• Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang
    • Profil
    • Struktur Biro
    • Visi dan Misi
    • Kontak
  • Kegiatan
    • Wanagama Nusantara
    • Forum Diskusi Ilmiah
    • Kajian
    • SDGS
  • PUAPT UGM
  • UGM Campus Tour
  • Galeri
  • Beranda
  • Pos oleh
Pos oleh :

vanyaputridamayanti

Refleksi Sumpah Pemuda: Dulu untuk Kemerdekaan, Kini untuk Keberlanjutan

Kajian Selasa, 28 Oktober 2025

Pada 28 Oktober 1928, Sumpah Pemuda menjadi momen penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Pemuda dari berbagai daerah menyatukan komitmen, semangat, dan langkah nyata untuk memperjuangkan satu bangsa, satu tanah air, dan satu bahasa yang kemudian menjadi dasar lahirnya gerakan kemerdekaan. Momen Sumpah Pemuda membuktikan bahwa pemuda memiliki peran penting dalam mendorong perubahan besar. Kini, peran yang sama dibutuhkan untuk menjawab tantangan zaman seperti krisis iklim, permasalahan lingkungan, hingga ketimpangan sosial. Dengan semangat yang sama, pemuda dapat berkontribusi dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.

Dalam menghadapi tantangan global tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) berkomitmen menciptakan ruang bagi pemuda untuk tumbuh dan berkontribusi. Komitmen ini diwujudkan melalui tujuan strategis sebagaimana tertuang dalam Renstra UGM 2022–2027. Melalui pendidikan transdisiplin dan inklusif, UGM mendorong pendidikan untuk semua dan pembelajaran lintas disiplin agar mahasiswa dapat mengembangkan talenta, soft skill, dan inovasi. Dalam bidang pengabdian masyarakat berkelanjutan, UGM mengedepankan pendekatan keilmuan dan teknologi tepat guna sebagai ruang kontribusi nyata bagi mahasiswa dan sivitas akademika dalam mendorong kesejahteraan masyarakat. Selain itu, UGM juga berupaya menciptakan atmosfer kampus yang sehat dan berkelanjutan, menjadikan kampus sebagai ruang tumbuh yang mendukung perilaku sehat, ramah lingkungan, serta berbasis teknologi digital untuk memperkuat akuntabilitas sosial dan kolaborasi inovatif mahasiswa.

Sebagai bagian dari upaya membentuk mahasiswa yang sadar akan tantangan global dan lokal, UGM juga menyelenggarakan berbagai program edukasi yang berfokus pada isu-isu strategis seperti keberlanjutan lingkungan, perubahan iklim, dan kesehatan ekosistem. Melalui Save Soil Movement, UGM menghadirkan forum diskusi yang bertujuan meningkatkan kesadaran generasi muda akan pentingnya kesehatan tanah sebagai fondasi keberlanjutan lingkungan serta mendorong peran aktif mereka dalam menjaga ekosistem bumi. Sementara itu, Gerakan Penggerak untuk Aksi Iklim Berkeadilan menjadi wadah edukatif yang mengajak generasi muda memahami isu perubahan iklim dan dampaknya terhadap masyarakat lokal, sekaligus memperkuat peran mereka dalam advokasi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Semangat pemuda juga tercermin melalui program KKN-PPM UGM yang membawa mahasiswa untuk terjun langsung ke masyarakat, mengenali persoalan yang ada, dan menghadirkan solusi nyata. Mahasiswa sebagai representasi pemuda dan ilmu pengetahuan hadir membawa gagasan, inovasi, dan semangat kolaborasi untuk mendorong perubahan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, lingkungan, hingga ekonomi lokal. KKN menjadi ruang belajar sekaligus wadah kontribusi nyata bagi pendidikan tinggi dalam menjawab persoalan masyarakat secara langsung.

Dengan semangat yang diwariskan dari Sumpah Pemuda, UGM terus berkomitmen mencetak generasi muda yang berintegritas, berdaya saing global, dan berorientasi pada keberlanjutan. Dari kampus hingga pelosok negeri, pemuda Indonesia siap melanjutkan perjuangan dengan cara baru yaitu mengabdi, berinovasi, dan menjaga bumi untuk masa depan yang lebih baik.

Penulis: BMS
Foto: BMS

UGM and BOKU Collaborative Workshop on Teaching, Community Service, and SDGs

Kegiatansdgs Sabtu, 25 Oktober 2025

UGM dan BOKU Gelar Workshop Kolaboratif tentang Pengajaran, Pengabdian Masyarakat, dan SDGs

20 – 24 Oktober 2025

Dalam rangka program Erasmus+ Staff Mobility Training, Universitas Gadjah Mada (UGM) dan University of Natural Resources and Life Sciences, Vienna (BOKU) menyelenggarakan workshop kolaboratif selama empat hari yang berfokus pada pengembangan kerja sama strategis di bidang pengajaran, pengabdian kepada masyarakat, serta kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kegiatan ini menghadirkan Andreas Bauer, M.Sc, sebagai bagian dari upaya memperkuat pertukaran gagasan, pengalaman, dan praktik terbaik antar kedua institusi.

Hari Pertama – 20 Oktober 2025

Workshop hari pertama dibagi ke dalam dua sesi utama, yakni Teaching Philosophy dan Pengabdian Masyarakat.
Pada sesi Teaching Philosophy, peserta membahas pentingnya pemahaman pengajar terhadap peran dan tanggung jawabnya dalam proses pembelajaran, serta bagaimana membentuk pengalaman belajar yang bermakna bagi mahasiswa. Sesi ini juga diisi dengan refleksi bersama mengenai nilai-nilai yang mencerminkan sosok pengajar yang baik.

Sementara pada sesi Pengabdian Masyarakat, UGM dan BOKU saling berbagi praktik terbaik dari masing-masing institusi. Di UGM, kegiatan pengabdian masyarakat banyak melibatkan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang bersifat wajib, sedangkan di BOKU pengabdian lebih banyak diintegrasikan dalam kegiatan riset dan proyek komunitas yang berorientasi pada penerapan ilmu pengetahuan.

Hari Kedua – 21 Oktober 2025

Hari kedua workshop membahas implementasi SDGs di UGM dan BOKU serta tantangan yang dihadapi masing-masing institusi. Diskusi berfokus pada identifikasi peluang kolaborasi untuk memperkuat kontribusi kedua universitas terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan, termasuk upaya mengintegrasikan SDGs ke dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Hari Ketiga dan Keempat – 23 & 24 Oktober 2025

Pada dua hari terakhir, kegiatan difokuskan pada penyusunan proposal kerja sama antara UGM dan BOKU. Proses ini diawali dengan identifikasi topik-topik relevan berdasarkan keahlian dan bidang prioritas masing-masing institusi, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan teknis mengenai struktur proposal dan penyusunan timeline kegiatan untuk tindak lanjut ke depan.

Langkah Kolaborasi untuk Mendukung Program UGM dan PUAPT

Sebagai hasil dari kegiatan ini, disepakati beberapa langkah kolaborasi strategis untuk mendukung program UGM dan Pusat Unggulan Akademik dan Pengabdian Terpadu (PUAPT), antara lain:

  1. Kolaborasi bersama BOKU dan universitas di Afrika dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat serta implementasi berbagai topik keberlanjutan.

  2. Program Lecture and Staff Mobility untuk memfasilitasi pertukaran akademisi antara UGM dan BOKU dalam rangka pengembangan kapasitas dosen dan tenaga kependidikan.

  3. Penjajakan peluang pendanaan melalui proposal bersama, dengan fokus pada isu-isu keberlanjutan dan tema-tema strategis yang menjadi prioritas PUAPT dan UGM.

Kolaborasi antara UGM dan BOKU diharapkan tidak berhenti pada pertemuan ini, melainkan terus berkembang menjadi kemitraan strategis yang memperkuat peran kedua universitas dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan komitmen bersama terhadap nilai-nilai keberlanjutan, kerja sama ini diharapkan mampu mendorong implementasi SDGs secara lebih luas dan berdampak nyata bagi masyarakat global.

Penulis : BMS

Foto : BMS

Leading in VUCA: Kepemimpinan di Tengah Ketidakpastian

Kajian Rabu, 8 Oktober 2025

Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, kompleks, dan penuh ketidakpastian, peran kepemimpinan menjadi semakin penting. Pemimpin masa kini tidak hanya dituntut untuk mengambil keputusan dengan cepat, tetapi juga mampu beradaptasi dengan situasi yang tidak menentu dan sering kali tidak memiliki pola yang jelas. Kondisi inilah yang dikenal dengan istilah VUCA — singkatan dari Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity.

Apa Itu VUCA?

VUCA menggambarkan empat tantangan utama yang dihadapi oleh organisasi dan individu dalam konteks dunia modern saat ini:

  • Volatility (Perubahan Cepat): Situasi yang mudah berubah dengan cepat dan sulit diprediksi.

  • Uncertainty (Ketidakpastian): Kurangnya kepastian terhadap arah perkembangan, sehingga keputusan sering diambil tanpa informasi lengkap.

  • Complexity (Kompleksitas): Banyaknya faktor yang saling berkaitan dan memengaruhi hasil, menjadikan analisis situasi semakin rumit.

  • Ambiguity (Ambiguitas): Informasi yang tidak jelas dan dapat ditafsirkan dengan berbagai cara, sehingga pemahaman terhadap situasi sering kali tidak seragam.

Keempat aspek ini mencerminkan dunia yang terus bergerak dan berubah secara dinamis, di mana pendekatan kepemimpinan tradisional sering kali tidak lagi memadai.

Mindset Shift: Low-Data Decision Making

Dalam konteks VUCA, paradigma pengambilan keputusan perlu bergeser. Pemikiran bahwa semakin banyak data akan menghasilkan keputusan yang semakin baik tidak selalu berlaku. Di dunia yang serba cepat dan tidak pasti, data sering kali tidak lengkap, tidak relevan, atau sudah kadaluwarsa sebelum sempat diolah.

Menunda keputusan demi menunggu data yang sempurna justru dapat menimbulkan risiko yang lebih besar. Karena itu, seorang pemimpin perlu memiliki keberanian untuk bertindak dengan informasi yang terbatas, sambil mengandalkan intuisi, kepekaan membaca situasi, serta kemampuan menangkap tanda-tanda peluang atau ancaman.

Keputusan yang cepat dan tepat diambil bukan semata karena data yang banyak, tetapi karena pemimpin mampu memahami konteks dan menilai arah perubahan yang sedang terjadi.


Strategi dalam Low-Data Decision Making: Pendekatan DIET

Untuk membantu pemimpin mengambil keputusan di tengah keterbatasan data, pendekatan DIET dapat menjadi panduan praktis. DIET mencakup empat langkah utama yang saling melengkapi:

  1. Define
    Pahami masalah dan situasi secara mendalam. Lihat akar persoalan dari berbagai sudut pandang agar keputusan yang diambil benar-benar menyentuh inti permasalahan.

  2. Integrate
    Gunakan data yang tersedia secara optimal. Kaitkan pola, sebab-akibat, serta hubungan antar-data untuk membangun gambaran besar yang lebih utuh.

  3. Explore
    Libatkan tim dan dorong mereka untuk meninjau masalah dari berbagai perspektif. Pendekatan kolaboratif akan membantu memunculkan ide-ide baru dan memperkaya alternatif solusi.

  4. Test
    Uji coba ide atau keputusan dalam skala kecil sebelum diterapkan secara menyeluruh. Langkah ini penting untuk menilai efektivitas dan memastikan keputusan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Pendekatan DIET membantu pemimpin tetap gesit dan rasional, meskipun harus bergerak dengan keterbatasan informasi.

Strategi Memimpin di Era VUCA

Untuk dapat bertahan dan unggul dalam dunia VUCA, seorang pemimpin perlu mengembangkan sejumlah kemampuan dan strategi kepemimpinan yang adaptif, di antaranya:

  1. Active Questioning
    Selain kemampuan mendengarkan secara aktif (active listening), pemimpin juga perlu melatih active questioning — kemampuan menggali pertanyaan yang tepat untuk memahami situasi secara lebih mendalam. Dengan bertanya “apa”, “siapa”, “di mana”, dan “bagaimana”, pemimpin dapat menemukan informasi baru serta memperluas pemahaman terhadap konteks yang sedang dihadapi.

  2. Mengenali Exceptional Information
    Informasi yang tampak menyimpang dari pola umum sering kali menjadi petunjuk penting terhadap peluang besar atau ancaman tersembunyi. Pemimpin yang tanggap terhadap sinyal-sinyal semacam ini akan mampu membuat keputusan yang lebih cepat dan akurat di tengah ketidakpastian.

  3. Melatih Diri Menjadi Perencana yang Adaptif
    Fokus utama seorang pemimpin di era VUCA bukanlah menciptakan rencana yang sempurna, tetapi kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat. Melatih diri agar lincah menyesuaikan strategi lebih penting daripada membuat rencana yang kaku. Fleksibilitas menjadi kunci utama dalam menghadapi dinamika yang tidak menentu.


Kesimpulan

Era VUCA menuntut pemimpin untuk tanggap terhadap perubahan cepat, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas yang melingkupi setiap aspek kehidupan organisasi. Keputusan tetap dapat diambil secara tepat meskipun data terbatas, selama pemimpin mampu mengandalkan kepekaan dalam membaca situasi dan menerapkan strategi yang tepat, seperti pendekatan DIET.

Pemimpin yang sukses di era ini adalah mereka yang peka terhadap perubahan, aktif menggali informasi, serta mampu beradaptasi dengan cepat melalui strategi yang fleksibel dan responsif terhadap situasi yang terus berkembang. Dengan demikian, kepemimpinan di tengah VUCA bukan sekadar soal kontrol, melainkan soal kepekaan, keberanian, dan kemampuan menavigasi ketidakpastian untuk membawa organisasi menuju masa depan yang lebih tangguh dan berdaya saing.

Jawab Tantangan Ketersediaan Air, UGM Hadirkan Embung Watu Macan di Blora Jawa Tengah

Kegiatansdgs Jumat, 26 September 2025

Pada 25 September 2025, Universitas Gadjah Mada bersama Pertamina Foundation meresmikan Embung Watu Macan di Desa Megeri, Kradenan, Blora, Jawa Tengah. Embung Watu Macan merupakan hasil kolaborasi antara UGM dan Pertamina Foundation untuk pengelolaan sumber daya air berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat desa di lahan kritis. Selain sebagai infrastruktur air, embung ini juga menjadi wahana bagi UGM dalam menjalankan fungsi riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Blora, H. Arief Rohman, S.IP., M.Si.; Bupati Ngawi, H. Ony Anwar Harsono, S.T., M.H.; Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Komjen Pol (Purn) Dr. Drs. Mochamad Iriawan, S.H., M.M., M.H.; Presiden Direktur Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari; dan Direktur Operasi Pertamina Foundation, Gusman Adiwardhana. Dari Universitas Gadjah Mada, turut hadir Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi; Dekan Fakultas Kehutanan; Direktur Pengabdian kepada Masyarakat; serta Direktur KHDTK.

Dalam kegiatan ini, turut dilakukan penyerahan buku berjudul Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan Berkelanjutan: Pengalaman dan Refleksi Bekerja Bersama Masyarakat di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Blora–Ngawi dari UGM kepada Pertamina. Kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan keberlanjutan program.

Sebagai simbol peresmian, dilakukan penandatanganan prasasti oleh Bupati Blora dan Komisaris Utama Pertamina, beserta Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM yang memberikan paraf mewakili Rektor UGM sebagai bentuk representasi institusional.

UGM berkomitmen mendampingi keberlanjutan fungsi embung, baik teknis maupun sosial, sebagai dukungan terhadap Asta Cita Pemerintah, Tri Dharma Perguruan Tinggi, dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Embung diharapkan memberi manfaat nyata bagi ketersediaan air, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat, baik untuk masa kini maupun masa depan.

Dokumentasi kegiatan.

 

Hari Tani Nasional: Dari Lahan Pertanian ke Ketahanan Pangan

Kajian Rabu, 24 September 2025

Diperingati setiap 24 September sejak tahun 1960, Hari Tani Nasional bertepatan dengan lahirnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA)  tonggak sejarah dalam perjuangan mewujudkan keadilan agraria di Indonesia.
Momentum ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan tanah yang adil dan berkelanjutan, serta menegaskan peran sentral petani dan sektor pertanian dalam menopang ketahanan pangan dan kedaulatan bangsa.

Permasalahan Aktual Sektor Pertanian

Meskipun menjadi tulang punggung kehidupan dan ekonomi nasional, sektor pertanian Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius:

Kesejahteraan Petani yang Rendah

Pendapatan petani masih belum sebanding dengan kontribusinya dalam menjaga ketahanan pangan nasional. 

Alih Fungsi Lahan

Lahan pertanian produktif terus menyusut akibat konversi menjadi kawasan industri, permukiman, dan infrastruktur.

Perubahan Iklim

Cuaca ekstrem, banjir, dan kekeringan menyebabkan penurunan produktivitas serta risiko gagal panen.

Krisis Regenerasi Petani

Semakin sedikit generasi muda yang tertarik bekerja di sektor pertanian, sehingga regenerasi petani menjadi tantangan besar ke depan.

Jika tidak segera diatasi, masalah-masalah ini berpotensi mengganggu ketahanan pangan nasional sekaligus melemahkan kemandirian pangan Indonesia.

Pertanian dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)

Isu pertanian nasional memiliki keterkaitan erat dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals / SDGs).
Penguatan sektor pertanian berarti mempercepat tercapainya tujuan global berikut:

  • SDG 1 – Tanpa Kemiskinan: meningkatkan kesejahteraan petani.

  • SDG 2 – Tanpa Kelaparan: menjamin ketersediaan dan akses pangan bagi semua.

  • SDG 12 – Produksi & Konsumsi Berkelanjutan: membangun sistem pangan yang adil dan efisien.

  • SDG 13 – Aksi Iklim: memperkuat adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim.

  • SDG 15 – Ekosistem Daratan: menjaga kelestarian tanah dan lahan pertanian.

Keterkaitan ini menegaskan bahwa memperkuat pertanian nasional sejalan dengan upaya mencapai pembangunan berkelanjutan menjadikan sektor ini kunci bagi masa depan yang tangguh, adil, dan lestari.

Kontribusi Nyata Universitas Gadjah Mada

Sebagai universitas kerakyatan, Universitas Gadjah Mada (UGM) berkomitmen mendukung transformasi pertanian Indonesia melalui riset, inovasi, dan pendampingan masyarakat.

  • Pengembangan Varietas Padi Gamagora

Riset unggulan UGM menghasilkan varietas padi Gamagora, yang tahan penyakit, adaptif terhadap perubahan iklim, hemat air dan pupuk, cepat panen, serta berproduksi tinggi.
Varietas ini menjadi simbol inovasi untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

  • Smart Agri Plant Factory

Inovasi Plant Factory UGM mengintegrasikan teknologi hidroponik, otomatisasi, dan kecerdasan buatan untuk menciptakan sistem produksi pangan yang efisien, ramah lingkungan, dan tangguh terhadap perubahan iklim.

  •  Diseminasi Pengetahuan dan Literasi

UGM secara aktif mendampingi petani melalui pelatihan, penyuluhan iklim, serta penerapan teknologi pertanian sederhana.
Langkah ini memperkuat kapasitas adaptasi dan ketahanan usaha tani di berbagai daerah.

  •  Penguatan Kelembagaan dan Kolaborasi

UGM memperkuat kelompok tani dan kelompok wanita tani (KWT) dengan peningkatan kapasitas organisasi, perluasan jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan, serta penerapan hasil riset langsung di masyarakat desa untuk mewujudkan pertanian yang mandiri dan berkelanjutan.

Penulis: BMS UGM

Gambar: BMS UGM

Source:

https://tp.ugm.ac.id/id/rilis-berita/2024/6552-pertanian-masa-depan-teknik-pertanian-ugm-luncurkan-smart-agri-plant-factory-inovasi-pertanian-modern-berkelanjutan.html https://ugm.ac.id/id/berita/ftp-ugm-beri-pendampingan-kelompok-wanita-tani-karanganyar/

UGM & IOJI Resmi Jalin Kolaborasi untuk Perlindungan Laut dan Lingkungan

Kegiatansdgs Senin, 22 September 2025

Jakarta, 19 September 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI) secara resmi menjalin kolaborasi strategis dalam upaya memperkuat Tridharma Perguruan Tinggi serta mendorong perlindungan lingkungan hidup dan ekosistem laut Indonesia.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara kedua institusi dilaksanakan di Jakarta pada 19 September 2025. Acara ini menandai langkah penting dalam memperkuat peran perguruan tinggi dan lembaga kebijakan publik dalam menghadapi tantangan lingkungan global, khususnya di era Antroposen.

Acara penandatanganan turut dihadiri oleh jajaran pimpinan dan pendiri IOJI, termasuk CEO IOJI Dr. Mas Achmad Santosa, S.H., LL.M., serta Dr. Hasan Wirajuda, Co-founder IOJI sekaligus Menteri Luar Negeri RI periode 2001–2009. Hadir pula para co-founder IOJI lainnya: Laode M. Syarif, Ph.D.; Andreas Aditya Salim, S.H., LL.M.; Stephanie Juwana, S.H., LL.M.; Aldilla Stephanie, S.H., LL.M.; dan Januar Dwi Putra, S.H., LL.M.

Dari pihak Universitas Gadjah Mada, kegiatan ini dihadiri oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, Ph.D., Dekan Fakultas Hukum, Dahliana Hasan, S.H., M.Tax., Ph.D., serta Kepala Biro Manajemen Strategis, Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D.

Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dilakukan oleh Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dan CEO IOJI, Dr. Mas Achmad Santosa, sebagai simbol komitmen bersama dalam memperkuat pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat melalui kolaborasi riset, pertukaran akademik, dan pengembangan kebijakan berbasis bukti untuk perlindungan ekosistem laut dan lingkungan hidup.

Sebagai tindak lanjut konkret dari MoU tersebut, kedua institusi juga menandatangani dua Perjanjian Kerja Sama (PKS).

  • PKS pertama ditandatangani oleh Dekan Fakultas Hukum UGM, Dahliana Hasan, S.H., M.Tax., Ph.D., dan CEO IOJI, Dr. Mas Achmad Santosa, dengan fokus pada pengembangan konsep hukum di era Antroposen melalui pendekatan inovatif “Law in the Anthropocene”. Pendekatan ini menekankan pentingnya hukum dalam merespons perubahan sosial dan ekologis akibat aktivitas manusia yang masif terhadap bumi.

  • PKS kedua ditandatangani oleh Kepala Biro Manajemen Strategis UGM, Dr. Wirastuti Widyatmanti, S.Si., Ph.D., bersama CEO IOJI, yang berfokus pada pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi untuk mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan.

Melalui kerja sama ini, UGM dan IOJI berkomitmen untuk memperkuat kapasitas akademik, penelitian, dan kebijakan nasional dalam menjawab berbagai tantangan lingkungan hidup di era modern. Kolaborasi ini juga diharapkan dapat membuka peluang strategis bagi perluasan jejaring internasional, sekaligus meningkatkan akses terhadap berbagai skema pendanaan global yang berfokus pada isu lingkungan, perubahan iklim, serta tata kelola laut yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Sinergi antara UGM dan IOJI menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas sektor antara dunia akademik, pembuat kebijakan, dan masyarakat sipil memegang peranan penting dalam menjaga masa depan bumi dan memastikan keadilan ekologis bagi generasi mendatang.

Penulis: BMS UGM

Foto: UGM Jakarta & IOJI

Dokumentasi kegiatan.

Sustainable Future Leader Series: Penguatan Peran Strategis UGM dalam Pencapaian Ketahanan Air Global

Kegiatansdgs Sabtu, 16 Agustus 2025

Yogyakarta, 15 Agustus 2025 — Universitas Gadjah Mada (UGM) terus menunjukkan komitmennya dalam menjawab tantangan global terkait sumber daya air melalui kegiatan Sustainable Future Leader Series bertema “Penguatan Peran Strategis UGM dalam Pencapaian Ketahanan Air Global.”

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Gugus Tugas Water Security bekerja sama dengan Biro Manajemen Strategis (BMS) UGM, dan dihadiri oleh para pakar, peneliti, serta dosen lintas disiplin ilmu yang berfokus pada isu sumber daya air. Diskusi ini menjadi wadah penting bagi UGM untuk mempertegas peran strategisnya dalam membangun ketahanan air, baik di tingkat nasional maupun global.

Ketahanan Air sebagai Isu Strategis Global

Dalam sambutannya, Rektor Universitas Gadjah Mada, Prof. Ova Emilia, Ph.D., menekankan bahwa ketahanan air bukan hanya persoalan teknis semata, tetapi juga persoalan strategis yang menyangkut keberlanjutan hidup manusia dan kesejahteraan global.

“Ketahanan air bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga persoalan strategis. UGM telah menunjukkan keseriusannya dalam memperkuat peran di tingkat global melalui pembentukan task force sebagai tindak lanjut dari World Water Forum ke-10 di Bali,”

— Prof. Ova Emilia, Ph.D. (Rektor Universitas Gadjah Mada)

Senada dengan itu, Prof. Dr. Ir. Joko Sujono, M.Eng., Guru Besar UGM di bidang Sumber Daya Air dan Hidrologi, menegaskan bahwa Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan serius dalam pengelolaan sumber daya air, mulai dari krisis ketersediaan air, distribusi yang tidak merata, hingga penurunan kualitas air dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

“Indonesia menghadapi berbagai tantangan sumber daya air: krisis air, distribusi tidak merata, isu kualitas, dan bencana. UGM telah berkontribusi melalui beragam penelitian dan pengabdian masyarakat, termasuk KKN-PPM,”

— Prof. Dr. Ir. Joko Sujono, M.Eng.

Tantangan Global dan Ancaman Krisis Air

Krisis air menjadi salah satu isu lingkungan paling mendesak di dunia. Saat ini, 2,2 miliar orang di dunia tidak memiliki akses terhadap air minum yang aman, dan 3,5 miliar orang belum mendapatkan sanitasi layak. Tantangan ini sering disebut sebagai fenomena “too much, too little, too polluted” air yang terlalu banyak (banjir), terlalu sedikit (kekeringan), dan terlalu tercemar.

Menurut Retno Marsudi, Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, kondisi global menunjukkan tren yang mengkhawatirkan: pada tahun 2040, sekitar 40% populasi dunia terancam kekurangan air. Di Indonesia sendiri, kebutuhan air diproyeksikan meningkat hingga 31% pada tahun 2040, yang dapat mengancam pencapaian target Indonesia Emas 2045 jika tidak segera diantisipasi.

Peran Strategis UGM: Inovasi, Regenerasi, dan Kolaborasi

Dalam menjawab tantangan tersebut, UGM berkomitmen memperkuat kontribusinya melalui dua jalur utama:

  1. Inovasi teknologi hemat air dan berbasis alam, seperti pengembangan sistem daur ulang air, teknologi filter air sederhana, irigasi efisien, serta pembelajaran dari praktik-praktik tradisional seperti Subak Bali yang telah terbukti menjaga keseimbangan ekologi dan sosial.

  2. Regenerasi para pakar dan ahli lintas disiplin di bidang air, guna memperkuat kapasitas akademik dan memastikan keberlanjutan kontribusi Indonesia terhadap solusi ketahanan air dunia.

Sesi Diskusi: Perspektif Multidisiplin UGM untuk Ketahanan Air

Dalam sesi diskusi, para dosen dan peneliti UGM dari berbagai fakultas menyampaikan pandangan mereka tentang strategi membangun ketahanan air nasional dan global.

Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D., IPU, ASEAN.Eng., menyoroti pentingnya riset dan pendidikan tinggi dalam memperkuat sumber daya manusia unggul di bidang air.

“UGM mengembangkan riset dan pendidikan bidang sumber daya air, dari teknologi tepat guna hingga program magister, untuk mempercepat penyiapan SDM unggul. Upaya ini mendukung ketahanan air global dan memperkuat peran negara-negara Global South dalam menghadapi tantangan air, pangan, dan iklim,”

— Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC, Ph.D.

Sementara itu, Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro, Circ&Med, AIFM, menekankan hubungan erat antara ketahanan air dan kesehatan manusia.

“Ketahanan air berhubungan langsung dengan kesehatan, karena keseimbangan cairan tubuh sangat vital bagi organ, sehingga diperlukan kontrol penggunaan air, pengelolaan air bersih, dan pemanfaatan teknologi desalinasi untuk keberlanjutan,”

— Dr. dr. Zaenal Muttaqien Sofro

Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono, IPM, ASEAN Eng., menambahkan bahwa partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci keberhasilan dalam menjaga ketahanan air.

“Ketahanan air hanya bisa dicapai jika seluruh masyarakat terlibat aktif mengatasi masalah air melalui gerakan bersama, misalnya melalui gerakan memanen hujan dan gerakan menjaga sungai,”

— Prof. Dr.-Ing. Ir. Agus Maryono

Dari perspektif tata ruang, Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono, MUP., M.Sc., Ph.D., menyoroti pentingnya perencanaan kota yang harmonis.

“Pada 2050, 70% penduduk dunia akan tinggal di kota sehingga kebutuhan air meningkat pesat. Karena itu, penataan ruang yang harmonis antara hulu dan hilir menjadi kunci menjaga ketahanan air,”

— Prof. Ir. Bambang Hari Wibisono

Sementara itu, Prof. Dr. Drs. Eko Haryono, M.Si., menyoroti peran UGM dalam konservasi kawasan karst sebagai sumber air alami.

“UGM berperan dalam konservasi karst, termasuk mengusulkan akuifer Gunung Sewu sebagai warisan penting dunia. Dukungan pemerintah serta UNESCO dibutuhkan untuk memperkuat konservasi karst sebagai aspek penting dalam ketahanan air,”

— Prof. Dr. Drs. Eko Haryono

Komitmen UGM untuk Masa Depan Air yang Berkelanjutan

Melalui kegiatan ini, UGM menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat peran strategis dalam membangun ketahanan air melalui inovasi teknologi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, dan kolaborasi lintas sektor, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.

Diskusi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam menghadirkan solusi aplikatif dan kolaboratif guna menjaga keberlanjutan sumber daya air demi kesejahteraan masyarakat dan kelangsungan hidup generasi mendatang.

Penulis: BMS UGM

Foto: BMS UGM

Dokumentasi kegiatan.

KKN dalam Pandangan José Ramos-Horta: Ruang Tumbuh Pemimpin dan Perubahan Sosial

Kegiatan Jumat, 1 Agustus 2025

KKN dalam Pandangan José Ramos-Horta: Ruang Tumbuh Pemimpin dan Perubahan Sosial
Gagasan dan Harapan Peraih Nobel Perdamaian untuk Generasi Muda Indonesia

 

Menurut Presiden José Ramos-Horta, peraih Nobel Perdamaian, perdamaian sejati bukan sekadar ketiadaan perang, melainkan perdamaian positif yang tumbuh dari rumah, sekolah, dan komunitas. Ia menegaskan bahwa perdamaian yang langgeng harus berakar pada rakyat sebagai pusat kebijakan, dengan menjunjung tinggi inklusivitas, keadilan hukum, serta perlindungan konstitusional. Selain itu, penghargaan terhadap keberagaman budaya, agama, dan bahasa, pemberdayaan komunitas lokal, pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, serta peningkatan peran dan kepemimpinan perempuan merupakan kunci dalam mewujudkan perdamaian berkelanjutan.

Bagi Ramos-Horta, kepemimpinan inspiratif adalah kemampuan membangkitkan potensi orang lain dan menggerakkan mereka menuju masa depan yang adil, inklusif, berkelanjutan, dan damai. Kepemimpinan seperti ini berpusat pada komunitas: mendengarkan kebutuhan mereka, menghargai kearifan lokal, serta memberdayakan masyarakat untuk memimpin perubahan. Nilai-nilai utama kepemimpinan inspiratif meliputi empati, ketekunan dan ketahanan, integritas, serta kemampuan menyampaikan visi. Ramos-Horta meyakini bahwa perubahan sosial sejati akan muncul ketika komunitas lokal dan institusi akademik bekerja sama, berdialog, dan menciptakan solusi bersama.

Berdasarkan pengalamannya dalam memimpin Timor Leste, Ramos-Horta menekankan tiga pilar penting perubahan sosial yaitu pendidikan, kewirausahaan sosial, dan perdamaian.
Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi sarana membebaskan pikiran dan kesadaran. Pengetahuan akademik harus keluar dari ruang kelas dan menjadi inkubator bagi usaha mikro dan kecil, bisnis keluarga, serta koperasi yang dapat berkembang di desa, kampung, ladang, dan pasar.
Kewirausahaan sosial dipandang sebagai alat untuk mengubah tantangan sosial menjadi peluang berkelanjutan. Karena itu, pemuda harus dilibatkan sebagai pusat kebijakan melalui berbagai program kepemimpinan.
Sementara itu, pilar perdamaian menjadi fondasi utama bagi pembangunan. Ramos-Horta menegaskan bahwa tanpa perdamaian, tidak akan ada pembangunan; dan rekonsiliasi hanya dapat terwujud melalui keberanian politik, dialog, serta rekonstruksi jaringan sosial.

Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi contoh nyata dari pendidikan yang berpadu dengan pemberdayaan masyarakat. Program ini menciptakan ruang pembelajaran langsung bagi mahasiswa untuk menerapkan nilai-nilai kepemimpinan inspiratif dan transformasi sosial. Melalui KKN-PPM, mahasiswa belajar langsung dari komunitas, mendengarkan kebutuhan mereka, memahami kekuatan lokal, dan turut serta dalam proses perubahan sosial yang berkelanjutan.

Ramos-Horta menilai inisiatif UGM melalui KKN-PPM sebagai langkah yang sangat menginspirasi. Ia menyebut bahwa model ini layak diakui dan direplikasi secara global, karena menunjukkan bagaimana universitas dapat memimpin transformasi sosial.

“Jalani KKN dengan sepenuh hati. Kehadiran mahasiswa di masyarakat, dengan mendengar dan bertindak, sangat berharga karena setiap tindakan yang dilakukan akan menciptakan dampak yang abadi. Senantiasa terapkan prinsip kepemimpinan inspiratif: empati, ketahanan, integritas, dan visi dalam dalam setiap tindakan,” pesan Presiden José Ramos-Horta.

Dokumentasi selengkapnya.

Merawat Alam Merawat Masa Depan

Kajian Senin, 28 Juli 2025

World Nature Conservation Day atau Hari Konservasi Alam Sedunia diperingati setiap 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga sumber daya alam seperti hutan, air, tanah, dan satwa liar.

Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), konservasi adalah kunci keberlanjutan kehidupan karena 100% aktivitas manusia bergantung pada alam mulai dari makanan, air bersih, hingga udara yang kita hirup.Namun eksploitasi berlebihan, pencemaran, dan alih fungsi lahan telah menyebabkan kerusakan yang serius.

Konservasi alam harus menjadi prioritas karena kondisi bumi semakin mengkhawatirkan. Setiap tahun, sekitar 15 miliar pohon ditebang, menyebabkan hilangnya habitat alami dan menurunkan kemampuan bumi dalam menyerap karbon. Akibatnya, lebih dari 1 juta spesies kini terancam punah (IPBES, 2019), menandakan krisis keanekaragaman hayati yang serius. Di saat yang sama, suhu bumi telah meningkat lebih dari 1,1°C sejak era pra-industri (IPCC, 2023), memperburuk dampak perubahan iklim seperti kekeringan, banjir, dan cuaca ekstrem. Tak hanya itu, lebih dari 8 juta ton plastik mencemari lautan setiap tahun (UNESCO, 2022), mengancam ekosistem laut dan rantai makanan manusia. Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa konservasi alam bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mendesak untuk memastikan keberlanjutan kehidupan di bumi.

Universitas Gadjah Mada (UGM) berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan dan pengembangan teknologi berkelanjutan. Melalui pengelolaan Hutan Wanagama di Gunungkidul, UGM menjadikannya sebagai laboratorium alam untuk kegiatan konservasi, pendidikan ekologi, serta rehabilitasi lahan kritis. Dalam bidang inovasi teknologi, UGM telah mengembangkan GATe (Gadjahmada Airport Transporter Electric), kendaraan listrik yang dirancang untuk mendukung transportasi ramah lingkungan di kawasan bandara. Komitmen terhadap energi bersih juga diwujudkan melalui pemanfaatan sistem fotovoltaik (PLTS) pada sejumlah gedung, seperti Fakultas Teknik dan kompleks pertanian (Agrokompleks), guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Selain itu, melalui UGM Green Campus Initiative, universitas ini menerapkan berbagai langkah nyata seperti efisiensi energi, konservasi air, pemilahan sampah, serta pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, menjadikan UGM sebagai salah satu pionir dalam praktik keberlanjutan di lingkungan pendidikan tinggi Indonesia.

Setiap orang dapat berkontribusi dalam menjaga kelestarian bumi melalui langkah-langkah kecil yang sederhana namun berdampak besar. Kita bisa mulai dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dengan menggunakan botol minum, tas kain, dan tempat makan sendiri, serta biasakan memilah sampah organik dan anorganik untuk mendukung sistem daur ulang. Dalam hal mobilitas, pilih berjalan kaki, bersepeda, atau menggunakan transportasi umum, dan jika memungkinkan, manfaatkan kendaraan listrik seperti bus kampus yang lebih ramah lingkungan. Saat berbelanja, belilah seperlunya dan hindari produk fast fashion atau barang sekali pakai, karena setiap produk memiliki jejak karbon dan limbah yang memengaruhi bumi. Selain itu, kita dapat memperluas dampak dengan mengikuti seminar, workshop, atau kelas terbuka tentang lingkungan, lalu membagikan pengetahuan tersebut melalui media sosial, komunitas, atau keluarga. Dengan kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, kita turut membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Sudahkah kamu berkontribusi untuk bumi hari ini?

Penulis: BMS

Foto: BMS

Hari Mangrove Sedunia: Merawat Akar Kehidupan Pesisir

Kajian Sabtu, 26 Juli 2025

Sebagai sistem transisi antara daratan dan lautan, mangrove memainkan peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem bumi. Ia bukan sekadar barisan pohon di pesisir, melainkan benteng kehidupan yang menyediakan jasa lingkungan esensial bagi manusia dan keanekaragaman hayati.

Namun, di tengah meningkatnya tekanan antropogenik dan perubahan tata guna lahan, hutan mangrove terus menghadapi ancaman degradasi. Untuk itu, Hari Mangrove Sedunia, yang diperingati setiap 26 Juli, menjadi momen penting untuk menumbuhkan kesadaran global akan pentingnya perlindungan dan pengelolaan ekosistem pesisir secara berkelanjutan.

Peran Penting Mangrove bagi Kehidupan

1. Ketahanan Pangan
Mangrove merupakan habitat yang kaya akan keanekaragaman hayati dan menjadi sumber pangan bagi berbagai jenis hewan serta komunitas pesisir yang bergantung padanya untuk kehidupan sehari-hari.

2. Mitigasi Iklim
Ekosistem mangrove dikenal sebagai penyerap karbon (carbon sink) yang sangat efektif. Satu hektar hutan mangrove dapat menyimpan hingga 3.754 ton karbon, menjadikannya salah satu ekosistem paling penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

3. Pertahanan dari Bencana Alam
Mangrove berfungsi sebagai pelindung alami pesisir dari gelombang badai, tsunami, kenaikan permukaan laut, dan erosi. Sabuk mangrove sepanjang 500 meter bahkan mampu mengurangi tinggi gelombang hingga 50–99%, melindungi kehidupan dan infrastruktur di wilayah pesisir.

Ancaman terhadap Keberlanjutan Hutan Mangrove

  1. Alih Fungsi Lahan
    Konversi lahan untuk budidaya perairan, pembangunan infrastruktur, permukiman, dan pertanian terus menggerus luasan ekosistem mangrove.

  2. Pencemaran
    Aliran limbah dari sungai dan lautmulai dari polusi plastik hingga tumpahan minyak menghambat pertumbuhan mangrove dan mengancam keseimbangan ekosistem.

  3. Pembukaan Lahan Liar
    Aktivitas pembukaan lahan tanpa perencanaan dan pengelolaan yang memadai sering kali mengakibatkan kerusakan habitat alami mangrove.

  4. Eksploitasi Kayu
    Penebangan kayu mangrove untuk industri arang dan kebutuhan ekonomi lainnya menyebabkan degradasi ekologis jangka panjang.

Komitmen UGM terhadap Pelestarian Mangrove

Sebagai institusi pendidikan yang berkomitmen pada keberlanjutan dan mitigasi perubahan iklim, Universitas Gadjah Mada (UGM) aktif berkontribusi dalam pelestarian ekosistem mangrove melalui berbagai inisiatif nyata:

Penanaman Mangrove di Batam

UGM melaksanakan kegiatan penanaman mangrove di Kampung Tua Bakau Serip, Kota Batam, Kepulauan Riau, sebagai bagian dari program KKN-PPM UGM. Inisiatif ini mengajak mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Pelatihan Pencatatan Stok Karbon Mangrove

UGM juga melatih 80 peneliti dan petugas pencatatan stok karbon dari berbagai daerah di Indonesia. Pelatihan ini membekali mereka dengan keahlian teknis dalam mengukur dan memantau serapan karbon mangrove, guna mendukung kebijakan nasional mitigasi iklim berbasis data.

Aksi Nyata UKM UGM di Baros

Melalui kolaborasi antara UKM Renang UGM (SIGMA) dan Organisasi Peradilan Semu Fakultas Hukum UGM (SPARTA UGM), kegiatan Bakti Sosial di Kawasan Mangrove Baros, Bantul menjadi wujud nyata kepedulian sivitas akademika terhadap lingkungan. Kegiatan yang digelar pada 17 Mei 2025 ini menghadirkan dua agenda utama: seminar lingkungan dan penanaman mangrove.

Menumbuhkan Harapan, Menjaga Kehidupan

Melalui edukasi, aksi nyata, dan kolaborasi lintas disiplin, UGM terus berupaya membangun kesadaran akan pentingnya menjaga mangrove sebagai warisan alam yang menopang kehidupan. Karena menjaga mangrove berarti menjaga masa depan pesisir, iklim, dan generasi yang akan datang.

Penulis: BMS UGM

Gambar: BMS UGM

Source: 

http://unesco.org/en/days/mangrove-ecosystem-conservation

https://www.kompas.id/artikel/plastik-limbah-dan-alih-fungsi-lahan-masih-jadi-ancaman-mangrove

https://ditmawa.ugm.ac.id/2025/05/ukm-renang-ugm-hijaukan-mangrove-baros-aksi-nyata-peduli-lingkungan/

https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-latih-petugas-pencatatan-stok-karbon-mangrove-di-indonesia/

https://ugm.ac.id/id/berita/kkn-ppm-ugm-lakukan-penanaman-mangrove-di-kampung-tua-bakau-serip-kota-batam-kepulauan-riau/

1234

Recent Posts

  • Hari Perempuan Sedunia: Perempuan Berdaya, Pendidikan Bermakna, Masa Depan Setara
  • UGM Membangun Balai Masjid sebagai Community Center di Desa Geudumbak Langkahan Aceh Utara
  • Kolaborasi Kuat, Kepemimpinan Hebat
  • Bersatu Bersama Kelola Sampah: Refleksi Hari Peduli Sampah Nasional
  • BMS Mendukung Kegiatan Seminar “Indonesia in a Connected Tropical–Polar World” dan peluncuran Tropical–Polar Interconnection Research Group

Recent Comments

Tidak ada komentar untuk ditampilkan.

Archives

  • Maret 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025
  • Februari 2025
  • Januari 2025
  • Oktober 2024

Categories

  • Campus Tour
  • Kajian
  • Kegiatan
  • sdgs
Universitas Gadjah Mada

Biro Manajemen Strategis
Universitas Gadjah Mada

Gedung Pusat UGM, Lantai 3 Sayap Barat, Bulaksumur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
Email : bms@ugm.ac.id
Whatsapp : 0851-1784-8115

© Universitas Gajah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY