawali dengan penyambutan resmi terhadap Sahil Jha di UGM, sebagai simbol penghormatan dan apresiasi atas dedikasi dan perjuangannya dalam mengedukasi publik tentang isu konservasi tanah. Setelah sesi penyambutan, acara dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang menghadirkan para pakar dari UGM dan perwakilan dari Save Soil Movement.

Tanah: Fondasi Kehidupan dan Kunci Keberlanjutan

Dalam kesempatan tersebut, Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D., selaku Kepala Biro Manajemen Strategis UGM, menegaskan bahwa tanah merupakan elemen dasar kehidupan yang memiliki peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem global.

“Tanah adalah sumber kehidupan, fondasi sistem pangan, air, dan hutan. Tanah memiliki peran penting dalam mitigasi perubahan iklim karena kemampuannya menyimpan karbon dan mengatur emisi gas rumah kaca,”
— Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D. (Kepala Biro Manajemen Strategis UGM)

Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Praveena Shridar, Chief Science & Technology Officer Save Soil Movement, yang menekankan pentingnya peran universitas dan negara agraris seperti Indonesia dalam mendorong praktik pertanian berkelanjutan untuk menahan laju degradasi tanah.

“Universitas dan negara agraris seperti Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong praktik pertanian berkelanjutan guna menahan laju degradasi tanah,”
— Praveena Shridar (Chief Science & Technology Officer, Save Soil Movement)

Pandangan Akademisi UGM tentang Kesehatan Tanah

Dari sisi akademik, Prof. Benito Heru Purwanto, Dosen Fakultas Pertanian UGM, menegaskan bahwa tanah adalah elemen vital yang sangat rentan terhadap kerusakan. Ia menyoroti pentingnya edukasi dan peningkatan kesadaran publik sebagai langkah awal dalam menjaga keberlanjutan tanah.

“Tanah merupakan elemen vital dalam ekosistem yang sangat rentan terhadap kerusakan dan membutuhkan waktu lama untuk pulih. Edukasi dan peningkatan kesadaran publik harus menjadi prioritas,”
— Prof. Benito Heru Purwanto (Fakultas Pertanian UGM)

Suara Generasi Muda untuk Tanah yang Sehat

Aktivis muda Sahil Jha, yang menjadi figur utama dalam ekspedisi lintas benua ini, mengungkapkan bahwa isu kesehatan tanah harus menjadi perhatian generasi muda di seluruh dunia. Melalui kampanye Save Soil, ia mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap tanah sebagai sumber utama kehidupan.

“Tanah yang sehat adalah kunci untuk menghasilkan makanan berkualitas dan menjaga kelangsungan hidup manusia. Generasi muda perlu menyuarakan isu ini melalui aksi nyata dan media sosial,”
— Sahil Jha (Aktivis Save Soil)

Senada dengan hal tersebut, Raline Shah, yang turut hadir sebagai Duta Save Soil, menekankan bahwa tanah bukan sekadar komponen fisik dari pertanian, melainkan bagian integral dari kehidupan manusia dan keseimbangan alam.

“Tanah bukan sekadar elemen pertanian, melainkan fondasi kehidupan dan kesehatan manusia, serta berperan menunjang ketahanan pangan dan keseimbangan ekosistem,”
— Raline Shah (Duta Save Soil)

Komitmen UGM untuk Konservasi Tanah dan Ketahanan Pangan

Kegiatan kolaboratif ini tidak hanya menjadi bentuk dukungan terhadap perjuangan pribadi Sahil Jha, tetapi juga mencerminkan komitmen UGM sebagai Centre of Excellence Working Group Food Security dalam memperkuat peran akademisi dan peneliti dalam menghadirkan solusi ilmiah terhadap isu degradasi tanah dan perubahan lingkungan.

Melalui riset, inovasi teknologi, dan advokasi kebijakan, UGM berupaya mengembangkan pendekatan ilmiah dan aplikatif yang dapat memperkuat konservasi tanah, ketahanan pangan, dan keberlanjutan ekosistem.

Kegiatan ini diharapkan menjadi awal kolaborasi lanjutan antara UGM dan Save Soil, yang melibatkan penelitian bersama, advokasi kebijakan lingkungan, serta program edukasi publik di bidang soil security, lingkungan hidup, dan pertanian berkelanjutan.

Dengan langkah nyata ini, UGM terus memperkuat perannya sebagai universitas yang berkomitmen terhadap pembangunan berkelanjutan, sekaligus mendukung gerakan global untuk menyelamatkan tanah  sumber kehidupan bagi seluruh makhluk di bumi.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS & Humas UGM

Dokumentasi kegiatan.

Koordinasi Pengelolaan Kunjungan Kampus (Campus Tour) Bersama Fakultas dan Unit Kerja

Campus TourKegiatan Sabtu, 26 April 2025

Tim task force kunjungan kampus (campus tour) yang berada di bawah koordinasi Biro Manajemen Strategis, bersama Biro Transformasi Digital, Direktorat Teknologi Informasi, dan Direktorat Keuangan, mendukung terwujudnya tata kelola kunjungan kampus yang lebih terintegrasi di Universitas Gadjah Mada. Sebagai bagian dari upaya tersebut, diadakan pertemuan koordinasi kunjungan kampus dengan fakultas dan unit kerja terkait.

Dalam koordinasi ini, disampaikan progres penyusunan tata kelola kunjungan kampus UGM, yang direncanakan akan dilakukan dengan mekanisme satu pintu melalui Sekretaris Universitas.

Pada kesempatan yang sama, turut diperkenalkan situs web Unit Layanan Terpadu (ULT) yang akan menjadi platform pendaftaran kunjungan bagi sekolah yang ingin berkunjung ke Universitas Gadjah Mada. Selain penyampaian progres dan pengenalan situs web kunjungan, koordinasi ini juga bertujuan untuk menghimpun masukan, pendapat, dan saran dari fakultas serta unit kerja dalam rangka mengembangkan tata kelola kunjungan kampus yang sesuai dengan kebutuhan semua pihak. 

Tata kelola kunjungan kampus dan situs pendaftaran kunjungan saat ini masih dalam tahap penyempurnaan. Ke depannya diharapkan sistem ini dapat segera diimplementasikan dan dapat mendukung pengelolaan kunjungan yang lebih terstruktur, efisien, serta sesuai dengan standar layanan di Universitas Gadjah Mada.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Dokumentasi kegiatan.

 

 

Pelatihan Kepemanduan Campus Tour Universitas Gadjah Mada

Campus TourKegiatan Jumat, 21 Maret 2025

Tim Pengelola Kunjungan Kampus, di bawah Biro Manajemen Strategis menyelenggarakan Pelatihan Kepemanduan dalam rangka mewujudkan pengalaman kunjungan kampus yang lebih informatif dan profesional. Pelatihan ini diikuti oleh mahasiswa perwakilan dari berbagai fakultas dan sekolah di UGM yang berkomitmen menjadi pemandu dalam kegiatan kunjungan kampus. Kegiatan pelatihan berlangsung selama dua hari, dimulai dengan sesi materi pengenalan kepemanduan pada hari pertama secara daring.

Pelatihan pada hari kedua berfokus pada aspek teknis, khususnya terkait SOP kepemanduan. Mahasiswa juga berkesempatan mempraktikkan tata cara serta kiat kepemanduan dalam sesi pelatihan yang didampingi oleh praktisi di bidang kepemanduan. 

Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memiliki kapasitas sebagai pemandu dengan keterampilan komunikasi, manajemen kunjungan, serta pemahaman mendalam tentang UGM. Kegiatan ini juga diharapkan menjadi langkah mewujudkan layanan kunjungan kampus yang lebih profesional, sistematis, dan berkesan bagi setiap pengunjung di UGM.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Dokumentasi kegiatan.

 

Adaptasi Goes to Campus: Gerakan Penggerak untuk Aksi Iklim Berkeadilan

Kegiatan Kamis, 13 Maret 2025

Generasi muda memegang peran penting sebagai agen perubahan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Melalui edukasi di komunitas, pengembangan solusi inovatif berbasis teknologi, serta aktivisme dan advokasi kebijakan keberlanjutan, mereka menjadi kekuatan yang mendorong transformasi menuju masa depan yang lebih hijau dan adil.

Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Yayasan Penabulu berkomitmen memperkuat peran generasi muda dalam gerakan iklim melalui program yang menjadi bagian dari inisiatif Voices for Just Climate Action (VCA). Program ini berfokus pada pemberdayaan organisasi masyarakat sipil lokal serta kelompok yang selama ini kurang terwakili seperti perempuan, pemuda, dan masyarakat adat agar mampu berkontribusi secara aktif dalam menciptakan solusi iklim yang inovatif dan berkeadilan.

Dalam rangkaian kegiatan ini, digelar sesi talkshow yang menghadirkan praktisi dan akademisi untuk berbagi pengalaman, wawasan, serta praktik terbaik dalam mengimplementasikan strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, sesi Focus Group Discussion (FGD) menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menyampaikan pandangan, tantangan, serta merumuskan potensi solusi yang dapat diterapkan dalam konteks lokal. Hasil dari diskusi ini kemudian dituangkan dalam Deklarasi Ekspresi Mahasiswa, yang berisi komitmen bersama untuk memperjuangkan keadilan iklim dan memastikan bahwa upaya menghadapi perubahan iklim dilakukan secara inklusif dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

Mahasiswa UGM diharapkan dapat meneruskan semangat ini melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai bentuk nyata kontribusi mereka dalam mengintegrasikan nilai keberlanjutan ke dalam pembangunan masyarakat.

Melalui kolaborasi strategis antara mahasiswa, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan, kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran sekaligus aksi nyata dalam menghadapi krisis iklim. Dengan semangat, kreativitas, dan komitmen yang tinggi, generasi muda dapat menjadi kekuatan utama dalam mendorong transisi menuju masa depan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Dokumentasi selengkapnya.

Sustainable Future Leader: Enhancing Indonesian Restorative Economy

Kegiatansdgs Kamis, 13 Februari 2025

Agenda pengurangan emisi karbon menjadi salah satu langkah strategis dalam upaya mitigasi penanganan dampak perubahan iklim. UGM bersama dengan Yayasan Bambu Lingkungan Lestari berkomitmen untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan tersebut.

" Penelitian menunjukkan bahwa bambu memiliki daya serap karbon yang tinggi, berkisar antara 16 hingga 128 ton karbon per hektar. Jika dikelola dengan baik, bisa mendorong pengurangan emisi hingga 35%" -Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed.,Sp.,OG(K).,Ph.D.

" Pengembangan agroekologi bambu yang berkelanjutan memerlukan dukungan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, serta sumber daya manusia dan teknologi untuk memastikan kontribusinya dalam mitigasi perubahan iklim dan ekonomi restoratif." - Direktur Mitigasi Perubahan Iklim, Ditjen PPI KLHK, Irawan Assad, Ph.D

Pada Sesi Panel Inspirasi menghadirkan para pemimpin dan pakar dari berbagai sektor untuk berbagai wawasan, pengalaman nyata, best practice, dan langkah konkret guna mempercepat pemanfaatan bambu dalam pembangunan berkelanjutan di Indonesia. 

Sesi Panel Tematik workshop ini menjadi wadah diskusi yang menarik terkait strategi inovasi dalam pemanfaatan bambu. Serta membuka peluang kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan sektor swasta untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi hijau Indonesia. 

Melalui workshop ini, diharapkan dapat dirumuskan strategi berbasis riset dan mengeksplorasi kerangka kebijakan lanjutan untuk memperkuat praktik - praktik baik ke depan.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Dokumentasi kegiatan.

Penataan dan Pengelolaan Kunjungan Kampus UGM

Kegiatan Sabtu, 1 Februari 2025

Tim Pengelolaan Kunjungan Kampus, di bawah Biro Manajemen Strategis mengadakan FGD untuk membahas rencana tata kelola kunjungan kampus yang baru, termasuk aturan dan SOP penerimaan kunjungan di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas UGM.

FGD bertujuan untuk menyamakan persepsi, menghimpun pendapat, serta masukan dari perwakilan fakultas, sekolah, dan unit kerja terkait rencana pengelolaan kunjungan kampus yang baru. Dalam kegiatan ini, BMS menyediakan voucher untuk peserta FGD yang dapat ditukarkan di berbagai tenant di GIK. Penyediaan voucher ini diharapkan dapat menjadi sarana promosi GIK sekaligus meningkatkan kunjungan dan memberdayakan tenant yang berada di GIK.

Penulis: BMS

Foto: BMS UGM

Dokumentasi kegiatan.

Diskusi Kajian Hukum Laut Perbatasan

Kegiatan Kamis, 10 Oktober 2024

Diskusi Kajian Hukum Laut Perbatasan telah sukses diselenggarakan pada Rabu, 9 Oktober 2024 di Universitas Borneo Tarakan, dengan topik utama Delimitasi Batas Maritim bersama Andreas Aditya Salim, S.H., LL.M. dari IOJI. Diskusi ini menyoroti tantangan pentingnya penetapan batas maritim berdasarkan UNCLOS untuk menjaga kedaulatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Indonesia adalah negara maritim. Setiap peristiwa yang terjadi di laut memiliki dampak yang signifikan bagi kehidupan masyarakat yang tinggal di darat. Delimitasi batas maritim sangat krusial untuk melindungi sumber daya laut dan mencegah konflik antar negara, sehingga dapat mendukung kedaulatan dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan di wilayah perbatasan.

Kajian hukum laut perbatasan membahas berbagai aspek penting yang menjadi dasar pengaturan dan pengelolaan wilayah laut suatu negara. Pembahasan diawali dengan pemahaman mengenai zona maritim dan zona fungsional, yang meliputi laut teritorial, zona tambahan, zona ekonomi eksklusif, dan landas kontinen yang masing-masing memiliki karakteristik dan hak-hak yurisdiksi tertentu. Selanjutnya, dikaji pula tentang garis pangkal (baselines) sebagai acuan pengukuran lebar wilayah laut, baik garis pangkal normal, garis pangkal lurus, maupun garis pangkal kepulauan. Dalam konteks Indonesia, pembahasan ini sangat relevan karena Indonesia diakui sebagai negara kepulauan (archipelagic country) yang memiliki hak untuk menarik garis pangkal kepulauan dan mengatur perairan antar pulau sebagai satu kesatuan yang utuh.

Kajian ini juga mencakup rezim hukum pada berbagai zona maritim, seperti hak kedaulatan, hak berdaulat, dan kebebasan di laut lepas, yang diatur berdasarkan Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982. Di samping itu, prinsip-prinsip delimitasi menjadi aspek penting dalam menentukan batas wilayah laut antarnegara yang bersebelahan atau berhadapan, dengan menekankan asas keadilan dan kesepakatan bersama. Dalam proses delimitasi, sikap tindak negara yang berunding menjadi faktor kunci, karena keberhasilan perundingan batas laut bergantung pada itikad baik, transparansi, serta kesediaan untuk mencari solusi damai. Sebagai ilustrasi, berbagai permasalahan kelautan di wilayah perbatasan, seperti tumpang tindih klaim wilayah, eksplorasi sumber daya, hingga pelanggaran batas, menjadi contoh nyata kompleksitas penerapan hukum laut dan pentingnya kerja sama antarnegara untuk menjaga stabilitas kawasan.

Permasalahan masyarakat lokal di kawasan perbatasan:

  1. Masyarakat nelayan di Tarakan Timur hidup dibawah garis kemiskinan meskipun memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar.

  2. Keterbatasan akses terhadap teknologi modern dalam penangkapan ikan.

  3. Kurangnya jaringan distribusi yang kuat untuk menghubungkan nelayan lokal dengan pembeli di pasar internasional menghambat potensi ekspor.

  4. Daya tawar yang rendah dalam penjualan kakao dari Sebatik ke Malaysia.

  5. Alih fungsi lahan dari kakao menjadi kelapa sawit di Sebatik mengancam mata pencaharian petani, berdampak negatif pada ekonomi lokal.

Kolaborasi lintas disiplin berperan penting dalam mengatasi kompleksitas isu perbatasan, dapat terasah melalui kegiatan lapangan bersama yang memungkinkan berbagi pengalaman antara akademisi, praktisi, dan komunitas untuk memperkuat tata kelola wilayah perbatasan serta membangkitkan simpul keilmuan di Universitas Borneo Tarakan.

"Harapan besar agar Universitas Borneo Tarakan dapat menjadi Centre of Excellence di bidang hukum laut dan blue economy, dengan dukungan jejaring nasional dan internasional untuk memperkuat posisi strategis Universitas Borneo Tarakan di wilayah perbatasan." - Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D. Kepala Biro Manajemen Strategis UGM.

Penulis: BMS
Foto: BMS

Dokumentasi selengkapnya.

Legal Challenges to Address Planetary Crisis in the Anthropocene

Kegiatan Jumat, 4 Oktober 2024

Kondisi alam dan bumi selalu berhubungan erat dengan perkembangan masyarakat. Dalam menghadapi krisis planet, hukum harus memberikan solusi yang realistis dan melibatkan kolaborasi antar bidang (teknologi, inovasi, budaya, agama, dll.).

Hukum internasional lingkungan harus bertransformasi untuk merespon krisis planet. Kompleksitas masalah saat ini memerlukan pendekatan lintas disiplin untuk menciptakan solusi yang efektif.

Diperlukan perubahan mendasar dalam kebijakan dan sistem pendidikan universitas agar dapat melahirkan produk hukum yang lebih adil serta responsif terhadap krisis planet. Kolaborasi lintas fakultas, universitas, dan sektor menjadi kunci untuk menjadikan hukum sebagai solusi efektif yang berkelanjutan.

"Kolaborasi Lintas Keilmuan, Wujudkan Solusi Berkelanjutan"

Kompleksitas tantangan lingkungan global, khususnya di masa Antroposen mendorong transformasi terhadap hukum internasional. Terdapat 3 strategi utama, yaitu merangkul kompleksitas, mendorong kolaborasi interdisipliner, dan mendorong inovasi hukum untuk menciptakan kerangka kerja yang dapat diadaptasi.

Penulis: BMS

Foto: BMS & Humas UGM

Dokumentasi selengkapnya.

12

Recent Posts

  • Penerimaan Rekrutmen Tenaga Mahasiswa Paruh Waktu Tahun 2026 Biro Manajemen Strategis Universitas Gadjah Mada
  • Hari Perempuan Sedunia: Perempuan Berdaya, Pendidikan Bermakna, Masa Depan Setara
  • UGM Membangun Balai Masjid sebagai Community Center di Desa Geudumbak Langkahan Aceh Utara
  • Kolaborasi Kuat, Kepemimpinan Hebat
  • Bersatu Bersama Kelola Sampah: Refleksi Hari Peduli Sampah Nasional

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Archives

  • April 2026
  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Oktober 2024

Categories

  • Campus Tour
  • Kajian
  • Kegiatan
  • sdgs
Universitas Gadjah Mada

Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada

Gedung Pusat UGM, Lantai 3 Sayap Barat, Bulaksumur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Email : bms@ugm.ac.id
Whatsapp : 0851-1784-8115

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY